Kita Eastern, Mereka Non Eastern Saja

kita-eastern-mereka-non-eastern-saja
Ilustrasi : https://healthcareinamerica.us

Oleh : Benni Indo*

Terakota.idTeori-teori tentang ilmu pengetahuan yang banyak bersumber dari benua Eropa dan Amerika jamak disebut sebagai teori western. Sedangkan kajian ilmiah dari bangsa timur disebut sebagai teori non western. Selama ini hanya ada dua istilah saja yakni western dan non western. Jika diterjemahkan, hanya ada istilah barat dan bukan barat.

Hegemoni istilah western itupun masih mewarnai kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Untuk menggeser hegemoni itu, kali ini saya menyebutkan dengan istilah berbeda, yakni non eastern untuk menyebut western dan eastern  untuk menyebut identitas kita sebagai bangsa timur.

Meskipun hanya sebuah aksi kecil, namun cara ini sebagai upaya saya membalikan hegemoni keilmuan bangsa Eropa maupun Amerika terhadap bangsa timur. Setidak-tidaknya, dimulai dari perubahan menyebutkan istilah, yakni eastern dan non eastern atau timur dan bukan timur karena kita berada di Benua Asia, bangsa timur. Kita eastern, mereka non eastern. Cukup adil.

Itu pun belum sepenuhnya memuaskan hasrat kebanggaan saya sebagai orang timur. Pasalnya, istilah non eastern masih digunakan dalam bahasa Inggris. Tapi ada keuntungan dengan masih menggunakan istilah dalam bahasa Inggris itu, saya berharap bisa dipahami oleh banyak orang dari negara lain, khususnya kawasan timur dan tentunya disadari oleh bangsa-bangsa Eropa atau Amerika.

Disadari atau tidak, akibat dari seringnya kita menyebutkan western, secara tidak langsung telah melanjutkan estafet hegemoni bangsa non eastern terhadap bangsa timur atau eastern. Mereka yang berada di Eropa atau Amerika tentu saja cocok jika menyebut bangsa timur sebagai non western, namun tidak cocok untuk kita.

Juga seperti mereka menyebut bangsa-bangsa di kawasan jazirah Arab dengan istilah middle east. Kawasan jazirah Arab memang berada di tengah-tengah antara Eropa dan Asia Timur, maka bangsa Eropa menyebut middle east atau penerjemahannya dalam bahasa Indonesia berarti kawasan tengah di timur, yang kemudian jamak kita sebut timur tengah.

Namun sejatinya penyebutan istilah timur tengah untuk orang-orang Indonesia kurang tepat. Pasalnya, jazirah Arab berada di sebelah barat Indonesia. Saya melihat, kebiasaan orang Indonesia menyebutkan istilah timur tengah itu juga karena pengaruh dari bangsa non eastern.

Untuk mengurangi hegemoni bangsa non eastern, maka bisa kita mulai dengan membiasakan menyebutkan istilah eastern dan non eastern.Mengapa hegemoni itu harus dikurangi atau bahkan diganti, karena ilmu terus berkembang dan ciri kehidupan bangsa Asia berbeda dengan Eropa maupun Amerika.

Bangsa Eropa atau Amerika boleh saja mengklaim memulai temuan-temuan dalam ilmu pengetahuan. Namun dengan seiring berjalannya waktu, mulai terkuak bahwa sejatinya bangsa timur juga memiliki kejayaan terhadap ilmu pengetahuan.

kita-eastern-mereka-non-eastern-saja
Ilustrasi : https://windowstorussia.com

Dalam keilmuan matematika, ada Aljabar yang ditemukan oleh Muhammad Ibn Musa Al khawarizmi dari Persia, kemudian mesin cetak yang ditemukan oleh Bi Sheng di Tiongkok sekitar pertengahan abad ke-11 M. Apalagi jika berbicara terhadap teori-teori sosial, yang tentu saja sangat berbeda budaya sosial eastern dan western. Maka teori-teori sosial yang berasal dari non eastern tidak bisa sepenuhnya cocok dengan kondisi bangsa timur.

Dr Nasiwan dalam bukunya yang berjudul Seri Teori-teori Sosial Indonesia menjelaskan bahwa perkembangan ilmu-ilmu sosial di Asia, termasuk di dalamnya di Indonesia, dalam waktu yang lama berada dalam pengaruh maupun dominasi dari bangsa non eastern. Secara umum, bangsa-bangsa eastern mengadopsi ilmu-ilmu sosial yang berkembang di Eropa atau Amerika. Kondisi yang demikian sudah berlangsung dalam waktu yang sangat lama, bahkan lebih dari satu abad, jauh sebelum Indonesia merdeka pada 1945.

Kondisi perkembangan ilmu sosial yang demikian telah mengundang beberapa intelektual di Asia dan juga Indonesia, untuk mempertanyakan sekaligus mencari jalan keluar atas ketergantungan selama ini. Dalam buku tersebut, ada seruang untuk lepas dari ketidak berdayaan-ketergantungan (captive mind) terhadap ilmu-ilmu sosial non eastern.

Solusi yang ditawarkan untuk menghadapi kondisi tersebut ialah ikhtiar membangun suatu diskursus alternatif terhadap ilmu-ilmu sosial, di luar arus besar diskursus ilmu-ilmu sosial non eastern. Dari diskursus alternatif itu, kemudian muncul berbagai gagasan kritis tentang pentingnya melakukan indigenisasi ilmu-ilmu sosial, salah satunya muncul gagasan pentingnya Ilmu Sosial Profetik (ISP).

Pengaruh hegemoni bangsa non eastern yang saat ini terasa adalah cara penulisan karya-karya ilmiah. Mengapa karya ilmiah itu, dari yang sering saya temui, tidak bisa sekali baca lalu mudah dipahami. Perlu waktu dan kesabaran agar betul-betul memahami isi dari karya ilmiah yang ditulis.

Itu terjadi karena struktur kalimat dan bahasa yang digunakan masih mengikuti karakter non eastern. Cenderung menggunakan bahasa yang kaku dan terkadang menggunakan istilah rumit tanpa ada penjelasannya. Seharusnya, sejak awal penulis memikirkan agar tulisannya mudah dipahami oleh pembaca, bukan sebaliknya.

Di satu sisi, nenek moyang bangsa Indonesia memiliki tradisi literasi sendiri. Dari sebagian banyak peninggalan literasi yang ditemukan, seperti dalam bahasa di prasasti, karakter bahasanya selalu mendayu-dayu. Tidak seperti karakter tulisan non easter yang kaku.

Bahasa-bahasa yang seperti itu memang menjadi karakter bangsa kita atau western. Namun hal seperti itu belum bisa menjadi tradisi dalam kepenulisan ilmiah di Indonesia. Seyogianya, tulisan-tulisan ilmiah itu ditulis dengan bahasa yang ringan sehingga mudah dipahami pembaca.

Dengan cara seperti itu, saya yakini dapat memberikan pengaruh terhadap ketertarikan masyarakat membaca karya ilmiah. Sehingga tidak hanya para pelajar, mahasiswa atau dosen saja yang mengkonsumsi karya ilmiah. Masyarakat umum pun bisa dengan mudah memahami.

Maka hegemoni non eastern itu harus diganti, bukan berarti menafikan. Kita harus superior terhadap identitas kita sendiri, yakni bangsa timur. Harus ditanamkan sejak dalam pikiran, bahwa Eropa atau Amerika adalah non eastern.

Jika dalam benak kita istilah non eastern bisa diyakini dapat memperkokoh identitas kebangsaan dan kebanggaan sebagai bangsa timur, maka langkah selanjutnya adalah tindakan nyata. Membiasakan untuk mengemukakan kahasanah keilmuan eastern di dalam kelas bisa menjadi awal langkah nyata itu.

Jika tradisi dan budaya eastern itu diterjemahkan dalam ilmu pengetahuan, bukan tidak mungkin orang-orang timur akan mudah beradaptasi. Bersamaan dengan itu, akan lahir kebanggaan terhadap identitas dan budayanya sendiri. Munculnya superioritas ketimuran ini akan melahirkan kepercayaan diri.

Dengan tingginya pemahaman masyarakat terhadap kajian-kajian keilmuan, bisa melahirkan kesadaran dan ketertiban sosial yang muaranya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Sama halnya seperti tujuan pendidikan Indonesia yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Kelas bisa menjadi tempat awal untuk memulai hegemoni eastern terhadap non eastern.
*Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Brawijaya

*Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan melalui surel : redaksi@terakota.id. Redaksi akan menyeleksi dan diterbitkan di kanal terasiana.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini