Kisah Wajah Permata Kota

Militer Belanda berbaris di depan Balai Kota Malang sebelum agresi militer. (Foto : Jbahonar.wordpress.com)

Terakota.id–Gedung Balai Kota Malang menjadi salah satu tetenger bangunan bersejarah di Kota Malang. Bangunan beratap limasan memadukan model art deco dengan bangunan limasan khas Jawa. Bangunan menghadap ke utara Alun-alun Tugu dalam bahasa Belanda disebut Gemeentehuis atau Stadhuis artinya balai kota, tempat yang difungsikan sebagai kantor pusat pemerintahan.

Gedung pemerintahan Kota Malang berdiri 1929, atau 15 tahun sejak ditetapkan menjadi kotamadya atau Gemeente pada 1 April 1914. Sebelumnya, urusan pemerintahan dilakukan di Kantor Asisten Residen Malang, lokasinya di selatan Alun-alun Merdeka (sekarang Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara).

Alun-alun yang dijuluki alun-alun “kotak” sebagai simbol pemerintahan lama itu dipandang terlalu berbau indisch. Sehingga balai kota harus ditempatkan di alun-alun baru yang bernuansa Eropa, yakni JP Coen Plein atau biasa disebut alun-alun bunder karena bentuknya yang bunder.

Kantor pemerintahan ditempatkan di kawasan yang murni kolonial dan tidak bercampur dengan unsur lokal. Maka kawasan JP Coen Plein dianggap paling tepat, sebab di kawasan inilah masyarakat elite Eropa tinggal. Menurut Purnawan Basundoro dalam buku “Dua Kota Tiga Zaman”, balai kota menjadi tempat yang tidak terjangkau oleh rakyat Malang, terutama rakyat kelas bawah.

Fungsi balai kota saat itu adalah sebagai pusat pelayanan masyarakat Eropa di Kota Malang. Sedangkan urusan pribumi diserahkan kepada bupati. Citra megah pada balai kota sengaja dibentuk pemerintah colonial Belanda. Seolah menegaskan batas kawasan kulit putih dan bumiputera.

Wajah kantor pemerintahan yang baru direncanakan menjadi pusat dari gedung-gedung di sekitarnya karena posisi dan fungsinya yang khusus. Dalam buku “Stadsgemeente Malang 1914-1939”, Balai Kota Malang disebut akan menyerupai “a jewel for the city”. Maka tak heran gedung balai kota yang kini berdiri di selatan Alun-alun Tugu terlihat megah bak permata kota.

Berada di antara Hotel Splendid dan Gedung DPRD Kota Malang, Balai Kota Malang memang sengaja dirancang sebagai satu-satunya gedung yang terlihat mencolok di kawasan tugu. Sedangkan permukiman sekitarnya dibuat seragam, simetri, dan sejajar. Sehingga membentuk lorong yang berakhir pada skala landmark gedung balai kota.

Gaya arsitektur kolonial art deco, sebuah merupakan model yang banyak digunakan arsitek Belanda di Indonesia pada masa penjajahan sekitar tahun 1930-an sampai 1940-an. Gaya arsitektur Balai Kota Malang ini merupakan adaptasi dari bentukan historis ke bentukan modern.

Lalu Mulyadi dalam bukunya, “Model Pengelolaan Bangunan Bernilai Sejarah di Kota Malang Berbasis Konservasi Arsitektur”, memaparkan bahwa gaya art deco di balai kota terlihat dari elemen garis serta penggunaan bahan dan ornamen.

“Penerapan pada jendela, pintu, hingga pilar. Lebih terlihat sederhana namun tetap menampilkan kesan mewah dan megah,” tulis Lalu Mulyadi. Pintu utama yang lebih besar dari ukuran pintu rumah menunjukkan ketegasan dan kewibawaan pada siapa pun yang melihatnya.

Siapa sangka di balik kemegahan arsitektural itu, desain gedung balai kota adalah hasil sayembara tanpa pemenang. H.I Bussemaker, Wali Kota Malang pertama yang diangkat tahun 1919 mengadakan sayembara desain demi mewujudkan rancangan bangunan balai kota yang diidamkan.

Balai Kota Malang dibangun setelah Kota Malang ditetapkan sebagai kotamadya oleh pemerintahan kolonial Belanda (Terakota/Aris Hidayat)

Sayembara diselenggarakan pada tahun 1926. Juri sayembara Ir. W. Lemei, dibantu oleh Ir. Ph. N. te Winkel dan Ir. A. Grunberg. Dari total 22 desain yang mengikuti sayembara, tiga desain terpilih sebagai kandidat pemenang. Namun di luar perkiraan, dari ketiga desain tersebut, tidak ada satu desain pun yang layak dinyatakan sebagai pemenang pertama.

Tak ada desain terbaik sebagai juara satu, penghargaan hanya diberikan kepada pemenang kedua dan ketiga. Tak berhenti di situ, upaya untuk memperoleh desain terbaik terus dilakukan. Hingga pada 14 Februari 1927, diadakan peninjauan ulang terhadap kedua desain terpilih.

Dewan Perwakilan (Gemeenteraad) memutuskan untuk menggunakan rancangan H.F Horn, seorang arsitek asal Semarang. Slogan yang diusung H.F Horn dalam desainnya berbunyi “Voor de Burgers van Malang” yang berarti Persembahan untuk Warga Malang.

Setelah diperbaiki dengan beberapa perubahan, desain H.F Horn mulai dibangun dalam kurun tahun 1927 hingga 1929. Menghabiskan biaya sebesar f.287.337,29 atau setara Rp2.171.795,47,  demi membiayai pembangunan balai kota. Hingga September 1929, gedung balai kota bisa ditempati hanya lantai bawah.  Lantaran lantai atas masih tahap pembangunan, dan selesai pada 1930.

Pada 1947, bangunan pertama yang dicanangkan sebagai gedung pemerintahan gemeente ini bernasib naas. Sama dengan bangunan kolonial lainnya, bangunan dibumihanguskan oleh para pejuang. Sebagai bentuk perlawanan atas Agresi Militer Belanda I atau yang dikenal dengan Clash I.

Untuk sementara, pemerintahan dipindah ke Palace Hotel. Setelah dibangun ulang, gedung balai kota Malang kembali ditempati pada 2 Maret 1950.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini