Kisah Suku Bajo Sampela, Kampung di Atas Karang

kisah-suku-bajo-sampela-kampung-di-atas-karang
Kampung di atas karang dihuni suku Bajo Sampela. (Foto : Youtube/sayf bsy).

Terakota.idSuku bajo terkenal dengan tradisi dan budaya melaut. Mereka tersebar diperairan Sulawesi Tenggara khususnya wilayah Wakatobi. Beberapa suku Bajo yang mendiami Wakatobi antara lain Bajo Sampela, Suku Bajo Mantigola, dan Suku Bajo Loha. Suku Bajo Sampela adalah salah satu suku bajo unik tinggal di Desa Sama Bahari, Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi.

Seperti hasil penelitian Wa Ode Sitti Nurhaliza, Titis Nurwulan Suciati Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya berjudul  “Potret Sosial Budaya Masyarakat Suku Bajo Sampela di Kabupaten Wakatobi” diterbitkan Jurnal Komunikasi Universitas Garut 2019.  Rumah suku Bajo Sampela berbentuk panggung, berdiri di tengah laut berdinding kombinasi kayu dan anyaman bambu serta atap terbuat dari daun rumbia.

“Penduduk suku Bajo Sampela hidupnya dikenal dengan istilah Negeri di atas Karang,” tulis Wa Ode Sitti Nurhaliza. Sekitar 99 persen suku Bajo Sampela bekerja sebagai nelayan, mereka menggantungkan hidup di tengah laut. Orang Bajo hidup berpindah-pindah.

kisah-suku-bajo-sampela-kampung-di-atas-karang
Warga menyeret perahu di saat senja di Pulau Hoga, Kaledupa, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Sabtu (16/9). (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean).

Sebagai masyarakat pesisir, suku Bajo memiliki karakter keras, tegas, dan terbuka. Karakteristik kehidupan sosial, budaya dan ekonomi dipengaruhi pandangan terhadap kekuatan alam yang melingkari kehidupan sehari-hari.

Suku bajo awalnya tinggal di atas perahu. Seluruh aktivitas dilakukan di atas perahu. Kini, mereka mendiami rumah yang terbuat dari kayu dan anyaman bambu. Rumah ditopang tiang penyangga yang ditanam di laut serta beratap rumbia. Ukuran rumah sekitar dengan lebar lima meter dan panjang enam meter. Terdiri atas ruang tamu, dua kamar tidur dan dapur. Dihuni dua sampai empat Kepala Keluarga.

Selain dikenal memiliki keahlian melaut, suku Bajo juga memiliki beragam keterampilan. Mereka  membudidayakan rumput laut, membuat tikar dari daun pandan, membuat perahu, dan membuat rumah.

Menjadi Buruh Migran

Antropolog Universitas Hasanudin Makassar Tasrifin Tahara menjelaskan jika laut, bagi suku Bajo di Kaledupa merupakan sumber kehidupan. Pada Abab 18, nelayan Kaledupa kerap memasuki perairan Malaka (Malaysia) dan Sulu (Filipina). Pada 1970-an nelayan Kaledupa mengenal perahu motor aktivitas melaut semakin jauh, terbiasa melintasi Malaka dan Sulu.

Belakangan kini mereka menjadi buruh migran di Malaysia. Bekerja di sektor perkebunan, dan perikanan. Mereka bekerja sebagai anak buah kapal di kapal milik pengusaha Sabah, Malaysia. Selain warga Kaledupa juga ada orang Mandar, Bugis, dan warga Filipina. Pendapatan mereka sebagai ABK di kapan Malaysia lebih besar. dibandingkan menangkap ikan di Wakatobi. Namun mereka tak mendapat asuransi dan jaminan hukum.

kisah-suku-bajo-sampela-kampung-di-atas-karang
Kawasan hutan mangrove yang berbatasan dengan ladang warga di Kaledupa, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Rabu (20/9). (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean).

“Mereka memiliih bekerja di Malaysia karena keterbatasan ekonomi. Bekerja di Malaysia lebih sejahtera. Hanya bermodal paspor tak memiliki izin kerja,” katanya dalam webinar bertema  “Evolusi Kelompok Teroris Abu Sayyaf dan Kelangsungan Hidup WNI di Sabah-Malaysia” diselenggarakan Mitra Data Indonesia, Jumat 24 Juli 2020.

Warga Kaledupa di Sabah, Malaysia merupakan generasi ke dua dan ke tiga. Sebagian menikah dengan warga Negara Malaysia dan menetap di sana. Keturunannya memiliki pendidikan yang lebih baik. “Perlahan mereka akan meninggalkan tradisi maritim,” ujarnya.

Sebagian warga Kaledupa yang lahir di Malaysia tapi menjadi warga Negara Malaysia. Peneletian Tasrifin mencatat 1000 orang lebih Warga Negara Indonesia (WNI) lahir, bekerja dan tinggal di Malaysia. Orang Kaledupa, katanya, mengakau pasrah jika diculik kelompok Abu Sayyaf. “Tiba-tiba ditodong senjata. Tangan disuruh diletakkan di  kepala. Banyak peluru yang melingkar di badan penculik,” katanya.

Kelompok militan Abu Sayyaf, Filipina  menyandera sembilan nelayan asal Buton dan Wakatobi Sulawesi Tenggara akhir Januari 2020. Kesembilan nelayan tersebut bekerja di kapal penangkap ikan milik pengusaha Sabah, Malaysia. Kapal dibajak di perairan Sabah dekat dengan wilayah Filipina Selatan. Salah seorang diantaranya berusia 11 tahun.

Bertutut-turut para nelayan Wakatobi yang bekerja di kapal ikan Malaysia menjadi korban penyanderaan Abu Sayyaf. Pada 5 November 2016 dua nelayan disandera dan dibebaskan Januari 2019. Pada April 2019 dua nelayan diculik, Heri Ardiansyah dan Hariadin. Heri selamat sedangkan Hariadin meninggal tenggelam di laut. Sementara 23 September 2019 tiga nelayan turut menjadi korban penculikan.

Kabupaten Wakatobi, katanya, memiliki potensi industri perikanan. Menghadap laut Banda dan Flores. Untuk itu, harus mengundang investor dengan kapal 30 Gross Ton (GT) untuk menggali potensi perikanan yang belum optimal. Selain itu juga digerakkan industri turunannya. Sehingga usaha perikanan ini akan membuka banyak lapangan kerja.  Arus migrasi, katanya, akan berhenti jika ada fasilitas pendukung.

“Daripada disandera dan dikejar kelompok Abu Sayyaf. Mereka juga ingin hidup tenang dan bersama keluarga di Wakatobi,” katanya.

Tokoh masyarakat Kaledupa Laksamana Muda (Purn) La Ode Dayan menuturkan masyarakat Kaledupa akrab dengan laut. Mereka terbiasa berlaut sampai ke Sabah, Malaysia dengan perahu tradisional. Mereka memenuhi kebutuhan hidup dari melaut. “Badai tak menyurutkan mereka. Berbulan-bulan meninggakan keluarga. Bahkan sampai ke Singapura dan Malaysia,” katanya.

Laut menjadi harapan hidup, lantaran tanah dan bebatuan tak janjikan kehidupan bagi masyarakat Kaledupa. Laut merupakan sumber kehidupan dan menghubungkan dengan masyarakat luas. Semangat juang, keberanian dan kemampuan beradabtasi diwarisi dari leluhur Kaledupa dan Buton.

Wakil Bupati Wakatobi Ilmiati Daud mengaku bersedih turut mengantarkan jenazah Hariadin. Ilmiati turut mengantar pemulangan jenazah, derai air mata mengantar kepulangan jenazah Hariadin. Suasana duka menyelimuti kepulangan Heri Ardiansyah dan jenazah Hariadin. Ia berharap tak ada lagi korban penyanderaan. Mereka berasal dari Pulau Kaledupa, Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi.

kisah-suku-bajo-sampela-kampung-di-atas-karang
Kelompok Abu Sayyaf memebaskan tigas WNI yang diculik. Foto : Nickee Butlangan / AFP.

“Heri bercerita harus berenang di laut, temannya tenggelam karena ketakutan. Tak bisa berbuat apa-apa. Berusaha ikat, ikhlaskan temannya gugur di tengah laut,” kata Ilmi.

Sejak 2016 telah dibebaskan 36 orang nelayan asal Wakatobi yang diculik Abu Sayyaf. Dalam perkara penculikan ini, kewenangan Pemerintah Kabupaten Wakatobi terbatas. Negosiasi dan operasi pembebasan dilakukan pemerintah pusat melalui Kementerian Luar Negeri. Mereka mengadu nasib di luar negeri dengan iming-iming penghasilan lebih besar.

Sampai saat ini, banyak nelayan Wakatobi yang bekerja di kapal asing terutama pengusaha asal Sabah Malaysia. Sementara risiko tinggi, menjadi korban pembajakan oleh kelompok militan Abu Sayyaf.  Ilmiati mengajak warga wakatobi mengelola potensi perairan ikan tangkap, budidaya hasil laut dan pariwisata. “Potensi besar harus dikembangkan. Belum sepenuhnya kita manfaatkan potensi yang ada,” ujarnya.

Luas wilayah perairan laut Kabupaten Wakatobi mencapai sekitar 97 persen atau 8 ribu kilometer persegi dari total luas keseluruhan Kabupaten Wakatobi. Memiliki setidaknya 942 jenis ikan. Potensi ikan tangkap berupa jenis ikan bernilai ekonomi tinggi seperti ikan pelagis, dasar, sunu, teripang, dan  gurita. Produksi perikanan tangkap 5.952,5 ton

Pemerintah Kabupaten Wakatobi melalui Balai Rakayasa Kelautan menciptakan transmitter portable untuk mencegah pembajakan. Serta dilengkapi dengan alat deteksi dan alarm jika keluar dari batas perairan Indonesia. “Selama ini nelayan tak mengenal batas perairan Indonesia,” ujarnya.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini