Konser Amal Penyambung Lidah Petani Kendeng

Terakota.id– Ratusan anak muda duduk bersila, meriung di depan kampus Universitas Gajayana Malang. Sebagian berdiri dan duduk di teras gedung utama kampus yang berada di kawasan Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang. Mereka merupakan para aktivias mahasiswa, pegiat lingkungan dan aktivias agrarian yang tengah menonton konser alam bertajuk “Nyanyian untuk Kendeng” di pelataran Universitas Gajayana Malang, Jum’at malam 24 Maret 2017.

Latar panggung konser amal berupa baliho dan spanduk yang digunakan aksi unjukrasa Aliansi Malang Peduli Kendeng sehari sebelum konser.  Aliansi berisi 30 elemen ini tergerak oleh peluh dan air mata para petani Kendeng Rembang, Jawa Tengah yang mengecor kaki di depan Istana Negara, Jakarta.

Gelombang dukungan terus mengalir setelah seorang petani Kendeng, Patmi, 48 tahun meninggal usai aksi mengecor kaki. Tragedi ini menyulut kobaran solidaritas. Lintas kota, lintas generasi, bahkan latar belakang kehidupan. Malang salah satunya. Puluhan elemen yang tergabung

Konser digelar  sebagai bentuk dukungan bagi para petani yang tengah memperjuangkan ruang hidupnya. Konser diisi oleh tujuh band Malang yang peduli lingkungan dan perjuangan kemanusiaan. Meliputi Wake Up Iris, Pagi Tadi, Socikoclogi, Rotan dan Kayu, LSMI, serta Nabilla-Odang.

Kegigihan petani kendeng, membuat mereka cepat tergerak dan merespon. Persiapan konser selama tiga hari, dadakan. Kampanye melalui musik diharapkan efektif untuk menggalang dukungan sekaligus menyampaikan pesan dukungan untuk petani Kendeng yang mempertahankan sawah dan ruang hidupnya. “Petani kendeng menyuarakan hak atas tanah, lingkungan dan ruang hidup,” kata salah penyelenggara konser dari Komunitas Kali Metro, Yogi Fachri Prayoga  kepada Terakota.id.

Konflik agraria tidak hanya terjadi di Kendeng. Tapi semakin bermunculan di beberapa daerah dan semua itu harus disuarakan. “Manusia harus ambil peran bersuara untuk tanahnya. Jika sesuai nurani dan kebenaran, sekecil apapun harus berani mengatakan, termasuk seniman. Ia punya peran penting dalam pergerakan, berkolaborasi dengan semua lini,” kata vokalis Wake Up Iris Vania Marisca.

Wake Up Iris merupakan band indie yang konsen terhadap lingkungan dan kemanusiaan. Band yang hanya diisi duo Vania Marisca dan Bie Paksi ini juga  merupakan duta Earth Hour. Tidak jarang mereka turut bersolidaritas untuk advokasi-advokasi lingkungan. Seperti yang mereka lakukan dalam Suar Malabar di Kota Malang.

Senada dengan Vania, vokalis band Pagi Tadi, Yulius Nugraha Putra menyebut masalah agraria-lingkungan di Kendeng juga terjadi  di daerah lain. Sehingga suara Kendeng sekaligus berpengaruh pada khalayak di daerah-daerah lain.

Vokalis band yang merampungkan seluruh album perdananya di Gunung Semeru ini berpesan, “Untuk pejuang-pejuang Kendeng, saya tidak bisa berpesan apa-apa. Kami dari Malang hanya bisa support. Yang jelas apa yang diperjuangkan bukan untuk mereka sendiri, tapi untuk masyarakat luas.”

Panitia menghitung sekitar 250 orang menghadiri konser. Mereka menonton para musisi yang menyajikan lagu bertemakan lingkungan, dan tema sosial serta musikalisasi puisi. Tak ketinggalan juga ada orasi budaya yang disampaikan oleh pegiat Komunitas Kalimetro.  Tiket bagi para penonton diminta untuk memberikan donasi minimal Rp 10 ribu. Di sela-sela konser sebuah kardus diedarkan untuk menampung donasi penonyon. “Terkumpul dana Rp 1,5 juta dari konser malam ini,” kata Yogi Fachri Prayoga.

Acara ini merupakan salah satu bagian dari rangkaian acara yang diagendakan Aliansi Malang Peduli Kendeng. Ada aksi solidaritas, diskusi dan kajian di beberapa kampus, penggalangan dana di kedai komunitas, juga bakal ada pagelaran sastra ekopuitika. “Kebetulan untuk konser ini diadakan oleh Kali Metro yang telah rutin setiap jum’at ada Akustikan Pinggir Kali (Akupili),” katanya.

Beruntung banyak yang memberikan dukungan dari aliansi, LSMI, ekspedisi 21, dan banyak lagi. Band pendukung diminta dukungan secara mendadak.

Rembang Melawan

Aksi cor kaki Petani Kendeng kali ini bukanlah kali pertama mereka lakukan. Sebelumnya, pada 12 April 2016, sembilan perempuan atau srikandi mengecor kaki di depan Istana Negara.  Hasilnya, Presiden Joko Widodo menerima para petani Kendeng dan memerintahkan Kantor Staf Presiden (KSP) bersama Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) membuat Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS). Serta meminta penundaan semua izin tambang di Pegunungan Kendeng. Tetapi, pada Februari 2017, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, justru abai dengan membuat addendum AMDAL dan mengeluarkan ijin baru.

Padahal, berdasarkan amar putusan PK Mahkamah Agung tertanggal 5 Oktober 2016 (No Register 99 PK/TUN/2016) memerintahkan Gubernur Jawa Tengah menghentikan rencana pendirian pabrik semen. Adapun amar putusan itu sebagai berikut ; Mengabulkan gugatan para Penggugat untuk seluruhnya; menyatakan batal Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor: 660.1/17 Tahun 2012, tanggal 7 Juni 2012, tentang Izin Lingkungan Kegiatan Penambangan oleh PT. Semen Gresik (Persero) Tbk. di kabupaten Rembang Provinsi Jawa Tengah; mewajibkan kepada Tergugat untuk mencabut Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 660.1/17 Tahun 2012 tangga 7 Juni 2012, tentang Izin Lingkungan Kegiatan Penambangan oleh PT Semen Gresik (Persero) Tbk. di Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah.

Abai terhadap keputusan pengadilan, para petani Kendeng melakukan aksi cor kaki yang kedua. Serangkaian protes yang mereka lakukan ini adalah untuk menjaga kelestarian Pegunungan Kendeng Utara dari kerusakan yang bakal ditimbulkan dengan berdirinya pabrik semen. Pegunungan Kendeng Utara merupakan kawasan karst yang terbentang dari Kabupaten Pati hingga Lamongan. Termasuk selatan Pati, utara Grobogan, Rembang, Blora, Tuban, utara Bojonegoro dan Barat Lamongan.

Potensi kerusakan yang bakal ditimbulkan adanya pabri misalnya ; 109 mata air terancam hilang, 49 gua dan 4 sungai bawah tanah terancam rusak, 58.368 hektare lahan pertanian terancam kekurangan air. Hal ini secara umum dapat terbaca, baik dalam putusan PK MA poin dasar gugatan maupun dalam buku berjudul “Rembang Melawan: Membongkar Fantasi Pertambangan Semen di Pegunungan Kendeng”.

Berdasarkan telusuran Litbang Terakota.id terhadap dokumen putusan PK Mahkamah Agung, pada poin Keabsahan Putusan Objek Sengketa (hal.113), Majelis Hakim berpendapat, “Asas kehati-hatian dan asas kecermatan dari Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB) memberi arah kepada penyelenggara negara agar lebih mengutamakan “menghindari potensi kerusakan/bahaya daripada mengambil manfaat”. Dengan kata lain, untuk mendapatkan manfaat wajib menjauhi potensi kerusakan.”

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini