Kisah Sukarno dan Sepeda Angin

Terakota.id—Menginjak usia 15 tahun, Sukarno menjejakkan kaki di Kota Surabaya demi menempuh pendidikan di Hoogere Burgerschool (HBS). Sebuah pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda. Bagi pribumi, bersekolah di HBS merupakan kesempatan langka. HBS mengutamakan pendidikan bagi orang Belanda, Eropa atau elit Pribumi.

Sukarno biaya yang harus dikeluarkan untuk bersekolah di HBS tidaklah kecil. Setiap bulan mengeluarkan biaya sekolah dan pet seragam bertuliskan HBS sebesar Rp 15. Sedangkan setiap tahun harus menyediakan biaya membeli buku Rp 75. Jumlah murid HBS dari kalangan pribumi bisa dihitung jari. Sukarno menyebut dari 300 murid HBS di tempatnya belajar, hanya 20 siswa yang merupakan anak Indonesia.

Selama menempuh pendidikan Sukarno dititipkan indekos di rumah Tjokroaminoto, Gang Peneleh VII, Surabaya. Sukarno cukup berjalan kaki menuju sekolah, menempuh jarak satu kilometer ke HBS. Seluruh murid memiliki sepeda, kecuali Sukarno. Ia berjalan kaki ke sekolah jika beruntung, ia berboncengan dengan salah seorang kawan.

Sukarno kecil mulai menabung untuk membeli sebuah sepeda. Setelah terkumpul uang tabungan dari uang sakunya Rp 8, ia membeli sepeda Fongers berwarna hitam mengkilat.

“Aku merawatnya bagai seorang ibu merawat anaknya. Aku mengelapnya, mengelus-elusnya, dan memeluknya,” tulis Sukarno dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat, mengenang.

Kamar pribadi HOS. Tjokroaminoto di museum Tjokroaminoto. (Terakota/HA. Muntaha Mansur).
Kamar pribadi HOS. Tjokroaminoto di museum Tjokroaminoto. (Terakota/HA. Muntaha Mansur).

Tjokroaminoto memiliki tiga anak antara lain Harsono, Anwar, dan Utari. Harsono tanpa meminta izin memakai sepeda kesayangan Sukarno. Tak disangka sepeda yang dikendarai menabrak sebuah pohon. Sepeda yang selama ini dielus-elus Sukarno rusak, bagian depan sepeda penyok.

Harsono ketakukan, dia tak berani mengatakan pada Sukarno. “Dan ketika aku mendengar hal itu, kutendang pantatnya dengan keras. Harsono yang malang! Dia menangis; dia berteriak,” tulis Sukarno.

Sukarno mulai menabung lagi. Setelah berminggu-minggu, uangnya terkumpul Rp 8. Ia kembali membeli sebuah sepeda. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk Harsono.

Dalam bukunya, Menelusuri Jejak Ayahku, Harsono Tjokroaminoto (1983: 40) menceritakan ada satu hal yang selalu dikenang dari Sukarno. Bukan tentang tendang menendang, Harsono selalu ingat ketika Sukarno yang mencintai seni itu akan bermain sandiwara.

Ia akan ikut sibuk mencari dua buah roti karambol dan rambut palsu. Dua buah roti karambol akan dipasang di dada Sukarno. “Sebab, kalau dulu Bung Karno dalam masa remajanya dalam bermain sandiwara selalu ingin menjadi wanita,” tulis Harsono.

Untuk menapak tilas jejak Bung Karno ketika indekos di rumah Tjokro, Anda bisa mengunjungi Museum Tjokroaminoto. Beragam barang pribadi Sukarno dipamerkan. Sebuah lemari kaca memajang pakaian tiruan yang kerap dikenakan Sukarno ketika kos di sana.

Sukarno menempati sebuah kamar di loteng yang dihubungkan dengan tangga kecil. Tangga hanya cukup dilewati satu orang. Kamar itu, menurut pemandu museum Tjokroaminoto, Ahmad Zanuar Firmansyah, diyakini sebagai kamar yang dulu digunakan Sukarno untuk tidur dan belajar.

Kini, rumah Tjokro dijadikan cagar budaya. Berlokasi di Peneleh Gang VII Nomor 29 – 31, Peneleh, Genteng, Kota Surabaya, Jawa Timur. Berjarak selemparan batu dari Kali Mas Surabaya. Museum dibuka saban hari, mulai pukul 09.00-17.00.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan