Kisah Toleransi dari Kaki Arjuna

SMA Selamat Pagi Indonesia berdiri di lahan seluas 15 hektare. Para siswa berasal dari keluarga yatim piatu dan miskin, yang mendaftar diseleksi secara administrasi.  Komposisi siswa sesuai demografi Indonesia terdiri dari 40 persen Islam, 20 persen Kristen, 20 persen Katolik, Hindu 10 persen dan Buddha 10 persen.

Terakota.id–Adzan subuh berkumandang, seluruh siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Selamat Pagi Indonesia beranjak dari tempat tidur. Mereka merapikan tempat tidur, dan membersihkan ruangan di sekitar asrama. Tak menghiraukan udara dingin yang menusuk tulang, mereka bergegas keluar asrama yang berada di Jalan Pandangrejo Nomor 1, Bumiaji Kota Batu, Jawa Timur. Tepat berada di lereng Gunung Arjuna. Menuju kamar mandi, membersihkan tubuh. Khusus siswa beragama Islam dilanjutkan dengan berwudhu.

Tak hanya siswa beragama Islam yang menunaikan ibadah pagi hari ini. Seluruh siswa Kristen, Katolik, Buddha, dan Hindu turut berdoa dan beribadah. Erna Reti Welerubuni, 18 tahun, siswa kelas 12 asal Nabire Papua ini bergabung dengan siswa beragama Katolik lain bersembahyang. Mereka melakukan doa, bersembahyang dan salat bersama-sama.  Tersedia musala, gereja, kapel, vihara dan pura di dalam lingkungan sekolah. Lokasi tempat ibadah berdekatan, mereka khusuk berdoa.

“Saya juga mengingatkan teman muslim untuk tak lupa menunaikan salat,” kata Erna. Suasana toleransi dan kerukunan lintas iman benar-benar terjaga. Mereka berlatih sejak dini untuk saling menghormati agama, keyakinan, budaya dan suku. Sekolah yang didirikan 10 tahun lalu hanya menerima siswa yatim piatu, dari keluarga miskin dan berasal dari agama dan suku yang berbeda.

Erna anak bungsu dari tiga bersaudara ini bersekolah di SMA Selamat Pagi Indonesia atas rekomendasi suster. Berasal dari keluarga tak mampu, Erna bertekad melanjutkan sekolah. Seluruh biaya pendidikan, asrama, pakaian dan buku disediakan secara cuma-cuma oleh Yayasan Selamat Pagi Indonesia.

Tiga gedung berwarna oranye terdiri dari tiga lantai, menjadi ruang kelas belajar dan asrama. Sejumlah ruangan semi permanen dengan ornamen dan hiasan aneka warna menarik juga menjadi sarana belajar para siswa. Sehingga siswa belajar secara serius dan menyenangkan.

Belajar Kewirausahaan

Sistem pembelajaran menggunakan moving class. Tak hanya di dalam ruangan berbentuk persegi empat, tetapi juga menggunakan sejumlah ruangan yang berbentuk oval dan bulat. Tujuannya agar siswa tak terkungkung dalam sebuah ruangan sekaligus mengasyikkan. Siswa belajar mulai pukul 07.00 sampai 15.00 WIB. Di sela istirahat makan siang para siswa juga memanfaatkan untuk melihat sejumlah hewan ternak dan tanaman sayuran yang mereka rawat.

Selain tekun bersekolah, mereka juga belajar wirausaha. Pembelajaran kewirausahaan dilakukan sacara langsung dalam kampoeng succezz. Sebuah unit usaha yang dikelola oleh para alumni dan mempekerjakan sejumlah pegawai. Mereka memiliki 16 divisi usaha meliputi biro perjalan, peternakan, pertanian, event organizer dan usaha lainnya. Erna bersama Ani Mariam asal Wamena Papua, Tirtha Claudia Elfira dari Toli-Toli kompak menyapa setiap pengunjung. Selain itu mereka mencium tangan kepada orang yang lebih tua. “Kami belajar salim di sini, kebiasaan orang Jawa menghormati orang tua,” katanya.

Tangan Sri Wahyuni, siswa kelas 11 menari di atas keybord komputer jinjing. Sesekali tangannya meraih sebuah kertas kwitansi pembayaran, matanya tajam melihat setiap angka dan memasukkan dalam tabel laporan keuangan. Dia tengah belajar akuntansi, tak hanya belajar di dalam kelas tapi langsung praktik mengerjakan laporan keuangan. “Dapat uang saku, ditabung untuk membantu orang tua,” kata siswa asal Wagir Kabupaten Malang.

Kadang dia juga menjadi pemandu wisata berkeliling ke wahana permaianan, lahan pendidikan pertanian, peternakan dan mengelilingi sekolah multikultural dan multi agama. Perempuan penganut Hindu ini rajin berdoa di pura saat pagi dan sore hari. “Saat di rumah hanya pagi saja,” katanya.

Kampanye Toleransi Melalui Seni Teatrikal

Para siswa SMA Selamat Pagi Indonesia mengaji dibimbing guru agama di
musala sekolah. (Terakota/Eko Widianto).

Setelah lulus, katanya, dia akan tetap tinggal dan bekerja di Kampoeng Succezz. Sebanyak 42 orang lulusan SMA Selamat Pagi Indonesia bertahan di sana. Mereka mengembangkan usaha yang dirintisnya secara bersama-sama sejak enam tahun lalu. Seperti Gracia Sakwalubun, alumni asal Halmahera ini menjadi koreografer.

Dia menciptakan gerakan tarian yang dipertunjukkan kepada para pengunjung. Salah satunya seni teatrikal berjudul Pesona Sang Garuda. “Saya suka menari sejak kecil,” katanya.

Kesenian teatrikal ini menceritakan konflik dan kekerasan yang terjadi di tanah air. Konflik terjadi antar suku, dalam teatrikal ini para siswa mengenakan pakaian adat nusantara. Lantas, para pemuka agama hadir untuk mempertemukan dan membangun dialog untuk menjaga persatuan. Mereka dari berbagai suku berkomitmen menjaga persatuan, dan merawat keberagaman.

Pementasan selama 20 menit, dipungkasi dengan kain raksasa berwarna merah dan putih ditarik oleh suku dan agama berbeda. Gemuruh tepuk tangan membahana usai pertujukan. Mengakhiri pementasan, para penonton diajak untuk berfoto bersama dengan latar bendera merah putih, para tokoh agama dan pakaian adat nusantara.

Pesona Garuda Nusantara dipentaskan dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional 2012 di Istora Senayan, Jakarta. Usai pertunjukan dia sering diajak berfoto bersama dengan para pengunjung. “Senang, ingin terkenal juga,” katanya tersenyum.

Prihatin, Konflik Dipicu Isu SARA

Ketua Yayasan Selamat Pagi Indonesia, Sendy Fransiscus Tantono menjelaskan sekolah didirikan Julianto Eka Putra secara spontan pada 2000. Mimpi dan semangat besar membantu sesama menjadi motivasi Ko Jul demikian Julianto biasa disapa untuk mewujudkan sekolah gratis. “Dia menyampaikan visi 2010, pada tahun itu didirikan sekolah. Ternyata lebih cepat 2007 sudah berdiri,” katanya.

Ko Jul, katanya, terketuk hatinya setelah membaca pemberitaan di sejumlah media ada anak sekolah bunuh diri karena keluarga tak mampu membiayai pendidikan. Peristiwa itu melecut pengusaha kelahiran Surabaya 8 Juli 1972 untuk segera mendirikan sekolah gratis untuk siswa miskin. Serta berlatar belakang multi kultural, multi etnis, dan multi religi.

Ko Jul merupakan Presiden Komisaris kelompok bisnis Binar Grup, memiliki 22 perusahaan terdiri dari usaha penerbitan, event organizer, biro perjalanan dan lembaga motivasi. Seluruh biaya sekolah didanai dengan menyisihkan keuntungan perusahaan Binar Grup. “Juga ada donatur,” katanya.

Wakil Kepala SMA Selamat Pagi Indonesia Didik Tri Hanggono, menjelaskan sekolah yang berdiri di lahan seluas 15 hektare ini, setiap bulan menghabiskan biaya operasional sebesar Rp 700 juta. Para siswa yang mendaftar diseleksi secara administrasi.  Komposisi siswa sesuai demografi Indonesia terdiri dari 40 persen Islam, 20 persen Kristen, 20 persen Katolik, Hindu 10 persen dan Buddha 10 persen.

“Kami memiliki lima guru agama,” katanya. Selain itu, para siswa juga berasal dari seluruh nusantara.  Tujuannya untuk membangun toleransi dan merawat kebhinekaan. Sekolah didirikan, katanya, juga karena keprihatinan atas adanya konflik di Indonesia. Apalagi konflik dipicu masalah suku, ras dan agama. Kini, total siswa mencapai 200, tahun ini menerima siswa baru sebanyak 80 orang. Tahun ini, meraih predikat sekolah dengan nilai terbaik kedua di Kota Batu.

Tinggalkan Pesan