Kisah Penyair Rakyat, Pembela Rakyat Miskin

Terakota.id-Film “Istirahatlah Kata-kata” karya Yosef Anggi Noen menarik memori kolektif masyarakat atas kekuasaan yang otoriter. Memotret pelarian Wiji Tukul ke Pontianak selama delapan bulan. Usai peristiwa berdarah 27 Juli 1997, dia bersama pengurus Partai Rakyat Demokratik (PRD) dikejar-kejar aparat dan penguasa orde baru.

Penyair Saut Situmorang menilai sastrawan dan penyair menjadi incaran penguasa yang gerah dengan kritik melalui karya sastra. WijiThukul, Pramoedya AnantaToer dan WS. Rendra merupakan salah satu contohnya Salah satu pendiri Jurnal Sastra Boemipoetra  mengatakan pembungkaman terhadap penyair merupakan “raison d’être” atau menjadi alasan rezim diktator menghabisi para pengkritiknya.

“Penyair atau sastrawan selalu mengkritik kebobrokan rezim yang berkuasa. Maka mereka harus dibungkam kalau bisa atau dibunuh kalau terpaksa,” kata Saut Situmorang kepada Terakota.id. Sejak masa kolonial sampai sekarang banyak penyair atau sastrawan yang dibungkam bahkan dibunuh rezim yang berkuasa.

“Tokoh “Minke” dalamTetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer adalah gambaran dari tokoh Tirto Adhi Soerjo. Dia meninggal dalam pembuangan Belanda di Pulau Bacan, Maluku Utara. Kemudian ada muridnya penulis novel “Student Hidjo” yakni Marco Kartodikromo alias Mas Marco yang dibuang ke Boven-Digoel. Ini terjadi di zaman penjajahan Belanda.”

Sebuah jurnal yang memuat wawancara dengan penyair Wiji Thukul. (Terakota.id/Muntaha Mansyur)

Selama era diktator militer Jenderal Soeharto atau Orde Baru, katanya, dua penyair menjadi korban. Yakni WS. Rendra danWiji Thukul. Rezim mencekal Rendra, dilarang membaca puisi dan melarang pementasan teaternya selama bertahun-tahun mulai awal 1980-an. “Kita semua tahu nasib Wiji Thukul, dihilangkang paksa,” ujarnya.

Meski berganti rezim, sampai sekarang Wiji Thukul tak ditemukan. Masih misteri, apakah masih hidup atau sudah meninggal. Sebelumnya Pramoedya Ananta Toer dibungkam, tak bisa menerbitkan karya sastra maupun bebas menulis. “Jangan lupa penyair dan sastrawan Lekra yang dibunuh dan dibuang ke Pulau Buru,” katanya.

Baca juga :  Pribumi dalam Sejarah Hukum Agraria

Karya sastra sastrawan Lekra dilarang dibaca dan dikoleksi karyanya sampai saat ini. Termasuk karya sastra Pramoedya Ananta Toer (PRAM), padahal  Pram berulangkali dinominasikan mendapat nobel sastra.

Kini, publik tengah disuguhi pemutaran Film tentangWidjiThukul. Lazimnya, sebuah film biografi selalu menampilkan tokoh-tokoh besar yang dilegitimasi sejarah. Seperti Film Sang Pencerah (biografi Ahmad Dahlan), Sang Kiai (Kiai Haji Hasyim Asya’ari), Soekarno, dan Tjokroaminoto.

Saut Situmorang mengapresiasi pembuatan film yang didedikasikan untuk Wiji Thukul. Khalayak luas harus tahu tentang penyair yang juga aktivis buruh ini termasuk karya-karyanya. “Tapi sayang film diputar di gedung bioskop bertiket mahal sehingga menimbulkan kritikan. Seharusnya diputar seperti film-film dokumenter di kampus-kampus dan tempat lain secara gratis,” katanya. Kalau tak bisa gratis, kata Saut, minimal tiketnya murah atau terjangkau.

“Bukankah Wiji Thukul penyair rakyat yang miskin dan  pembela rakyat miskin? Masak film tentang dirinya tidak bisa ditonton rakyat miskin cuma diputar di bioskop orang kaya. Bagaimana  perasaan Wiji Thukul kalau tahu tentang semua ini?” tanya Saut Situmorang.

Kritikus film, Eric Sasono dalam artikel “Film ‘WijiTukul’: Keseharian membosankan seorang penyair” yang dimuat BBC Indonesia 9 Desember 2016 menilai sosok Wiji Thukul telah menembus kelas, sejak dihilangkan paksa. Baik kelas menengah yang mempahlawankan seorang buruh, pimpinan demonstran atau aktivis kiri ini, sekedar ikut-ikutan atau terinspirasi sajak-sajaknya.

Anggi, katanya, mengajukan sesuatu yang beda. Kesunyian diutamakan ketimbang peristiwa dramatik yang tujuannya menghibur. Keseharian inilah kekuatan Istirahatlah Kata-kata. Ketengangan muncul dari kebutuhan memperoleh KTP dan cara memperolehnya. “Konflik dan ketegangan bersifat laten, muncul dengan simbol yang halus,” kata Eric.

“Anggi lewat Istirahatlah Kata-kata berhasil menegaskan model lain kepahlawanan kita. Wiji Thukul, selain seorang yang berkorbar dengan kata-kata, adalah seorang yang bertahan, endured, di tengah tekanan yang demikian berat dan tak tertanggungkan. Saat itu ia tak tahu apa perannya dalam sejarah, tapi kita sekarang tahu bahwa di balik tubuh kurus, kesepian, dan tampak rapuh itu sebuah bangsa sedang dilihat apakah lolos dari ujian sejarah atau tidak.”

Baca juga :  Melintas Masa Lalu di Malang Tempo Doeloe

 

 

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini