Konstanstin Biebl: Pohon Ajaib di Tanah Jawa

konstanstin-biebl-pohon-ajaib-di-tanah-jawa
Biebl di Candi Prambanan

Terakota.idKonstantin Biebl adalah salah satu penyair terkemuka di Cekoslovakia antara 1920 hingga 1930-an. Biebl, sang penyair eksotis yang sempat berkunjung ke tanah Jawa, tiba di negeri Hindia-Belanda pada awal Desember 1926. Tinggal di Batavia beberapa hari.

Dari Batavia ia melanjutkan perjalanan dengan kereta api ke Semarang dan tinggal di rumah seorang dokter Ceko bernama Alois Kselík. Bersama Alois Kselík, Biebl bisa berjalan-jalan ke beberapa tempat di Jawa, di antaranya ke Candi Prambanan, Candi Borobudur, Kota Solo, Kota Yogyakarta, dan Pegunungan Dieng. Ia juga sempat mengunjungi Surabaya dan Bondowoso.

Selama tinggal di Jawa Biebl mengambil banyak foto, sayang ada banyak foto yang juga sudah hilang. Beberapa di antaranya diterbitkan oleh Biebl pada tahun 1927 di surat kabar Domov a Svět (Halaman Rumah dan Dunia) seperti laporan foto dari Jawa.

Foto-foto Biebl lama tentang Jawa tersimpan di lembaga arsip sastra nasional Ceko (Památník Národního Písemnictví) sebanyak 131 buah. Sebagai seorang penyair yang juga fotografer, seringkali foto dan puisi menjelaskan tentang suatu objek dan perhatian yang sama, atau foto dan keterangannya. Hal tersebut tampak sebagaimana berikut.

Foto sawah dalam perjalanan Biebl dari Batavia ke Semarang (Foto: makalah Michala Tomanova).

Pemandangan terindah di Jawa adalah sawah. Ke atas gunung di tangga berundak-undak dengan permukaan air sawah berkilau seperti ratusan cermin yang di lereng gunung merefleksikan sinar matahari ribuan kali (1927).

Air terjun di Jawa, kemungkinan Telaga Menjer di Wonosobo. (Foto: makalah Michala Tomanova).

O Tuhan, memang inilah Pulau Jawa impianku, gemerisik air terjun menghijaukan tanah.

Buah pisang di Pulau Jawa (Foto: makalah Michala Tomanova).

(Catatan Biebl: “Tak seorangpun di Jawa yang belum melihat sisir pisang begini besar.“)

Borobudur

Tidakkah tiap-tiap U itu seakan-akan tempat-tempat di mana diletakkan satu patung Buddha?

Banyak foto Biebl yang dibawa dari Jawa tidak banyak disertai keterangan yang jelas dimana diambilnya. Beberapa foto yang bisa dikenali tempatnya, misalnya saat Biebl mengambil foto di Taman Sari Yogyakarta, Masjid Ageng dan Keraton Solo, kawah di Dieng, dan beberapa yang lain. Perjalanan ke Jawa saat itu tentu berbeda dengan sekarang, Biebl naik kapal dari Eropa yang ditempuh dalam waktu satu bulan, sedangkan sekarang dengan pesawat waktu tempuhnya hanya sekitar 20 jam.

Pada sekitar tahun 1920-an Indonesia masih bernama Hindia Belanda dan merupakan bangsa jajahan Belanda. Biebl adalah sebagian kecil dari orang Eropa yang memiliki perspektif lain tentang Jawa. Ia memakai setelan Eropa, tetapi tidak berkelakuan seperti penjajah yang sombong dan angkuh.

Ia berbicara dan begaul dengan orang-orang Jawa. Ia senang mengambil foto dengan pembantu Jawa. Tidak bersama orang-orang Eropa sebagaimana tampak dalam foto-foto, puisi, dan prosanya sebagai oleh-oleh perjalaanan dan pengembaraannya dari Pulau Jawa untuk disampaikan kepada publik di Ceko dan Eropa.

Kawah di Dieng plateu (Foto: Makalah Michala Tomanova).
Jembatan bambu di Sungai Serayu (Foto: Makalah Michala Tomanova).

Biebl tentu merasakan hawa panas dan lembabnya alam tropis yang bagi orang-orang Eropa, Jawa sangat berbeda. Eropa tidak mempunyai cecak atau tokek dan hujan deras seperti di tanah Jawa. Eropa tidak mempunyai pohon kelapa, nangka, tebu, coklat, atau karet. Biebl juga sering menulis tentang anggrek yang bisa tumbuh dimana saja, sedangkan di Ceko bunga anggrek hanya bisa tumbuh di dalam rumah saja.

Biebl adalah seorang yang rapuh hati sehingga dalam tulisan-tulisannya terlihat mengkritik sikap orang-orang Belanda kepada orang-orang Jawa. Sekarang Indonesia sudah merdeka dan orang-orang lokal menikmati kemerdekaan mereka. Seandainya Biebl menyaksikan Jawa saat ini, mungkin Biebl akan menuliskan karyanya dengan rasa bangga?

Dari foto-foto tersebut, Mika berusaha melihat tempat-tempat yang dahulu Biebl kunjungi dan melihat keadaan sekarang setelah hampir satu abad. Namun, hal yang tidak kalah penting, Biebl pada masa itu telah menunjukkan hal-ikhwal dan informasi tentang Jawa (yang pada masa itu masih sangat jauh) kepada orang-orang Ceko. Hal-ikhwal bagaimana keadaan Jawa pada kisaran awal abad ke-20.

Tentang keindahan alamnya, kehidupan orang-orangnya, dan kebudayaan tanah Jawa yang banyak perbedaan dengan Eropa. Hal ini bisa dilihat dari foto upacara Satu Suro di Keraton Solo, Karapan Sapi di Bondowoso (daerah tapal kuda di Jawa Timur yang lekat dengan budaya Madura), dan sabung ayam di beberapa tempat di Jawa.

Di Semarang Konstantin Biebl tinggal di rumah seorang dokter bernama Alois Kselík yang berasal dari Ceko dan telah tinggal Jawa sekitar 15 tahun. Selama tinggal di rumah Alois Kselík, ia sangat terpesona dengan binatang yang hidup di dalam rumah tersebut. Hal ini tampak dalam tulisan Biebl berikut.

“Di setiap belakang furniture saya menemukan cicak. Ini namanya kadal yang saya nanti menyukainya. Cicak sangat cepat ketika mereka menyergap mangsanya dan sangat lambat ketika merayap. Mungkin karena kesombongan wanita atau sifat genit dia melengkungkan badannya dengan semangat untuk menggoda seperti “Nyonya Cina“.

Saya mudah sekali jatuh cinta dengan cicak, tetapi itu tidak bertahan lama setelah saya menjadi teman sang tokek. Tokek adalah kadal yang lebih besar. Cicak sering terlihat sepanjang hari, tetapi tokek hanya pada malam hari. Dia terlihat bagaikan muadzin dari Arab yang adzan di kala waktu maghrib tiba, tokek berbunyi ketika matahari telah tenggelam, seperti di Tanah suci.

Pukul setengah tujuh sore di Jawa sudah gelap. Dia menyodok kepalanya di belakang gambar Ratu Belanda dan mengeluarkan bunyinya: To-kek! To-kek! Saya takut. Kadal yang bisa berbicara!“ (dalam První noc na Jávě atau Malam pertama di Jawa, Perjalanan ke Jawa, 1958).

Sementara itu, puisi Biebl yang sederhana, tetapi menunjukkan kekaguman yang natural atas tanah Jawa tampak dalam kekagumannya yang dilukiskan pada pohon yang dilihatnya ajaib dan buahnya yang terasa asing dan baru dijumpainya. Hal tersebut tampak dalam puisi berikut.

Di puncak gunung Merbabu

Ke langit menjolok pohon bambu dan tebu

atau melayang jiwa harimau mati

Ke langit menjolok pohon mangga, pisang dan manggis

rasanya seenak buah anggur

di kebun saya.

 

O Tuhan, memang inilah Pulau Jawa impianku,

gemerisik air terjun menghijaukan tanah.

Cukup memetik roti saja,

 dan pohon memberi susu segar.

 

Sebuah pohon adalah laksana tukang masak,

cukup memetik kue,

mengangkat dan mengangkutnya.

 

Cukup menggoyangkan kepala pohon pala

dan jatuhlah di pangkuanmu

hujan ringgit-ringgit emas.

Tetapi janganlah sekali-kali bertanya untuk siapa?

(Diterjemahkan oleh Miroslav Oplt)

(Penjelasan: Dalam sajak berisi kata roti Biebl memaksudkan nangka, karena diterjemahkan ke bahasa Ceko nangka adalah pohon roti – chlebovní).

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini