Kisah Toleransi di Taman Persahabatan Turki-Hungaria

Oleh : Maharani*

Terakota.id–Perjalanan saya kali ini mengunjungi kota bersejarah Szigetvar. Terdapat tempat monumentalis seluas satu kilometer persegi yang disebut ”Hungary-Turkish Friendship Park”. Terletak di Desa Cserto dibangun atas inisiatif dan dukungan pemerintah Turki pada 1994.

Szigetvar berjarak sekitar 220 kilometer atau sekitar tiga jam dari Ibukota Budapest, Hungaria menuju perbatasan Kroasia.  Szigetvar merupakan rangkaian jalan masuk pasukan Ottoman Turki dari perbatasan Kroasia-Hungaria di kota Mohacs pada 1526.

Taman dibangun untuk didedikasikan dan memperingati Hari Ulang Tahun ke 500 Sultan Suleyman dan peringatan pertempuran di Szigetvar pada 1566. Sebuah pertempuran antara pasukan Kerajaan Ottoman Turki dan pasukan gabungan Hungaria/Kroasia.

Diresmikan pada 1996 oleh Menteri Pendidikan Hungaria, Gabor Fodor dan Presiden Turki Suleyman Damirel. Dikerjakan oleh Turkish Cooperation and Coordination Agency.  Taman tersebut dikelilingi sawah dan kebun penduduk. Terletak tepat di pinggir jalan dengan gerbang pagar bermotif relief khas Turki dengan logo bendera kedua negara.

Halaman parkir luas, tertata rapi. Terdapat monumen batu dikelilingi 22 papan informasi. Berisi informasi dan penjelasan bersejarah mengenai kronologis kejadian pada 1566 dan penjelasan terkait lainnya.

Dua patung raksasa kepala Sultan Suleyman (Raja Ottoman Turki) dan patung kepala Jenderal pasukan Hungaria Zrinyi Miklos berdiri di tengah taman. Patung karya pematung tersohor Turki, Metin Yurdanur. Dihiasi lambang masing-masing keyakinan yaitu bulan bintang merepresentasikan Islam) dan Salib untuk umat Kristen.

Keduanya berdiri berdampingan. Menunjukkan kerukunan dan persahabatan dalam beragama.  Sebelah kanan taman berdiri bangunan sumber air minum yang dilapisi keramik Turki asli.

Terakhir di ujung jalan terdapat makam  Sultan Suleyman yang tewas pada pertempuran 1566 di Szigetvar. Konon isi perut, jantung dan hati Sultan dikubur dimakam ini dan jasadnya dibawa ke Konstantinopel (Istanbul sekarang).

Saya terdiam lama, membayangkan peristiwa pada abad ke 16. Bagaimana kehebatan pasukan Ottoman Turki bisa menguasai Eropa. Teringat ramalan Nabi Muhammad SAW, Ottoman adalah kekaisaran terbaik di jamannya.

Sebaik-baiknya pemimpin dan pasukan akan lahir dari wilayah itu kata Rasulullah. Tiada diragukan menikmati keindahan taman monumentalis simbol persahabatan  kedua negara Turki dan Hungaria. Ini adalah pengalaman tak terlupakan.

Zrinyi Castle

Setelah mengunjungi Taman Persahabatan, saya sempat mengunjungi Zrinyi castle di Szigetvar. Benteng dibangun antara 1420 sampai 1440. Terkenal dengan pertempuran di Szigetvar.

Sebanyak 2.300 pasukan gabungan Hungaria-Kroasia dipimpin Jenderal Zrinyi Miklos menghadapi pasukan Turki yang lebih besar jumlahnya. Benteng akhirnya jatuh ke tangan pasukan Ottoman setelah bertahan selama sebulan.

Setelah penaklukan, pihak Ottoman membangun masdjid dan Minaret di tengah benteng sebagai peninggalan sejarah berharga. Bangunan itu masih dipertahankan sampai kini dengan minaret yang menghadap Mekah. Ruang utama sholat terdapat tulisan kaligrafi berbahasa Arab.

Halaman luar banteng terdapat patung modern. Saya meyakini itu perlambang jari telunjuk saat beribadah sholat menyebut asma Allah. Tiada Tuhan selain Allah. Benteng ini sangat megah dan luas. Dikelilingi dinding tebal berlapis batu dan bata merah terlihat khas peninggalan kerajaan Turki. Kebesaran Kekaisaran Ottoman saat berkuasa.

 

Bangsa Turki mulai berimigran ke Hungaria sejak zaman pendudukan Ottoman di Hungaria (1541-1699).  Sedang gelombang kedua imigrasi terjadi pada akhir abad ke 19 ketika hubungan antara kerajaan Ottoman dan Kerajaan Austro-Hungarian semakin berkembang. Kebanyakan berdiam di Budapest.

Seiring berjalannya waktu dan hubungan kedua negara yang semakin erat, saat ini banyak bangsa Turki menetap di Budapest. Mereka berwirausaha di bidang rumah makan kebab/gyros. Sebagai masyarakat muslim mereka berbaur dengan masyarakat lokal Hungaria.

Perkembangan terakhir pemerintah Turki tengah memproses rencana pembangunan mesjid agung empat tower di Budapest. Keempat masjid merupakan hadiah dari pemerintah Turki kepada Hungaria. Sebagai tanda persahabatan yang erat antar kedua negara. Sekaligus bentuk perhatian Pemerintahan dibawah kepemimpinan Presiden Erdogan.

Minaret Tunggal di kota ERD

Dalam perjalanan  kembali ke Budapest, sekitar 20 kilometer sebelum masuk kota Erd saya mampir melihat satu dari tiga minaret peninggalan jaman Ottoman yang tersisa. Bangunannya masih utuh. Sebagai seri peninggalan sejarah kejayaan Ottoman di Hungaria.  Minaret di Erd (Erdi Minaret) terletak di O-Falu (Kota tua).

Setinggi 23 meter dengan teknik 12 siku yang kokoh. Terbuat dari bahan sandstone, seperti yang terdapat di kota Eger dan Pecs. Saya masuk dan naik ke lantai atas melalui puluhan tangga yang membawa ke puncak minaret. Di sini saya dapat melihat pemandangan rumah penduduk di sekitarnya.  Minaret ini merupakan satu-satunya peninggalan sejarah jaman Ottoman yang sangat penting di kota Erd.

Masdjid Gul Baba

Selain Szigetvar dan Erd, saya menyempatkan mengunjungi Masdjid dan Museum Gul Baba. Gul Baba yang wafat pada 1514. Museum dibangun karena jasanya mendampingi Sultan Suleyman ”The Magnificent selama invasi ke Eropa. Museum merupakan bangunan peninggalan bersejarah paling terkenal di Budapest.  Sultan Suleyman juga mengangkat Gül Baba sebagai Wali (Orang Suci) di kota Budapest.

Masdjid dan thomb Gul Baba terletak di Jalan Masdjid (Mecset Street), di kawasan distrik Rozsadomb, Buda, Budapest. Dibangun sekitar 1543-1548 atas perintah Pasha III yang tetap bertahan. Bangunan tidak dirusak ketika pasukan Habsburg menduduki kawasan tersebut selama pertempuran Buda kedua tahun 1686.

 

Masjid sempat diubah menjadi gereja katolik dengan nama St Joseph Chapel. Gul Baba direstorasi beberapa kali yaitu pada tahun 1885, 1960, 1990 dan 2017 sampai sekarang. Bangunan komplek sudah menjadi milik Republik Turki. Patung Gul Baba, dibuat oleh Metin Yurdanur pematung tersohor Turki di halaman komplek Gul Baba.

Budapest, Juli 2018

*Pelukis dan traveler

Surel : dwirachmatikamaharani@gmail.com
FB : Maharani Art
IG : Pavilionsix

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

 

Tinggalkan Balasan