Kisah Toleransi Lintas Iman di Haul Bung Karno

kisah-toleransi-lintas-iman-di-haul-bung-karno
Haul Bung Karno menyatukan umat, meski berbeda suku bangsa, dan agama mereka turut menghadiri haul dan kenduri. (Terakota/Balqis Terria C.)

Reporter : Balqis Terria C

Terakota.id-Keheningan kawasan Makam Bung Karno Jalan Ir. Soekarno No.152, Bendogerit, Sananwetan, Kota Blitar mendadak ramai. Ribuan orang meriung di area makam sejak pukul 05.00 WIB, Kamis 20 Juni 2019. Sekitar 300 an orang duduk bersila, bersimpuh mengenakan kopiah, bersarung dan berbaju koko. Masing-masing memegang kitab suci Al-Quran. Mereka tengah mengikuti semaan Al-Quran membuka Haul Bung Karno ke 49.

Dilanjukan manakib dan pembacaan surat Tabarok. Beranjak siang, tak hanya umat muslim umat dari berbagai agama berdatangan. Mereka berkumpul, terdiri dari pemuka agama lintas iman. Berbaur, mereka secara bergilir memanjat doa sesuai keyakinan agama masing-masing.

Setiap pemuka agama merapal doa, memanjat puja dan puji kepada Tuhan. Mendoakan sang Proklamator, Presiden pertama Indonesaia, Sukarno. Do’a lintas agama meliputi agama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu menambah kesakralan Haul Bung Karno. Masing-masing umat berdo’a dengan khusuk.

kisah-toleransi-lintas-iman-di-haul-bung-karno
Umat Islam berdoa di pusara Putra Sang Fajar. Duduk bersila mereka memanjat doa untuk Sang Proklamasi, Sukarno. (Terakota/Balqis Terria C.)

Do’a bersama di haul Bung Karno menjadi sarana merekatkan ikatan toleransi antara umat bergama. Tiada henti, do’a  dipanjatkan. Umat Islam mengenakan pakaian muslim, bersarung, mengenakan baju koko dan kepala bertutup songkok. Sedangkan umat Hindu laki-laki mengenakan pakaian kamen atau sarung, udeng dan safari berwarna putih. Sementara perempuan mengenakan kebaya dan kain jarik warna senada, putih.

Biksu umat Hindu duduk bersimpuh di depan makam, mengenakan jubah berwarna oranye kekuningan. Seragam, mereka duduk tepekur merapal do’a tepat di depan pusara sang Proklamator. Aneka jenis bunga  menghias di atas makam Bung Karno. Secara bergantian dilanjutkan umat Kristen, Katolik dan Konghucu.

kisah-toleransi-lintas-iman-di-haul-bung-karno
Pemuka agama Hindu memimpin doa di makam Bung Karno. Doa lintas iman bergilir dipanjat untuk Presiden pertama Sukarno. (Terakota/Balqis Terria C.)

Pukul 04.00 WIB  dilanjutkan pembacaan surat yasin dan tahlil bersama di Istana Gebang. Pembacaan surat yasin dan tahlil dipimpin pemuka agama, diikuti warga sekitar Istana Gebang. Tahlil tak hanya diikuti kaum adam saja, banyak perempuan mengikuti tahlil.

Mereka terpisah dalam ruangan yang berbeda. Suana religius kental terasa dalam haul Bung Karno. Juni dikenal juga dengan sebutan Bulan Bung Karno. Lantaran Bung Karno lahir dan wafat di bulan Juni. Termasuk lahir Pancasila yang dicetuskan Bung Karno.  

Sepanjang Juni digelar beragam kegiatan mulai Grebek Pancasila, Blitar Creative Festival, Proklamator Run, Lomba Melukis Seribu wajah Bung Karno, Teater Bung Karno, Dialog Kebangsaan, Lomba Karya Ilmiah Literatur, dan puncaknya Haul Bung Karno dan Ziarah Kebangsaan.

Kepala bidang pengelola kawasan wisata makam Bung Karno, Heru Santoso mengatakan warga Blitar dan pengunjung berziarah karena sangat menghormati Bung Karno, Bahkan pelaku wisata juga memanfaatkan momen ini dengan menyediakan paket wisata khusus. “Kenduri ini untuk mengapresisasi dan penghargaan buat Bung Karno atas jasanya untuk Negara Republik Indonesia,” ujarnya.

Ritual do’a silih berganti, namun warga dari berbagai belahan Nusantara hadir berziarah. Mereka hilir-mudik, silih berganti berdoa untuk Putra Sang Fajar. Mereka datang secara bergelombang, berombongan. Hari menjelang sore jumlah pengunjungpun ikut surut. Hingga adzan maghrib berkumandang.

Seribu Tupeng untuk Bung Karno

Usai salat maghrib, warga Blitar berdatangan. Sekitar seribu tupeng siang tersaji. Berisi nasi tumpeng, lengkap dengan ayam, aneka lauk pauk dan sayur. Mereka duduk bersimpuh di atas karpet merah sepanjang dua kilometer mulai di depan makam Bung Karno sampai Istana Gebang. Sebuah panggung berdiri di depan makam Bung Karno.

Kenduri Akbar 1000 tumpeng, dihadiri ribuan orang. Tua muda, laki dan perempuan tumpek blek di sini. Kenduri dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Quran. Pelaksana Tugas Walikota Blitar Santoso memberikan pidato sambutan. Ia menyampaikan kenduri menjadi simbol kebersamaan, kerakyatan dan kegotong-royongan.

“Bung Karno berpesan, Bangsa Indonesia dulu diadu domba dengan politik devide et impera. Kini ada pihak yang menginginkan Indonesia kembali terpecah belah. Jangan lupakan sejarah, kesampingkan segala kepentingan kelompok,” ujar Santoso dalam sambutannya. 

Sementara mewakili keluarga Bung Karno, hadir putri Sukmawati Soekarno Putri. Ia menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Blitar yang saban tahun menggelar haul. Haul menjadi sebuah penghormatan tinggi bagi ayahnya. Sukmawati melanjutkan dengan membaca puisi berjudul Ayah.

kisah-toleransi-lintas-iman-di-haul-bung-karno
Para pejabat pemerintahan, militer, polisi dan pemuka agama memimpin acara kenduri seribu tumpeng haul Bung Karno. (Balqis Terria C.)

Puisi ditulis mendiang suaminya, almarhum Muhammad Hilmy Syarief. Puisi dibacakan untuk mengenang mendiang Bung Karno sekaligus mendiang Hilmy Syarief. “Almarhum meninggal karena sakit. Puisi ditulis karena sangat mencintai dan menghormati mertuanya. Sukarno,” kata Sukmawati.

Usai membacakan puisi, Sukmawati mengungkpakan rasa kagum terhadap mendiang Bung Karno dengan nama kecil Koesno Sosrodihardjo. Selanjutnya, pelaksana tugas Wali Kota Blitar Santoso memulai pemotongan tumpeng, diikuti para undangan dan masyarakat setempat.

Suasana meriah, masyarakat duduk melingkar mengelilingi tumpeng. Mereka duduk berdampingan bersama, teman, tetangga atau orang yang baru pertama kali bertatap muka. Berbeda suku bangsa, dan agama. Semua membaur menjadi satu.

Salah seorang warga Atonah, datang berombongan bersama keluarga dari Pekalongan. Ibu ini datang untuk berziarah mendo’akan Bung Karno. Rutin, saban tahun mengikuti haul. Bahkan ia tiba sejak pagi di area makam Bung Karno.

Menikmati nasi tumpeng dengan aneka lauk dan sayur menambah keakraban masyarakat. Berbaur dan tak ada sekat, kelompok, agama maupun golongan. Banyak pedagang makanan dan cindera mata menjajakan jualan selama haul Bung Karno. Namun ada pula yang memilih jeda sebentar, rehat dari rutinitas pekerjaan. Seperti Eli yang datang bersama keluarga libur dari kerjaan dan memilih mengikuti kenduri.

“Senang, haul Bung Karno menjadi ajang silaturahmi rakyat,” ujarnya. Usai menyantap tumpeng berjamaah, dilanjutkan tausiah dan do’a bersama. Lantunan do’a terdengar menggema melalui pengeras suara. Terdengar sampai radius sekitar dua kilometer.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini