Korona Gugat!

Terakota.id--Tulisan ini diawali dengan kehadiran Kiai Semar yang berbela sungkawa sedalam-dalamnya, atas wafatnya para pejuang kemanusiaan, para dokter dan tenaga medis yang tertular infeksi Korona.

Sedih rasanya, manakala membaca berita, hilangnya putra-putri terbaik bangsa itu, terkait dengan keterbatasan sarana prasarana medis, padahal mereka harus sigap dan bergerak cepat melawan virus. Sungguh, pengorbanan mereka tak sia-sia. Mereka pahlawan kemanusiaan.

Hari itu para Punakawan sedang di rumah saja. WFH. Work from home!

Dan mulai bergumamlah Gareng. Dia banyak mengandai-andai. Andai kita cepat mengantisipasi sedari awal. Atau andai peradaban kita telah sepenuhnya mampu mengandalkan kecerdasan buatan.

Dan suara gareng semakin lantang. Terkait dengan yang terakhir itu kita bisa saja bicara begini: baru saja kita asyik bicara tentang kecerdasan buatan, robotisasi, revolusi industri 4.0, dan semuanya tenggelam oleh Korona. Semua masih serba wacana. Dalam dunia nyata, yang ditulis oleh buku-buku, setengah fiksional, untuk tidak mengatakan prediksional. Orang jauh bicara 2030 bahkan 2045, tetapi luput bicara jangka dekat yang perlu segera dijawab: penemuan vaksin anti-Covid-19!

Lalu bicara lagi Gareng begini: kalau kecerdasan manusia dilipatgandakan oleh kecerdasan buatan, mengapa penggunaan peranti-peranti kecerdasan buatan itu terkesan minim, bahkan tekor liputan. Kenapa semua yang terinfeksi Covid-19 nyaris semua ditangani secara manual. Ke mana robot-robot cerdas itu? Belum ada beritanya. Kecuali robot-robot yang fungsinya masih serba terbatas.

Lalu kembali lagi dia ke yang awal: andai manusia mampu mengantisipasi semua ini sejak awal dan mencurahkan segala sumberdaya untuk menciptakan peranti-peranti kecerdasan buatan, termasuk peranti canggih yang menjaga keamanan para dokter dan tenaga kesehatan itu, maka tak akan seperti sekarang kisahnya.

Lalu, Bagong menyela angkat pertanyaan: mengapa sepertinya kita kembali ke zaman serba manual? Mengapa sepertinya kita kembali ke zaman keterbatasan? Seperti belum masuk ke zaman modern? Mengapa kecanggihan dunia kedokteran di masa kita, masih menemukan tantangan pandemik yang dahsyat seperti ini?

Lalu Petruk yang dari tadi mimiknya gelisah mencoba menjawab: karena selama ini, kita, para pemimpin dunia apalagi, banyak yang tidak melihat sebelumnya, perkembangan Covid-19 akan “nggegirisi” seperti ini. Sehingga wajar, manakala konsentrasi untuk memperhebat dunia kedokteran, terbatasi oleh semangat-semangat lain dalam politik, kekuasaan, ekonomi, bisnis, keuangan, demokrasi, ini, itu. Kajian-kajian tentang pandemi, hanyalah sepintas lalu saja di arena kepustakaan.

Lalu Petruk mencoba menjelaskan lagi: bahwa ini semua mencerminkan kegagalan neoliberal. Rujukannya Noam Chomsky. Sesungguhnya apa yang kita alami belakangan, konsekuensi belaka dari kegagalan neoliberal. Neoliberal tak semata sistem, tapi lebih dari itu ambisi. Agar ambisi tercurahkan, segala tatanan dilabrak. Segala keseimbangan alam, sosial, kemanusiaan, dikacaukan! Dan, lantas Korona hadir menggugat semuanya!

Bahkan Petruk sudah mulai sarkastik: ketika semua hanya mementingkan investasi, pertumbuhan, dengan mengesampingkan kualitas lingkungan, kebaikan alam, masa depan makhluk hidup dan kehidupan, maka jangan salahkah kalau Korona menggugat!

Kiai Semar menyimak itu semua. Dari mulutnya keluar kata lirih: Ckk, Ck, ck! Tapi dia ikut manggut-manggut pula. Lantas dia bicara: jadi ini semua karena Korona sedang menggugat?

Jelas sekali itu, kata Petruk. Dikatakannya, Korona sedang mengggugat kecongkakan dan ketidak-pedulian manusia, akan eksistensi kehidupan lain yang ada di alam semesta ini.

Bagong menyela, dia setuju dengan pendapat itu. Gareng bilang, agar kita, para manusia instrospeksi. Semar manggut-manggut. Tapi dia bilang, agar istilah menggugat diganti mengingatkan. Jadi, korona mengingatkan! Bukan korona menggugat!

Bagong interupsi, kalau mengingatkan terlalu netral, menggugat lebih seru! Lebih keras! Mengingatkan itu mencubit, menggugat itu mencambuk! Kita sedang berada di masa ketika makhluk super kecil ciptaan Tuhan mencambuk-cambuk kita! Jadi dia tetap merasa yang tepat ialah korona menggugat.

Kiai Semar, sebagai orang bijak setengah dewa setengah manusia dalam jagat pewayangan itu, bilang memang sentilan Tuhan via korona ini keras sekali. Tapi ujung-ujungnya ialah peringatan. Agar manusia instrospeksi total atas segala macam perilakunya yang merusak, menyimpang, melawan Sunatullah!

Bagong angkat bicara, bagaimana penjelasannya? Gareng menyahut, tak ada lagi perlu penjelasan! Petruk ikut bicara, semua sudah jelas! Suasana hening.

Kiai Semar angkat bicara, mari instrospeksi. Mari berdoa! Tetap eling dan waspada, tetap jaga jarak secara fisik! Patuhi petunjuk kesehatan dan langkah-langkah yang telah ditetapkan pemerintah! Jangan ngeyel! Ingin pada mau selamat semua tidak?*

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini