Kopi Sepoor, Rahasia Penjajah Belanda Kuat Melek

Para pegawai kolonial Belanda yang harus kembali ke negeri asalnya pun tidak bisa melupakan kenikmatan kopi buatan Kaspandi. Si Menir yang sejak awal jatuh cinta menyeruput kopi itu, menghadiahkan sebuah mesin penggiling kopi pada Kaspandi. Dia juga memberi sejumlah uang dan sebongkah koin bergambar kereta uap.

Terakota.id–Setiap hari, meja ruang kerja para pegawai administratif pemerintah Hindia Belanda di Pasuruan tersaji secangkir kopi panas. Mayoritas pegawai berdarah asli Belanda, kopi menjadi menu wajib mereka dalam menjalankan setiap aktivitas di kantor. Kopi yang dicecap tak sembarang kopi. Kopi itu hasil racikan  Kaspandi, penduduk asli Pasuruan, yang bekerja sebagai pelayan di kantor itu.

“Kaspandi, kopi apa yang kamu buatini,” Tanya seorang pejabat Hindia Belanda kepada Kaspandi. Kaspandi disergap perasaan takut, latas menjawab kopi yang diseduh berasal dari biji kopi yang dijual di pasar. Si Menir masih tak percaya.

“Kamu yakin? Kenapa rasanya enak? Saya suka,” ujar si Menir menjelaskan. Kaspandi menjelaskan, biji kopi itu memang berasal dan dijajakan di pasar rakyat setempat.Tapi, kopi berjenis robusta khas wilayah Jember. Kaspandi yang memilih dan memilah sendiri biji kopi yang akan diolah.

Pengunjung bercengkrama menikmati kopi Kaspandi di kopi sepoor. (Terakota/Fajar Ariffandhi).

Si Menir dan para pegawai di kantor pemeritah Hindia ketagihan dengan kopi racikan Kaspandi. Sedikitnya 15 cangkir kopi harus disediakan Kaspan setiap pagi dan sore di kantor itu. Lokasi kantor sekarang berada di sekitaran Jalan Soekarno-Hatta, kala itu sepanjang jalan berdiri berbagai kantor pemerintah kolonial Belanda yang mengatur urusan operasional, terutama perdagangan.

Mengingat kawasan tersebut dulunya adalah kawasan Pecinan, sebuah distrik perdagangan yang banyak dikelola warga beretnis Tionghoa seperti yang ditulis dalam buku  Menelusuri Asal Muasal Pasuruhan, 2001.

Kenikmatan kopi Kaspandi menyebar dari mulut kemulut. Hingga para pegawai kantor lainnya di sepanjang jalan Soekarno-Hatta sampai kantor kepolisisan di daerah Jalan Pahlawan penasaran untuk mencicipi kopi racikan Kaspandi. Setelah Pemerintah kolonial Belanda hengkang dari Kota Pasuruan pada sekitar tahun 1940-an, tapi kopi Kaspandi tetap masih memiliki penggemar setia.

Baca juga :  Sisi Romantis Ijen Boulevard Semakin Pudar

Para pegawai kolonial Belanda yang harus kembali ke negeri asalnya pun tidak bisa melupakan kenikmatan kopi buatan Kaspandi. Si Menir yang sejak awal jatuh cinta menyeruput kopi itu, menghadiahkan sebuah mesin penggiling kopi pada Kaspandi. Dia juga memberi sejumlah uang dan sebongkah koin bergambar kereta uap.

Si Menir meminta Kaspandi untuk memproduksi kopi dan menggunakan gambar kereta uaps eperti di koin pemberiannya sebagai logo produk kopi olahan Kaspandi. “Kenapa gambar sepoor, Tuan?,” tanya Kaspandi kepada sang Menir. Si Menir menjawab, “Kalau minum kopi buatanmu dijamin tidak akan ngantuk seperti sepoor yang tak pernah tidur.”

Cerita itu merupakan sekilas sejarah “Kopi Cap Sepoor” Kaspandi yang berdiri sejak 1955. Halim, 62 tahun salah seorang dari generasi ketiga pengelola Kopi Cap Sepoor menceritakannya ulang kisah itu kepada Terakota.id. Sembari mempraktikkan bayangannya tentang kilas kisah pendahulu, sang kakek Kaspandi.

Generasi Ketiga Penerus Racikan Kaspandi

Halim meracik dan menyiapkan kopi Kaspandi khas Pasuruan. (Terakota/Fajar Dwi Ariffandhi).

Terakota.id berkesempatan mendengar cerita Halim saat menyusuri Kota Pasuruan pekan lalu. Cerita Kaspandi disampaikan secara turun temurun, dia mengingat dengan baik karena sudah menjadi sejarah bersama seluruh anggota keluarga. Menurut Halim kisah kopi legendaris ini juga sudah menjadi sejarah yang menyatu dengan sejarah perkembangan Kota Pasuruan.

Demi menjaga marwah kopi khas Kaspandi, keluarga secara turun temurun tetap menjaga kualitas biji kopi yang dipilih. “Biji kopi yang kami gunakan itu kualitas ekspor yang diambil dari perkebunan kopi di Jember,”ujar pria beranak tiga memaparkan kepada Terakota.id.

Sejak zaman Kaspandi masih hidup, dia menjalin relasi yang kuat dengan salah seorang pemilik perkebunan biji kopi robusta di Jember. Hubungan mereka sudah seperti keluarga, dan ikatan itu juga turun kepada anak-anak mereka. “Kami sudah ada prinsip kekeluargaan dan saling percaya, biji kopi yang kami peroleh sampai sekarang tetap yang berkualitas ekspor” terang Halim.

Baca juga :  Eksotika Alat Pengolah Kopi

Kini untuk memenuhi kebutuhan pasar, Kopi Cap Sepoor selain memproduksi kopi robusta yang khas, juga memproduksi varian kopi dari jenis biji kopi lainnya. Diantaranya kopi arabika dan kopi lanang. Griya Kopi Kaspandi, di Jalan Soekarno-Hatta Nomor 67 Kota Pasuruan, menjadi rumah produksi Kopi Cap Sepoor yang legendaris. Halim menjelaskan  Griya Kopi Kaspandi tidak memproduksi kopi setiap hari.

Namun, dalam sekali produksi mereka bisa mengolah puluhan kwintal biji kopi menjadi bubuk kopi khas Cap Sepoor. “Dalam hal promosi, kami memang tidak gencar. Tapi, Kopi Cap Sepoor sudah memiliki penggemar setianya sendiri. Kopi ini sudah menjadi oleh-oleh khas yang dibawa warga asli Pasuruan mau pun wisatawan hingga keluar daerah dan luar negeri.” paparHalimsambilmenunjukkanproduk-produk Kopi Cap Sepoor.

Silahkan bawa pulang Kopi Cap Sepoor seberat 250 gram, cukup merogoh kocek sebesar Rp 15 ribu. Bagi Anda yang ada di Kota Pasuruan atau sekadar mampir melewati salah satu kota tua di wilayah Pantura ini. Hanya dengan Rp 3 ribu sudah bisa menyeruput secangkir Kopi Cap Sepoor di Jalan Pahlawan Nomor 39, salah satu toko di halaman Stadion Untung Suropati.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini