Konflik Agraria dalam Novel Lemah Tanjung

Sastrawan Ratna Indraswari Ibrahim menulis novel berjudul Lemah Tanjung, merekam konflik agraria yang berkecamuk di Kota Malang. (Foto : Bachtiar Janan).

Terakota.id–Sastrawan Ratna Indraswari Ibrahim menulis novel berjudul Lemah Tanjung, merekam konflik agraria yang berkecamuk di Kota Malang. Konflik mulai senjakala Orde Baru hingga awal Reformasi. Novel rampung Februari 1999. Novel ditulis dari kisah nyata, Ratna Indraswari Ibrahim meramu fakta alih fungsi hutan kota bekas kampus Akademi Penyuluh Pertanian (APP) Kota Malang menjadi perumahan elit dan hotel. Imajinasi Ratna, merajut cerita menyauguhkan pandangannya jika reformasi belum menjawab konflik agraria.

“Sungguh, karena saya Arema (arek Malang), saya enggak rela Lemah Tanjung hilang. Saya sangat sedih. Makanya, liku-liku hidup, cinta, dan nafas perlawanan dalam novel Lemah Tanjung sedemikian kuat dan gampang terbaca. Saya melawan tidak secara fisik, tapi lewat sastra,” ujar Ratna dalam sebuah wawancara dengan Abdi Purmono (Abel), jurnalis Tempo dan Batikimono.

Lalu, siapa sebenarnya Ratna Indraswari Ibrahim? Mengapa ia menegaskan “Saya melawan tidak secara fisik, tapi lewat sastra.”?

Keterbatasan Fisik Bukan Penghalang Berkarya

Ratna Indraswari Ibrahim merupakan sastrawan kelahiran Malang, 24 April 1949. Seperti Stephen Hawking, Ratna berkarya dengan keterbatasan fisik. Bermula ketika Ratna berusia sekitar 10 tahun ada yang mengira terserang polio. Ada yang menyebut menderita rachitis (radang tulang). Sebagian besar anggota tubuh Ratna tak bisa digerakkan, terutama kaki dan tangan.

Jangankan untuk berjalan atau mengetik, untuk menyuapkan makanan sudah tak bisa. Sejak itu, praktis kehidupan Ratna berjalan di atas kursi roda. Ratna tidak menyerah. Keterbatasan fisik bukan hambatan baginya untuk menjalani hidup dengan percaya diri. Ibu dan keluarga besarnya tak menganggap Ratna cacat.

Sastrawan Ratna Indraswari Ibrahim sepanjang hayatnya melahirkan 400 karya sastra. (Foto : Dok. Ratna Indraswari Ibrahim)

Ratna putri seorang jaksa, H. Saleh Ibrahim. Tidak dimanja dan diperlakukan istimewa. Keluarganya selalu mendorong Ratna untuk maju dan berkembang layaknya orang yang berfisik sempurna. Lingkungan keluarga membuat pribadi Ratna terbentuk. Ratna berhasil mengenyam pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi. Ia menuntaskan kuliah di Fakultas Ilmu Adminsitrasi Universitas Brawijaya Malang.

Ratna membuktikan keterbatasan fisik bukan alasan untuk tidak berkarya.  Sepanjang hayatnya, ia melahirkan 400 karya sastra. Meliputi puisi, cerpen dan novel. Diantaranya buku antologi cerpen berjudul Menjelang Pagi diterbitkan Balai Pustaka, 1994, Pelajaran Mengarang (Antologi Cerpen, 1993), Lampor (Antologi Cerpen, 1995), Dunia Ibu dalam Antologi Cerita Pendek Wanita Cerpenis Indonesia (Korrie Layun Rampan, ed.), Ungu dalam Antologi puisi Wanita Penyair Indonesia (Korrie Layun Rampan, ed.), Gerbong (Antologi Puisi, 1998), Lemah Tanjung (Novel, 2002), Bukan Pinang (Novel, 2003).

Hampir setiap tahun, karya Ratna langganan di antara cerpen pilihan Kompas. Misalnya: Perempuan itu Cantik dalam Kado Istimewa (Cerpen Pilihan Kompas tahun 1992), Jerat dalam Pelajaran Mengarang (Cerpen Pilihan Kompas tahun 1993), Rambutnya Juminten dalam Lampor (Cerpen Pilihan Kompas tahun 1994), Namanya Massa dalam Lelaki yang Kawin dengan Reki (Cerpen Pilihan Kompas tahun 1995), dan lain sebagainya.

Sastrawan Cum Aktivis

Ratna bukan tipe sastrawan yang menenggelamkan diri dalam kata-kata dan lupa pada derita sekitar. Selain menekuni dunia kepengarangan, Ratna juga tampil sebagai seorang aktivis. Ia aktif di beberapa yayasan dan komunitas gerakan. Meliputi Yayasan Bakti Nurani untuk membantu para penyandang cacat, Direktur I LSM Entropic Malang, Bagian Litbang Yayasan dan Kebudayaan Pajoeng Malang.  Ratna menginisiasi pendirian forum kajian ilmiah, Forum Pelangi yang bermarkas di rumahnya.

Persinggungannya dengan dunia gerakan, memperkaya dan memperdalam karya sastra yang dilahirkan. Ketika di Kota Malang tengah terjadi konflik agrarian di Lemah Tanjung atau Lambau (bahasa Belanda LandBouw) hutan kota dialihfungsikan menjadi hunian mewah dan hotel. Pada 1994 terjadi tukar guling lahan APP dengan PT. Bangun Karsa Bentala yang dikemudian hari berubah menjadi PT Duta Perkasa Unggul Lestari.

Bangun Karsa berhasil memenangkan tender atas Lemah Tanjung seharga Rp 23 Miliar. Abdi Purmono dalam laporan jurnalistik berjudul Lemah Tanjung dan Sastra Perlawanan, menyebut hutan kota Lemah Tanjung seluas 28,5 hektare menjadi satu-satunya paru-paru kota yang tersisa. Sekaligus menjadi buffer zone Kota Malang.

“Di dalamnya terdapat hutan heterogen, kebun kopi, kakao, sawit, ladang jagung, hamparan sawah, pun lapangan rumput terbuka. Hidup pula sedikitnya 128 spesies tanaman, yang beberapa di antaranya belum teridentifikasi; menjadi tempat bernaung 36 spesies burung langka,” tulis Abdi Purmono.

Mahasiswa dan aktivis lingkungan menolak ruislag atau tukar guling hutan kota. Perwalanan berlangsung sejak 1994 hingga sampai 2004. Beragam usaha menuai jalan buntu. Akhirnya perlawanan aktivis lingkungan dan mahasiswa kalah. Kini, kita menyaksikan berdiri hunian mewah Ijen Nirwana dan Hotel Ijen Swite di Lemah Tanjung.

Ratna Indraswari Ibrahim terlibat dalam perlawanan ini. Rumahnya kerap kali dipilih sebagai lokasi rapat. Konflik agraria inilah yang mendorong Ratna Indraswari Ibrahim menuliskan novel setebal 385 halaman berjudul Lemah Tanjung. Dalam novel ini, kita akan menemukan diri Ratna pada tokoh Syarifah. Perempuan difabel yang membantu perjuangan aktivis penolak lemah tanjung melalui sastra.

Konflik Agraria Menyisakan Tangis

Sejatinya tanah-tanah tengah menangis. Konflik agraria terjadi di mana-mana dan menyisakan isak tangis. Desa digusur demi bandara baru. Rumah dirobohkan atas nama tata kota. Permukiman penduduk dibuldoser proyek infrastruktur. Sawah, ladang, hutan, sumber mata air, dan sumberdaya agraria menjadi tumbal percepatan investasi.

Data Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menyebutkan terjadi 659 konflik agraria sepanjang 2017. Luasannya lahan lkonflik mencapai 520.491,87 hektare. Luas lahan konflik agraria meningkat 50 persen dibandingkan 2016.

Sedikitnya 652.738 kepala keluarga menjadi korban. Secara berturut turut, perkebunan menempati posisi pertama, sebanyak 208 konflik, atau 32 persen dari seluruh jumlah konflik. Selanjutnya, properti 199 konflik (30 persen), infrastruktur 94 konflik (14 persen), pertanian 78 konflik (12 persen), kehutanan 30 konflik (5 persen), pesisir/kelautan 28 konflik (4 persen), serta pertambangan 22 konflik (3 persen).

Konflik agaria ini seolah menyejarah. Reformasi gagal memutus rantai konflik agraria yang mewarisi kerusakan ekologis, ketimpangan penguasaan tanah, dan pemiskinan struktural. Apa yang puluhan tahun lalu terjadi di bawah rezim Soeharto, tetap berulang.

Jika masih ragu, silahkan berselancar di dunia maya. Lalu temukan jejak digital berupa video, foto, ataupun berita berkaitan dengan konflik agraria termutakhir.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini