Kisah Tradisi dan Penutur Basa Jawa di Suriname

Mbah Dawiyah khusyu merapal doa dalam bancakan tedak sinten di Suriname. (Foto : tangakapan layar chanel youtube Budi Sarwono).

Terakota.idDuduk selonjor, Mbah Dawiyah khusyu merapal doa. Tangannya memegang selembar kertas yang diisi taburan arang. Di samping kiri, terdapat tempat perapian, korek api dan segelas air. “Munggah sik (naik dulu),” ujar Mbah Dawiyah memberi aba-aba kepada perempuan yang menggendong balita.

Lantas, seorang perempuan memapah balita menaiki tangga berwarna hijau yang dibuat dari batang tanaman. Di puncak tangga, kaki sang anak diarahkan menginjak balon berwarna merah muda yang telah terpasang. Balita kembali digendong. Api menyala di perapiannya.

Munggah telu, mudun telu (Naik tiga, turun tiga),” kata Mbah Dawiyah kembali memberi aba-aba. Selanjutnya ia meminta kaki si anak dipanjatkan di anak tangga tiga kali naik dan tiga kali turun.  Mbah Dawiyah merupakan dukun Jawa yang melestarikan tradisi Jawa di Suriname. Termasuk menuturkan basa Jawa dalam keseharian.

Prosesi bancakan tedak siten di Suriname yang dipandu Mbah Dawiyah. (Foto : tangkapan layar Youtube Budi Sarwono).

Sejumlah warga berkumpul, mengelilingi balita berbaju hijau. Mereka mengikuti acara bancakan Mudun Lemah atau Tedak Siten. Selepas acara, warga riuh mengobrol. Terdengar bahasa Taki-Taki, bahasa lokal orang India, bahasa Belanda, dan bahasa Jawa secara acak menjadi bahasa tutur keseharian warga.

Begitulah potret kehidupan kelompok etnis Jawa di Suriname. Aktivitas tesebut direkam Budi Sarwono dalam video amatir yang diunggahnya di kanal Youtube Budi Sarwono.

Nggak sengaja jadi Youtuber. Awalnya 2008 perjalanan bisnis ke Suriname. Bertemu orang Jawa yang tinggal di sana, merasa terhubung dengan mereka yang sama-sama menggunakan Bahasa Jawa,” ujar Budi Sarwono melalui sambungan telepon.

Pria yang kini berdomisili Yogyakarta ini rutin melawat ke Suriname bertemu sedulur-nya etnis Jawa, setiap September. Kadang bertandang pula pada Maret, sekaligus menghadiri festival budaya ke Belanda.

“Awalnya merekam video pada akhir 2017, mulai diunggah 2018. Antusiasme pononton Youtube ramai, semakin bersemangat unggah video tentang orang Jawa di Suriname, “ kata Budi memaparkan.

Budi menjelaskan bahasa Jawa masih digunakan sebagai bahasa percakapan sehari-hari orang Jawa di Suriname. Terutama ketika kumpul bersama komunitas sesama etnis Jawa. Orang Jawa sendiri populasinya sekitar 15 persen dari penduduk lokal yang ada di Suriname.

“Dulu 500 ribuan warga. Kalau sekarang sudah 100 ribuan orang. Bahasa Jawa digunakan kelompok orang Jawa di sana, sekarang generasi kelima,’ katanya.

Sedangkan generasi muda menggunakan bahasa Jawa ngoko, sementara generasi tua masih bisa menggunakan bahasa krama. Etnis Jawa di Suriname menghuni dua kota besar, yakni di Kota Paramaribo dan Kota  Nieuw Nickerie.

“Bahasa Jawa sebagai jati diri. Mbah-mbahnya (nenek moyang) dari Jawa, mereka tertarik belajar juga. Mereka sadar kalau bahasa Jawa sudah jadi paket lengkap untuk sarana pendidikan kharakter, sopan santun, tata krama bagi anak,” kata Budi Sarwono.

Budi Sarwono bersama Keturunan Jawa di Suriname. (Foto : Tangkapan Layar Youtube Budi Sarwono).

Akun Youtube Budi Sarwono sampai hari ini telah memiliki 128 ribu subscriber dan  31.076.500 penonton.

Kisah Perpindahan Orang Jawa ke Suriname

Etnis Jawa bermigrasi ke Suriname, Negara di tepi pantai lautan Atlantik di Benua Amerika bagian selatan setelah berakhirnya sistem perbudakan pada 1863. Sehingga membuat banyak “budak” yang bekerja di Suriname meninggalkan perkebunan. Mereka beralih ke lapangan kerja lain yang diminati di Negara seluas 163.265 kilometer persegi.

Kedatangan buruh kontrak dari Jawa di pelabuhan Suriname dipublikasikan 1926. (Foto : KITLV).

Belanda, saat itu menguasai Suriname. Karena kekurangan tenaga kerja, sedangkan perkebunan sebagai tulang punggung perekonomian mengalami kemerosotan tajam. Belanda lantas mengirimkan orang Jawa sebagai tenaga kontrak ke Suriname. Hampir seluruh buruh kontrak didatangkan dari Jawa Tengah. Sedikit dari Jawa Timur dan Jawa Barat.

Kelompok imigran Indonesia pertama direkrut “De Nederlandsche Handel Maatschappij” sebanyak 94 orang. Mereka tiba di Suriname pada 9 Agustus 1890. Bekerja di perkebunan tebu dan perusahaan gula Marrienburg. Kelompok imigran kedua didatangkan oleh perusahaan yang sama pada 1894. Terdiri dari 582 orang Jawa.

Mulai 1897 imigran dari Indonesia dikelola pemerintah Hindia Belanda. Sejak 1890-1939 tercatat 32.956 orang imigran dengan 34 kali pengangkutan.  Perjanjian kontrak kerja, buruh berhak kembali ke Indonesia saat habis masa kontrak.

Buruh kontrak dari Jawa bekerja di kebun kapas di Suriname sekitar 1920. (Foto : KITLV).

Pada 1890-1939 tercatat 8.120 orang telah kembali. Pada 1947, tercatat 1.700 orang dan terakhir pada 1954 sejumlah 1.000 orang. Sebagian besar buruh kontrak yang telah habis masa kontrak memilih tinggal di Suriname sebagai pekerja bebas hingga saat ini.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini