Korban Ganasnya Semeru, Dari Soe Hok Gie hingga Sahat M. Pasaribu

Terakota.id-Gunung Semeru mempunyai daya tarik yang luar biasa bagi para pendaki. Beragam pula karakteristiknya. Ada memang memiliki skill dan pengetahuan mendaki, dan banyak juga yang tidak dibekali skill dan pengetahun dalam mendaki gunung.

Sudah puluhan pendaki yang meninggal di gunung dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut ini. Puluhan lainnya mengalami luka-luka akibat kecelakaan dan sisanya hilang tak diketahui rimbanya.

Terakota.id merangkum data para korban sejak peristiwa meninggalnya aktivis mahasiswa tahun 60-an, yang sekaligus pendiri organisasi pecinta alam Universitas Indonesia, Soe Hok Gie. Pada 2013 lalu, di Pos Ranupani masih terlihat daftar korban yang mengalami insiden di Semeru sejak 1969.

Di papan tersebut tertulis Soe Hok Gie dan Idan Lubis meninggal dunia di puncak karena menghirup gas beracun. Plat untuk mengenang Soe Hok Gie dan Idan Lubis sempat tertanam di puncak Mahameru sebagai penanda. Namun, diturunkan petugas pada tahun 2012.

Selain nama dua aktivis tersebut, menyusul deretan nama-nama para korban. Terhitung ada 28 pendaki yang meninggal dunia, 3 pendaki tidak ditemukan/meninggal serta 23 pendaki mengalami luka-luka/selamat.

Data di atas termasuk peristiwa pada tahun 2000-an, tercatat ada dua pendaki yang meninggal dunia di Semeru, dan satu tahun berikutnya, 2001, seorang pendaki hilang di Semeru, dan tahun 2005 juga ada seorang pendaki yang meninggal. Dan Andika, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi korban meinggal ke 28. Ia ditemukan meninggal Juli 2009.

Saat Terakota.id mendaki gunung yang juga kerap disebut sebagai atap Pulau Jawa ini, di medio 2015 lalu, masih terdapat beberapa plat atau penanda mereka yang meninggal di gunung yang bagi orang dulu dianggap suci ini. Misalnya, di kawasan Ranukumbolo, ada beberapa penanda yang dibuat untuk mengenang mereka.

Baca juga :  Sejarah Samaan, Permukiman Tua di DAS Brantas

Selain di Ranukumbolo, beberapa penanda ini juga terdapat di kawasan Arcapadha yang berada di ketinggian sekira 2.900 m dpl. Di atas Arcapadha atau mendekati batas vegetasi terakhir Semeru, yang disebut kelik juga ada beberaa penanda untuk mengenang mereka yang menjadi korban ganasnya Semeru.

Pada tahun 2013, tepatnya 7 November 2013, Azis Fuadhi (21) warga Jalan Nimun Raya Nomor 87, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan dan Muhamad Rifki Perdana (20) Jalan A.S. Syafiyah RT 006/RW003, Cipayung, Jakarta Timur dilaporkan hilang. Keduanya ditemukan selamat meski mengalami luka-luka karena terjatuh di jurang Blank 75.

Jalur terjal menuju puncak Mahameru. (Foto: diambil tahun 2013/Hari Istiawan/Terakota)

Musibah kembali terjadi di akhir 2013. Endang Hidayat (53), diduga meninggal karena kelelahan. Pendakian Hidayat bersama 15 anggota rombongan termasuk anaknya ini belum sampai di kawasan Ranukumbolo ketika peristiwa ini terjadi.

Di tahun 2014, ada dua kejadian yang dialami para pendaki. Di bulan Juni Pendaki Aziz Aminudin dilaporkan hilang sejak tanggal 2 dan berhasil ditemukan Tim SAR gabungan pada tanggal 6 Juni. Aziz selamat dan ditemukan warga yang sedang mencari rumput di kawasan Tawon Songo, Kecamatan Pasrujambe, Kabupaten Lumajang.

Peristiwa tragis terjadi di bulan Oktober 2014. Pendaki asal Aceh, Achmad Fauzy (32), meninggal karena tertimpa longsoran batu ketika menapaki jalur berpasir menuju puncak Mahameru.

Peristiwa yang dialami mahasiswa S2 Universitas Gajah Mada (UGM) ini terjadi saat berada di sekitar Watu Gede atau berjarak sekira beberapa ratus 400 meter dari puncak Mahameru. Petugas mengevakuasi korban, Senin 3, November 2014 sore dan jenazah tiba di Ranupani keesokan harinya.

Kembali terjadi pada tahun 2015. Lima orang pendaki mengalami kecelakaan di bulan Juli dan Agustus. Satu di antaranya meninggal dunia, Dania Agustina Rahman, warga Jalan Arif Rahman Hakim, Komplek Perbata, Nomor 4, Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, Jawa Barat.

Baca juga :  Peninggalan Sejarah Ottoman-Turki di Kota Eger Hungaria
Danau Ranukumbolo yang menjadi salah satu tujuan para pendaki ke Semeru. (Foto: Diambil tahun 2015/Hari Istiawan/Terakota)

Di tahun 2016 ini, hingga menjelang penutupan jalur pendakian pada 4 Januari 2017, tercatat ada tiga pendaki yang meninggal dunia. Satu pendaki hilang, dan lima pendaki ditemukan selamat. Termasuk, tiga pendaki yang dilaporkan tersesat saat turun dari vegetasi terakhir Semeru, 2 Januari 2017.

Tiga pendaki yang meninggal adalah Ziman Arofik asal Pekalongan, Chandra Hasan, asal Cakung, Jakarta Timur, Sahat M Pasaribu. Ketiganya diduga meninggal dunia karena sakit. Mereka diduga dalam kondisi tidak sehat ketika mendaki Semeru.

Sedangkan pendaki yang dinyatakan hilang adalah pendaki asal Swiss, Lionel du Creux yang mendaki tanpa izin kepada petugas. Oleh tim SAR gabungan bahkan sampai diperpanjang dan belum membuahkan hasil. Dan, Lionel pun dinyatakan hilang.

Rentetan peristiwa panjang insiden di Semeru semestinya menjadi perhatian semua pihak untuk mengantisipasi agar kejadian serupa tidak terulang. Dibutuhkan kerjasama baik dari kesadaran pendaki untuk mempersiapkan segala sesuatunya sebelum mendaki maupun kesiapan pengelola kawasan untuk dalam menghadapi para pendaki yang kian beragam skill dan pengetahuan tentang pendakian. Semoga tahun depan tidak ada lagi insiden.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini