Membaca Lemah Tanjung, Melihat Konflik Rasial Mei 1998

Terakota.id– Mei bulan suka cita sekaligus duka bagi Bangsa Indonesia. Suka cita, lantaran 21 Mei 1998 seorang penguasa otoriter yang korup berhasil diturunkan paksa. Setelah berkuasa selama 32 tahun. Soeharto lengser, berharap terjadi perubahan yang lebih baik pun membuncah. Meskipun kini berujung pada kekecewaan.

Duka, lantaran runtuhnya rezim despotik Soeharto dibarengi dengan tragedi; pembunuhan, penculikan, penjarahan dan perkosaan massal. Banyak buku, penelitian, dokumen dan laporan menarasikannya. Seri dokumen kunci temuan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Peristiwa Kerusuhan Mei 1998, misalnya. TGPF bekerja berdasar Keputusan Bersama Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Menteri Kehakiman, Menteri Dalam Negeri, Menteri Negara Peranan Wanita, dan Jaksa Agung pada tanggal 23 Juli 1998.

Temuan mereka mencengangkan banyak orang. Ada beberapa versi data korban kerusuhan Mei 1998. TGPF dalam laporan menemukan sedikitnya 1.190 orang terbakar/dibakar, 27 tertembak/terkena senjata dan 91 luka-luka. Sedang data polisi menyebutkan 451 meninggal dan korban luka-luka tidak tercatat. Kodam Jaya juga berbeda, sedikitnya 463 meninggal termasuk aparat keamanan dan 69 orang lukaluka. Data Pemda DKI Jakarta, jumlah korban meninggal 288 dan luka-luka 101 orang.

Sedangkan sejumlah kota di luar Jakarta juga berbeda. Data Mabes Polri sebanyak 32 orang meninggal, luka-luka 131 orang dan 27 orang luka bakar. Sedangkan data tim relawan mencatat 33 meninggal dan 74 luka-luka.

Setiap terjadi krisis ekonomi ataupun sosial-politik selalu ada yang dikambinghitamkan. Mereka yang tak bersalah justru menjadi korban. Termasuk ketika Soeharto lengser. Kerusuhan 1998 merembet menjadi tragedi rasial. Etnis Cina dijadikan bulan-bulanan, toko dan rumah mereka dijarah dan dibakar. Perempuan Cina menjadi korban perkosaan massal.

Aktivis perempuan, Ita Nadia Fitria menuturkan dalam empat hari bersama relawan menerima setidaknya 200 pengaduan kasus perkosaan dan 189 diantaranya terverifikasi. Ketika itu ia membuka posko aduan dan mendampingi serangkaian peristiwa perkosaan pada 12 hingga 15 Mei 1998.

Sedangkan data TGPF menemukan data berbeda, sebanyak 52 orang korban perkosaan, 14 korban perkosaan dengan penganiayaan, dan 10 orang korban penyerangan/penganiayaan seksual, dan 9 orang korban pelecehan seksual.

Novel Lemah Tanjung Bicara Konflik Rasial

Sastrawan asal Malang mendiang Ratna Idraswari Ibrahim turut mendokumentasikan targedi itu dalam sebuah karya sastra. Ia menulis novel berjudul Lemah Tanjung. Meski berbeda dengan hasil penelitian yang mendasarkan pada data dan fakta, karya sastra tetaplah bagian dari dokumentasi sosial. Seorang sastrawan menjumput fakta, menggumuli kenyataan, menggali data lantas meramunya dengan imajinasi untuk kemudian menjadi karya sastra. Novel Lemah Tanjung yang ditulis Ratna, sarat dengan tegangan identitas rasial di dalamnya. Utamanya menyangkut Mei 1998 yang berdarah.

Tokoh rekaan bernama Gita, perempuan yang menghadapi konflik rumah tangga dengan suaminya, Paul. Konflik berawal setelah terjadi kerusuhan Mei 1998. Paul merupakan warga keturunan Tionghoa mengalami goncangan jiwa. Ia menjadi pribadi yang meragukan identitasnya sebagai warga Indonesia.

Lahir dan besar di Indonesia tiba-tiba tidak percaya diri akan keindonesiaannya. Mengalami keterasingan, kecemasan dan ketakutan. Rasa aman dan damai yang sebelumnya ia rasakan, tiba-tiba lenyap dari dirinya. Sebagaimana dituturkan Gita, bahwa berkali-kali Paul mengatakan, “saya bisa jadi sudah kehilangan idealisme. Mungkin Cuma kamu yang orang Indonesia. Saya cuma numpang di negerimu.” (2003: 4).

Mulanya, Paul bercita-cita menghabiskan hidup di Kota Malang bersama istri dan anak gadisnya, Bonet. Malang adalah kota asal istrinya. Bagi Paul, Malang layak untuk ditinggali. Namun, semuanya menjadi buyar. Paul bersikeras pindah ke  Australia menyusul kakaknya, Daniel.

Paul berubah lantaran kerusuhan rasial yang menimpa keluarganya. Ketika terjadi kerusuhan, kebetulan Paul tengah berada di Jakarta. Ia menyaksikan bagaimana rumah warga keturunan dibakar. Ia berlari menyelamatkan diri. Ada orang tua menyelamatkannya dari amuk massa. Tanpa pertolongannnya, ia bisa terpanggang bersama api yang disulut oleh massa.

Kerusuhan Mei 1998
Kerusuhan di sejumlah pertokoan di Jakarta Mei 1998. Foto : Deutsche Welle)

“Mungkin saya bukan orang Indonesia! Para perusuh dan penjarah itu kelihatannya sangat membenci warga keturunan. Mereka tidak memilah-milah. Padahal, yang bersalah cuma beberapa orang konglomerat yang mendapat restu dari kekuasaan. Saya tidak pernah berbisnis, saya ahli kimia di perusahaan obat-obatan. Orang tuaku juga tidak pernah berbisnis. Papi dosen di Fakultas Sejarah,” ujar Paul seperti ditirukan Gita (2003: 8).

Pandangan Ratna diungkapkan melalui tokoh rekaannya, Paul. Ia seolah hendak mengatakan bahwa bukan identitas Tionghoa yang sebenarnya menjadi akar kerusuhan. Melainkan, penciptaan golongan konglomerat Tionghoa yang dilakukan Soeharto. Penguasaan sumberdaya ekonomi di tangan konglomerat Tionghoa dijadikan dalih untuk menyulut kebencian. Sehingga tanpa pandang bulu, seluruh warga beretnis Tionghoa dijadikan sasaran kemarahan.

Senada dengan pendapat Amy Chua dalam bukunya, World on Fire, How Exporting Free Market Democracy Breeds Ethnic Hatred and Global Instability. Amy Chua mengatakan diskriminasi terhadap etnis minoritas akan mungkin terus terulang. Di mana ada sekelompok minoritas etnis yang menguasai pasar dan kaya raya (minority market dominant), maka kebencian rasial amat mudah disulut.

Tidak dapat dipungkiri, di Indonesia etnis Tionghoa kelihatan sekali memiliki kekayaan yang lebih menonjol. Soeharto memberi kepercayaan lebih terhadap pengusaha Tionghoa menjalankan bisnis strategis. Para konglomerat diberi kesempatan untuk ekspansi ekonomi dengan cepat dan menjadi para kapitalis utama pada era Soeharto. Mereka menjadi penyokong utama oligarki yang dipimpin Soeharto. Apa yang dilakukan Soeharto ini oleh Jeffery Winters kemudian disebut sebagai oligarki sultanistik.

Dukungan Soeharto kepada pengusaha Tionghoa bukan tanpa syarat. Jeffery Winter dalam Oligarki (2011:234) mendedahkan pengusaha Tionghoa dimitrakan dengan militer untuk mengalirkan kekayaan kepada para jendral penyokong Soeharto. Tentu juga akan mengalir kepada Soeharto sendiri. Hasil kekayaan yang dimintakan kepada para pengusaha Tionghoa juga digunakan untuk membangun kekuatan militer. Sehingga, Soeharto tampak sangat kokoh selama 32 tahun.

Ricard Robinson dalam Soeharto dan Bangkitnya Kapitalisme Indonesia (2012 : 216) melakukan riset yang lebih rinci lagi soal ini. “Mereka (para konglomerat) memperkokoh monopoli dagang dan akses istimewa bagi kredit bank milik Negara, hak distribusi yang dibagikan oleh Bulog, kredit BE, serta berbagai macam kontrak yang luas untuk melakukan pembelian dan pasokan barang-barang kebutuhan korporasi serta proyek-proyek Negara,” tulis Ricard Robinson.

Ada dua nama pengusaha Tionghoa yang melejit waktu itu. Yakni Tjia Kian Liong alias William Soerjadjaja dari grups Astra dan Liem Sio Liong alias Sudono Salim dari grup Liem. Di luar keduanya, juga ada sejumlah nama seperti Hendra Rahardja, Go Swie Kie, Yos Soetomo, dan lain sebagainya.

Masih banyak kalangan yang tidak mendasarkan kerusuhan etnis pada ketidakadilan sistem ekonomi yang dijalankan Soeharto. Mereka hanya melihat siapapun yang beretnis Tionghoa secara alamiah layak untuk didiskriminasi bahkan sampai dipersekusi. Pandangan semacam ini langgeng hingga hari ini. Warga beretnis Tionghoa tetap saja dianggap bukan warga Indonesia sejati. Penyebutan Tionghoa pun masih sering diperlawankan dengan pribumi.

Dalam Lemah Tanjung, Ratna mencoba menentang klaim pribumi dan non pribumi yang mendiskreditkan warga keturunan Cina ini. Paul ia gambarkan sebagai pribadi yang tidak pernah merasa dirinya Cina. Bahkan, Gita melihat Paul sebagai orang Sunda. Paul fasih berbahasa Sunda halus, gemar menonton wayang golek, dan suka makanan lodeh.

“Mungkin setelah 14 Mei-lah, dia baru merasa dirinya Cina. Politik itu, menyusahkanku kok,” kata Gita kesal disampaikan kepada temannya, Sulastri (2003: 47).

Sejak perubahan pada diri Paul, rumah tangga Gita mengalami goncangan. Mereka dipisahkan oleh jarak. Paul di Australia. Gita tetap di Kota Malang. Hubungan jarak jauh kerapkali menimbulkan pertengkaran. Paul, bersikeras memaksa Gita untuk segera menyusulnya ke Australia.

Sementara Gita, kukuh menunggu segalanya siap meliputi pekerjaan yang tetap, tinggal di apartemen sendiri dan tidak menumpang di rumah kakaknya, juga kesiapan Bonet. Selain itu, keduanya juga terlibat asmara segitiga. Paul dengan perempuan Australia bernama Sussy. Sedang Gita terseret pada kenangan masa lalu dengan mantan pacarnya, Asrul, yang kebetulan pindah kerja ke Kota Malang.

Kedua orang tua Paul sebelumnya juga tak pernah melihat kecinaan ada pada keluarga mereka (2003: 82). Ibu Paul yang berasal dari Sunda baru keheranan setelah terjadinya kerusuhan rasial 14 Mei. “Sebetulnya, saya tidak pernah menyangka Daniel dan Paul dianggap Cina. Apa yang menyebabkan mereka tidak bisa hidup tenang di negeri sendiri?” ujar Ibu Paul kepada Gita (2003: 344).

Menanggapi Ibu Paul, Gita mengatakan bahwa semuanya akibat dari politik. Dimana Cina diberi kesempatan yang luas oleh Orde Baru. Tanggapan Gita ini tidak salah, tapi sebenarnya kurang lengkap. Entah mengapa, dalam Lemah Tanjung, Ratna sedikitpun tidak menyinggung kebijakan diskriminatif Orba terhadap etnis Tionghoa. Beberapa konglomerat memang diberikan keluasan akses ekonomi. Namun, tidak dapat dilupakan bahwa banyak kebijakan Orba yang justru menebalkan kebencian terhadap etnis Tionghoa yang diwariskan turun temurun sejak sebelum kemerdekaan.

Muncul Gerakan Anticina

Sejak Orba mulai berkuasa, Gerakan antitionghoa kembali muncul. Misalnya di Makassar 10 November 1965, selang setahun terjadi pembantaian dan penjarahan dengan tuduhan komunis. Benny G Setiono dalam Etnis Tionghoa adalah Bagian Integral Bangsa Indonesia menyebutkan, pada 1967 justru militer berperan memprovokasi suku Dayak di Kalimantan Barat untuk melakukan aksi kekerasan terhadap etnis Tionghoa.

“Akibatnya puluhan ribu etnis Tionghoa mengungsi ke Singkawang dan Pontianak. Kemudian menyebar ke Jakarta dan kota besar lain di Jawa,” tulis Benny G Setiono.

Sedangkan kebijakan Orba yang mendiskriminasi etnis Tionghoa, misalnya melalui Badan Koordinasi Masalah Cina (BKMC) yang berada di bawah koordinasi  Badan Intelijen Negara (BAKIN). BKMC khusus untuk mengawasi gerak dan aktivitas etnis Tionghoa. Mereka dipaksa berganti nama menjadi nama pribumi, melarang berbahasa Cina, melarang perayaan Imlek dan melarang agama yang dianut Tionghoa .

Termasuk melarang kesenian seperti wayang potehi dan barongsai tampil di depan publik. Kebijakan itu ditetapkan dalam Instruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967 tentang agama, kepercayaan dan ada istiadat Cina. Sehingga, kerusuhan rasial pada Mei 1998 sejatinya adalah akumulasi dari kebencian yang telah dipupuk sedemikian rupa oleh Orba.

Kerusuhan Mei 1998
Kerusuhan di sejumlah pertokoan di Jakarta Mei 1998. Foto : Deutsche Welle)

Warga Indonesia yang kebetulan beretnis Tionghoa oleh Soeharto telah dibikinkan jarak dengan warga yang lainnya. Mereka tidak leluasa untuk berbaur, berinteraksi, dan memilih pekerjaan. Ditambah label negatif yang selalu dikaitkan dengan mereka: pelit, sombong, tertutup, asosial, dan label negatif lainnya.

Pada bagian akhir novel, Ratna membocorkan detail kejadian yang punya andil besar mengubah pandangan Paul. Ketika terjadi kerusuhan, Paul menyaksikan adik sepupunya diperkosa. Ia tidak bisa menolong. Paul lari sekuat tenaga menyelamatkan dirinya yang juga terancam.

Sejak itu lah Paul dihantui rasa bersalah. Bahkan, merembet ke urusan ranjang rumah tangganya. Paul enggan berhubungan seks dengan istrinya karena terbayang pemerkosaan massal yang menimpa saudaranya. Gita dan Paul pun kerap bertengkar karena hal ini.

Novel ini kelar ditulis pada 1999 dan pertama kali terbit  pada 2003. Jadi, ia bukan novel baru. Namun, hingga hari ini ia tetap menarik untuk dibaca. Apa yang dikisahkan oleh Ratna, masih tetap relevan. Selain soal identitas dan asmara, konflik agraria turut ambil bagian di dalam novel. Ketiganya dijalin dalam rangkaian cerita yang mengalir. Ketika membaca novel ini, kita akan dihadapkan pada wajah persoalan bangsa yang dari dulu hingga sekarang seolah tidak pernah beranjak. Baik terkait kebencian rasial, maupun tentang konflik agraria. Untuk masalah konflik agraria dalam novel ini, semoga akan dapat disajikan dalam tulisan yang berbeda.

 

Tinggalkan Pesan