Kisah Toleransi dari Kaki Bromo

Unan-unan berasal dari bahasa Tengger Nguna artinya menarik atau melengkapi bulan yang hilang agar kembali utuh. Upacara Unan-unan digelar agar masyarakat desa setempat terjaga keselamatan, dan dijauhkan dari malapetaka. Berharap tak ada wabah penyakit, maupun kejahatan.

Terakota.id-Ngatiman, 55 tahun terjaga dari tidur. Waktu menujukkan pukul 03.00 dini hari. Bergegas ia bersalin mengenakan peci, sarung dan kemeja putih. Bersama anak dan istrinya, ia bersantap sahur. Duduk meriung di tungku, sembari menikmati makan sahur. Tungku selain menjadi tempat memasak juga berfungsi ganda menjadi perapiah untuk mengusir hawa dingin yang menusuk tulang.

Suhu udara 0-20 derajat celsius, berada di ketinggian 2.200 meter di atas permukaan laut (m.dpl) berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Usai santap sahur, ia berjalan menuju masjid Al-asfiya Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, selemparan batu dari rumahnya.

“Sahur…..sahur….sahur….,” suara Ngatiman menggema dari pelantang masjid membangunkan umat Islam untuk makan sahur.

Saban Ramadan, ia bergantian dengan muadzin lain untuk membangunkan warga Ngadas agar tak terlambat makan sahur.  Masuk waktu salat subuh, Ngatiman mengumandangkan adzan mengajak salat subuh berjamaan. Para jamaah berdatangan, mengikuti salat subuh berjamaah. Sebagian membungkus tubuh dengan jaket tebal, maklum saat subuh suhu udara dingin.

Usai salat, imam salat subuh memberikan kuliah tujuh menit. Hari ini membahas tuntutan salat, melanjutkan pembahasan selama hari sebelumnya. Antusias, seluruh jamaah mendengarkan ceramah. Duduk bersila mereka khusuk mendengarkan, tak ada yang beranjak sampai ceramah berakhir.

Pagi itu, usai salat subuh Ngatiman berganti pakaian kaos lengan panjang, celana panjang, mengenakan topi dan bersepatu but. Ia siap bekerja di ladang, merawat tanaman kentang yang memasuki masa berbuah sehingga butuh perawatan ekstra. Selama tiga jam berkutat dengan tanaman kentang, Ngatiman bergabung dengan warga Ngadas lainnya yang tengah menyembelih kerbau.

Dukun Sepuh suku Tengger Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Sutomo menuntun seekor kerbau, Rabu 30 Mei 2018. Puluhan anak-anak mengiringi di belakang. Sedangkan para pemuda dan orang tua menyiapkan tempat penyembelihan kerbau di lahan terbuka. Lokasinya dikelilingi kebun sayuran warga setempat.

kisah-toleransi-dari-kaki-bromo
Dukun Sepuh Ngadas, Utomo menyembelih kerbau untuk kurban upacara Unan-unan. (Terakota/Eko Widianto).

Dukun Sutomo menyembelih kerbau  untuk sesaji dalam upacara Unan-unan yang akan dilangsungkan 31 Mei 2018. Kerbau disembelih, daging kerbau siap diolah di rumah Kepala Desa Ngadas, Mujianto. Sedangkan kulit, kepala, dan kaki dibiarkan untuh dipersembahkan saat upacara Unan-unan.

Giliran para ibu-ibu bekerja mengolah daging kerbau. Menyiapkan aneka sesaji yang akan persembahkan dalam upacara Unan-unan. Sesaji berupa 100 tusuk sate dari olaha daging kerbau, 100 jajanan pasar dan 10 tumpeng. “Umat Islam tetap puasa Ramadan,” kata Dukun Utomo.

Berpuasa, Waisak dan Galungan

Rumah umat Hindu bersolek, setiap rumah berdiri Penjor. Tiang bambu menjulang, berhias janur kuning dengan ornamen indah. Aneka hasil bumi, bergelantungan menghias penjor. Umat Hindu memasang penjor sejak beberapa hari lalu, memperingati Hari Raya Galungan. Beranjak siang, seluruh umat Hindu berjalan beriringan menuju Pura Sapto Argo.

kisah-toleransi-dari-kaki-bromo
Seorang penunggang kuda melintasi jalan Desa Ngadas, rumah umat Hindu dihias penjor merayakan Galungan. (Terakota/Eko Widianto).

Umat Hindu laki-laki mengenakan kemeja putih, berudeng dan mengenakan kain jarik. Sedangkan perempuan berkebaya, mengenakan kain jarik, dan sebagian bersanggul. Sembari menenteng sesaji berisi aneka buah di atas nampan. Total umat Hindu sekitar 144 jiwa dari total populasi Ngadas sebanyak 2013 penduduk. Sekitar 50 persen Buddha dan 40 persen beragama Islam.

Pura Sapto Argo dipenuhi umat Hindu, mereka duduk bersimpuh di dalam pura. Khusuk mereka beribadah Hari Raya Galungan. Termasuk anak-anak yang diajak untuk turut beribadah. Ritual persembahyangan dipimpin pemuka Hindu setempat.  Selemparan batu dari Pura, umat Buddha Jawa Sanyata berkumpul di Vihara setempat. Mereka tengah menyiapkan sembahyang Reboan setiap Rabu. Sedangkan umat Islam tengah beribadah salat dzuhur di musala dan masjid setempat.

“Toleransi sudah mendarah daging, secara alami. Mengikuti pesan para orang tua dan leluhur, secara turun temurun. Pesan orang tua lebih tinggi nilainya dibandingkan guru spiritual,” kata Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Ngadas, Timbul Oerip.

kisah-toleransi-dari-kaki-bromo
Umat Hindu bersembahyang Hari Raya Galungan di pura desa setempat. (Terakota/Eko Widianto).

Pesan leluhur melekat, dijaga dan diamalkan sampai sekarang. Rabu, 30 Mei 2018 menjadi hari istimewa bagi warga Ngadas. Lantaran umat Hindu merayakan Galungan, umat Buddha Selasa kemarin merayakan Waisak dan umat Islam beribadah puasa Ramadan. “Galungan, Waisak dan puasa berurutan. Besok semua umat mengikuti upacara adat Unan-unan meminta keselamatan kepada Tuhan,” kata Timbul.

Kebersamaan, dan toleransi terpatri dalam jiwa setiap umat beragama di Ngadas. Ketiga umat, bergotong-royong membantu pembangunan masing-masing tempat ibadah. Vihara dibangun 1985, disusul Pura pada 1986 dan masjid dibangun 1987. Semua umat berbaur, bersama-sama membantu pembangunan sarana ibadah.

Mereka mengikuti pesan orang tua untuk menjaga hubungan lintas iman dan hidup rukun. Sedangkan upacara adat suku Tengger sekaligus menjadi perekat bagi ketiga agama. Suku Tengger mengenal upacara adat meliputi Karo, Unan-unan, Barikan, dan Yadnya Kasada.

Pemuka Buddha di Ngadas, Ponadi menjelaskan kerukunan umat beragama tak terlepas dari peran Kepala Desa Mujianto yang sekaligus berperan sebagai  Kepala Adat. Agama ditempatkan sebagai keyakinan setiap individu, namun seluruh masyarakat suku Tengger harus terlibat dan aktif dalam melestarikan adat budaya.

kisah-toleransi-dari-kaki-bromo
Umat Buddha Jawa Sanyata melintas di depan musaha dan pura. Mereka menghadiri persembahyanganRebuan di vihara setempat. (Terakota/Eko Widianto)

Terutama upacara adat yang rutin diselenggarakan suku Tengger yang bermukim di lereng Gunung Bromo. Secara administratif tersebar di Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Probolinggo. “Setiap agama punya tuntutan sendiri. Kenapa bertengkar? Kenapa gegeran?,” kata Ponadi.

Selama ini di Ngadas tak pernah ada konflik antar umat beragama. Semua rukun setiap umat bebas beribadah sesuai keyakinan. Sedangkan umat agama lain menghormati ibadah masing-masing. Sedangkan saat upacara adat, semua tokoh agama berkumpul terlibat dalam adat budaya setempat.

“Semua orang Ngadas adalah keluarga, saudara. Tetap tentram dan rukun. Tak ada masalah agama,” ujarnya.

Kepala Desa Ngadas Menjadi Teladan dan Panutan

Kepala Desa Mujianto mengatakan secara legalitas,  suku Tengger di Ngadas memeluk agama Hindu, Budhha dan Islam sejak 1970-an. Setelah pemerintah hanya mengakui lima agama. Sementara keyakinan masyarakat setempat sebagai agama lokal tak diakui.  “Ada yang memeluk Buddha, Hindu dan Islam,” ujarnya.

Selama ini tetap berdampingan, hidup rukun tak ada konflik agama. Mujianto mempraktikkan hidup berdampingan dan rukun bersama dengan agama lain. Ia tinggal serumah bersama Ibunya yang memeluk Buddha dan mertuanya beragama Hindu.

“Berurutan Ibu melaksanakan Waisak, mertua beribadah galungan dengan menyiapkan sesaji. Sementara saya, anak dan istri tetap melaksanakan puasa,” ujarnya. Hidup bersama saling menghormati ibadah dan tak mempermasalahkan keyakinan masing-masing.

Usai umat Islam salat tarawih, seluruh tokoh adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat tokoh masyarakat berkumpul di rumah Kepala Desa Ngadas, Mujianto. Duduk meriung di depan sebuah meja berisi aneka makanan, buah dan kudapan. Mereka tengah menggelar upacara mepek, artinya melengkapi kebutuhan upacara Unan-unan.

kisah-toleransi-dari-kaki-bromo
Sesaji lengkap untuk upacara Unan-unan. (Terakota/Eko WIdianto).

Dukun muda Senetran memimpin doa, dia merapal mantra berbahasa Tengger. Usai mepek, bergantian mereka makan bersama dengan aneka makanan yang terhidang. “Berdoa berharap Tuhan memberi keselamatan sampai hajatan Unan-unan selesai,” kata Senetran.

Sementara istri mereka tengah berkutat di dapur memasak daging kerbau, makanan dan kudapan. Termasuk menyiapkan aneka sesaji. Kerbau dikurbankan, lantaran kepercayaan suku Tengger kerbau merupakan hewan yang pertama muncul di Bumi.

Malam ini, mereka bergotong-royong menyiapkan upacara sakral ini. Mengesampingkan perbedaan agama. Adat menjadi pemersatu dan menjaga kerukunan antaragama. Semua antusias,  termasuk umat Islam yang tengah berpuasa.

“Adat terjaga karena kekuatan masyarakat yang mencintai adat.  Masih berpegang teguh adat istiadat. Tak peduli siapapun Kepala Desa dan dukunnya.”

Ritual Unan-unan dilangsungkan selama lima tahun sekali. Tujuannya untuk menetralisir energi negatif di bumi. Sesuai penanggalan Tengger, setiap dua bulan ada satu hari yang hilang. Sehingga selama lima tahun genap 30 hari atau sebulan yang hilang.

Unan-unan berasal dari bahasa Tengger Nguna artinya menarik atau melengkapi bulan yang hilang agar kembali utuh. Upacara Unan-unan digelar agar masyarakat desa setempat terjaga keselamatan, dan dijauhkan dari malapetaka. Berharap tak ada wabah penyakit, maupun kejahatan.

Usai salat subuh Ngatiman tak langsung bekerja di ladang merawat tanaman kentang. Ia bergegas ke rumah tetangganya bertakziah, seorang umat Hindu  meninggal. Ngatiman tak sendirian, ia bersama umat Islam yang membantu proses pemakaman. Mulai menyiapkan perlengkapan untuk upacara pemakaman hingga proses pemakaman di pemakaman desa setempat.

“Namanya kerukunan, saya terlibat pemakaman umat Hindu. Yang penting kebersamaan. Upacara pemakaman mengikuti keyakinan sendiri, saya tak terlibat,” kata Ngatiman. Beranjak siang, seluruh warga desa setempat mengiringi jenazah ke pemakanan desa. Suasana kebersamaan dan gotong-royong sangat kental terasa.

Sesampai di area pemakaman, Ngatiman ikut membantu menurunkan jenazah ke liang lahat. Setelah jenazah tertutup tanah, tikar gelar di atas pusara. Sesaji berupa ingkung ayam goreng, kopi dan pisan diletakkan ditata. Pemuka Hindu duduk bersila, merapal mantra berdoa untuk jasad yang dimakamkan.

kisah-toleransi-dari-kaki-bromo
Dukun merapal mantra saat pemakaman umat Buddha Jawa Sanyata di pemakaman desa. (Terakota/Eko Widianto).

Sekitar seribu orang mengiringi hingga pemakaman. Ritual pemakaman usai digelar, Kamituwo atau pegawai Pemerintah Desa setempat, Pergianto menyampaikan pesan keluarga yang  berduka. Mengundang para petakziah untuk makan di rumah. “Kecuali yang berpuasa, kami mengundang semuanya untuk makan di rumah duka,” kata  Pergianto.

Sesuai adat, kata Ngatiman, keluarga yang meninggal menyediakan makanan bagi para petakziah. Namun, saat bertepatan dengan bulan puasa demi menjaga toleransi hanya mengundang yang tak berpuasa. “Alhamdulillah selama ini tak ada hambatan menjalankan ibadah. Salat, puasa dan tarawih tetap lancer,” ujar Ngatiman.

Unan-unan dan Nilai Konservasi

Usai prosesi pemakaman semua warga  bergegas ke rumah Kepala Desa Ngadas Mujianto untuk memulai prosesi upacara Unan-unan. Seluruh sesaji lengkap ditempatkan di atas ancak atau keranda bambu yang beralas kulit kerbau, lengkap dengan kepala dan kaki. Ancak dihias dengan aneka bunga.

Upacara Unan-unan dilangsungkan Kamis, 31 Mei 2018. Ribuan masyarakat berkumpul di depan rumah Kepala Desa Ngadas. Sebuah ancak berisi kepala kerbau dilengkapi dengan sate, jajanan pasar dan tumpeng ditandu. Masyarakat suku Tengger mengenakan pakaian adat, bercelana hitam, kemeja hitam dan udeng penutup kepala khas Tengger.

Sesaji ditandu, diarak-arakan masyarakat menuju Pura Pamujan. Pemangku adat, Kepala Desa dan tokoh agama berada di barisan terdepan. Musik tradisional Tengger mengiringi setiap langkah arak-arakan pembawa sesaji. Perpaduan bunyi seruling, gong dan kendang harmoni mengundang siapa saja untuk hadir mengikuti ritual Unan-unan.

kisah-toleransi-dari-kaki-bromo
Pemuka adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat mengikuti upacara Unan-unan. (Terakota/Eko WIdianto).

Sesampai di Pura Pamujan, semua sesaji di letakkan di atas alas. Menghadap sesaji, pemangku adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat duduk bersimpuh beralas karpet. Dukun Sepuh, Sutomo merapal mantra. Khidmat semua mendengarkan mantra atau doa yang dipanjatkan.

Masyarakat setempat berdiri, di sekitar areal Pura Pamujan. Berdesak-desakan melihat dari dekat prosesi ritual Unan-unan. Usai Dukun Sepuh Utomo merapal mantra, seluruh warga suku Tengger berebut sesaji. Mereka berharap sesaji membawa keberkahan dan keselamatan.

Pakar Hukum Universitas Widyagama Malang yang juga meneliti budaya suku Tengger, Purnawan D. Negara menuturkan semua agama mendukung ritual adat Tengger. Awalnya, seluruh suku Tengger menganut Hindu Kuna atau Buddha Jawa Sanyata. Namun, setelah Negara hanya menetapkan lima agama, keyakinan agama Buddha Jawa Sanyata tak diakui.

Sehingga mereka memilih agama Buddha dan Hindu yang secara tata cara keagamaan menyerupai. Belakangan guru agama Hindu dari Bali dikirim ke Tengger, sebagian anak muda belajar pendidikan agama Hindu di Bali. Termasuk belajar agama Buddha yang difasilitasi Perwakilan Umar Buddha Indonesia (Walubi).

Sedangkan upacara Unan-unan merupakan ritual untuk mendoakan seisi alam semesta. Meminta maaf kepada gunung, sumber air, dan sungai. “Inti ritual suku Tengger adalah pemujaan kepada alam. Nilai kultural ini harus dirawat Negara,” kata Purnawan yang juga Dewan Daerah Wahana Lingkungan Jawa Timur.

Ritual suku Tengger merupakan bagian dari menjaga alam, memiliki nilai-nilai merawat alam. Jika tak dirawat bakal mengancam kerusakan alam.  Kerusakan nilai kultural Tengger, katanya, akan mengancam dan merusak nilai ekologi.

“Kita memiliki budaya menjaga lingkungan. Indonesia adalah mega culture diversity country dan mega diversity country. Sayang kebijakan hanya bertumpu kepada kekayaan keanekaragaman, melupakan perlindungan nilai budaya.”

kisah-toleransi-dari-kaki-bromo
Petani menyemprot tanama bawang dengan pestisida untuk mengusir hama dan penyakit. (Terakota/Eko Widianto).

Sementara sektor pariwisata hanya memandang budaya tengger sebagai aksesoris belaka. Sedangkan bagi warga suku Tengger Bromo memiliki makna kultural ritual Tengger. Jika pariwisata juga tak ikut menjaga nilai budaya akan mengundang bencana kultural dan bencana ekologi.

Usai mengikuti upacara Unan-unan, Ngatiman kembali berladang. Merawat tanaman kentang dengan tekun. Upacara Unan-unan menjadi media untuk melestarikan adat budaya. Agar tanaman kentang mendapat hasil optimal, ia berusaha menyiangi rumput, menebar binih terbaik dan mengusir hama. Tak lupa senantiasa memanjat doa di masjid Al-asfiya.

 

 

Tinggalkan Balasan