Mencicipi Kopi Toleransi di Kaki Gunung Semeru

kopi-toleransi-di-kaki-gunung-semeru
Petani kopi Sridonoretno mengolah kopi bersama-sama. Merawat toleransi. (Terakota/Abdul Malik).

Terakota.id—Mencicipi kopi toleransi bakal lebih nikmat dengan cerita merawat toleransi di lereng Gunung Semeru. Kopi toleransi produk petani kopi kawasan Sridonoretno, Dampit, Kabupaten Malang. Disebut kopi toleransi lantaran kopi diolah bersama-sama. Para petani juga berasal dari beragam latar belakang suku bangsa dan lintas agama.

Bagi petani kopi Sridonoretno akronim dari Desa Srimulyo, Desa Sukodono dan Desa Baturetno, kopi merupakan pemersatu.  Tak ada perbedaan golongan, agama, suku dan ras. Kopi diolah bersama dan maju bersama-sama. Warga Sridonoretno juga multi agama ada yang beragama Islam, Kristen, dan Katolik.

Tapi mereka bisa bersatu, mengolah kebun bersama-sama. Termasuk arisan di kebun dan dilanjutkan bergotong royong mengelola kebun kopi secara bergilir. Rutin sepekan dua kali. “Sebuah jalan kebersamaan. Toleransi menjadi spirit,” kata Ketua Koperasi Sridonoretno, Heryanto.

Kedai dibuat agar kesan ngopi di rumah sendiri. Santai, dan nyaman. Tak ada jarak antara pembeli dan peracik kopi. (Terakota/Balqis TC).

Heryanto menjerang air hingga mendidih. Bubuk kopi diseduh dengan air panas. Sesuai selera pengunjung, bisa menikmati kopi ditambah gula atau tanpa gula sama sekali. Atau ingin sensasi selain menikmati cascara alias kulit kopi. Cascara merupakan produk turunan kopi, cara menikmatinya tingga seduh dengan air panas. Hmm….nikmat dan sehat. Rasa cascara tak jauh berbeda dengan rasa kopi.

Lebih nikmat jika meminum kopi, cascara atau coffe blossom tea sembari menikmati pemandangan alam di kawasan Sridonoretno. Mampirlah ke rumah bambu Dusun Jengger, Desa Srimulyo. Dari sini, Anda bisa melihat hambaran hutan, kebun dan permukiman warga di sekitar Srimulyo.

Rumah bambu didesain Architecture Sans Frontieres Indonesia semua bahan baku dipilih di sekitar Srimulyo. Sedangkan pengerjaan dilakukan oleh pemuda dan tukang kayu setempat. Mulai proses pengawetan sampai pembangunan rumah bambu. Rumah bambu didesain mirip amplitheater, cocok untuk pertunjukan atau pertemuan warga.

Lokasi rumah bambu tepat di samping Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW). Sehingga juga cocok untuk kegiatan keagamaan. Sebagian besar warga beragama Islam namun bisa berdampingan dengan penduduk lain yang beragama Kristen dan Kat

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini