Kisah RRI Kambing Melawan Agresi Militer Belanda

Pemancar RRI Surakarta disembunyikan di sebuah kandang kambing. Siaran dilakukan di kandang kambing, suara kambing mengembik selalu terdengar di sela-sela siaran. Antena di atas pohon kelapa. Sebagian masyarakat menyebut pemancar ini pemancar radio RRI Kambing dan sebagian memberi nama Kyai Balong.

Terakota.id—Sebuah pemacar radio tua dipajang di Monumen Pers Nasional, Solo, Jawa Tengah. Patung dua ekor kambing menghiasi pemancar radio tua itu, pagar bambu mengelilingi pemancar dan kambing. Pemancar radio milik Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta ini tak bisa dilepaskan dari perjuangan kemerdekaan Indonesia.

RRI dirikan 11 September1945, dipelopori para tokoh radio yang mengoperasikan sejumlah stasiun radio Jepang di 6 kota. Perwakilan dari 6 radio menggelar rapat di rumah Adang Kadarusman Jalan Menteng Dalam, Jakarta. Rapat memutuskan mendirikan RRI dan memilih dr. Abdulrahman Saleh sebagai pemimpin umum RRI pertama.

Agresi Militer Belanda I dan II terjadi. Pasukan militer Belanda mengebom pemancar RRI di PTP Goni di Delanggu, Klaten, Jawa Tengah.  Kepala RRI Surakarta saat itu, R. Maladi, memerintahkan pegawai RRI memindahkan dan menyelamatkan pemancar RRI Surakarta.

“Pemancar radio ini disembunyikan di daerah Balong, Kecamatan Jenawi, Karanganyar. Lokasinya di lereng Gunung Lawu. Pemancar disembunyikan di dalam gua, ternyata ketahuan juga,” kata pegawai Monumen Pers Nasional bagian pelayanan informasi Andi Prabowo, kepada Terakota.id, Jum’at 24 November 2017.

Akhirnya, pemancar RRI disembunyikan di sebuah kandang kambing. Siaran dilakukan di kandang kambing, suara kambing mengembik selalu terdengar di sela-sela siaran. “Antena di atas pohon kelapa. Sebagian masyarakat menyebut pemancar ini pemancar radio RRI Kambing dan sebagian memberi nama Kyai Balong.”

Setelah aman, pemacar dikembalikan ke kantor RRI lagi. Dulu kantor RRI terletak di di gedung Societiet Sasonosuko. Sekarang menjadi gedung Monumen Pers Nasional. Pemancar RRI Kambing sebelumnya milik Solossche Radio Vereniging (SRV), di Solo. SRV berdiri pada 1933 dipelopori Ir. Sarsito Mangunkusumo. Dia merupakan salah seorang anggota paguyuban kesenian Mangkunegaran, Mardi Laras (Raras).

Baca juga :  Bertahan dari Godaan Media Siber

Pemancar radio dibeli dari hasil patungan para anggota SRV, yang merupakan wartawan Surakarta. Hasil patungan anggota SRV dapat membangun studio khusus untuk siaran radio mulai 15 September 1935 di di gedung Societiet Sasonosuko.

“Stasiun di kepatihan Mangkunegaran. Siarannya seputar Solo. Untuk melengkapi alat-alat, melalui iuran dan bantuan NIROM (Nederlandsch Indische Radio Omroep Masstchapyj),” kata Andi Prabowo menerangkan.

Setelah Indonesia merdeka, studio SRV diserahkan ke RRI Surakarta. Pemancar radio RRI Kambing saat ini menjadi koleksi di Monumen Pers Nasional, Solo, Jawa Tengah. Pengunjung bisa mengabadikan foto dan video dengan kamera.

Perjuangan Kemerdekaan Melalui Siaran Radio

Radio menjadi salah satu alat utama dalam perjuangan kemerdekaan. Karena radio bisa menyampaikan informasi dan pesan secara cepat. Masuknya teknologi radio di tanah air,  menjadi berkah sebagai alat perjuangan kemerdekaan. Radio masuk ke Indonesia pada 16 Juni 1925.

Lima tahun setelah di Amerika Serikat, tiga tahun setelah di Inggris dan Uni Soviet. Bataviase Radio Vereniging (BRV) merupakan radio pertama kali bersiaran di Indonesia (Nederlands Indie – Hindia Belanda). Radio berkantor di Batavia (Jakarta). Setelah itu, bermunculan badan-badan radio siaran lainnya; Nederlandsch Indische Radio Omroep Masstchapyj (NIROM) di Jakarta, Bandung dan Medan, Solossche Radio Vereniging (SRV) di Solo.

Di Yogyakarta ada Mataramse Verniging Voor Radio Omroep (MAVRO), Verniging Oosterse Radio Luisteraars (VORO) di Bandung, Vereniging Voor Oosterse Radio Omroep (VORO) di Surakarta, Chineese en Inheemse Radio Luisteraars Vereniging Oost Java (CIRVO) di Surabaya, Eerste Madiunse Radio Omroep (EMRO) di Madiun dan Radio Semarang di Semarang.

NIROM menjadi perkumpulan radio yang paling besar dan pesat. NIROM didukung pemerintah Hindia-Belanda. Bertujuan untuk kepentingan bisnis sekaligus mengukuhkan penjajahan di Hindia-Belanda. Semakin banyak pesawat radio di kalangan masyarakat semakin besar pula pajak radio yang diterima NIROM. Dengan kekuatan finansialnya, NIROM menyubsidi perkumpulan-perkumpulan radio. Dihitung berdasarkan jumlah jam relay siaran-siaran perkumpulan radio lain.

Baca juga :  Pribumi dan Watak Kolonial

Melihat semakin gencarnya siaran ketimuran (berkaitan dengan perjuangan Indonesia), pada 1937 NIROM mencabut subsidi. NIROM juga menguasai seluruh siaran ketimuran. Perkumpulan-perkumpulan radio ketimuran pun gempar. Sehingga melemahkan pembiayaan radio yang hanya mengandalkan iuran anggota.

Anggota Volksraad, M.Sutarjo Kartokusumo dan Ir.Sarsito Mangunkusumo menyelenggarakan suatu pertemuan antara wakil-wakil radio ketimuran pada tanggal 29 Maret 1937 bertempat di Bandung. Wakil-wakil yang mengirimkan utusannya ialah : VORO (Jakarta), VORL (Bandung), MAVRO (Yogyakarta), SRV (Solo) dan CIRCO (Surabaya). Pertemuan itu melahirkan suatu badan baru bernama : Perikatan Perkumpulan Radio Ketimuran (PPRK).

Menunjuk Sutarjo Kartohadikusumo sebagai Ketua. Tujuannya non-komersial, bersifat “Sociaal kultureel” semata-mata memajukan keseniaan dan kebudayaan nasional guna kemajuan masyarakat Indonesia (Hindia-Belanda), rohani dan jasmani. Sejak itu PPRK berusaha keras agar PPRK dapat menyelenggarakan sendiri sepenuhnya tanpa bantuan dari NIROM.

 

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here