Kisah Para Pemandu Sorak yang Seksi

Negeri ini selalu riuh gara-gara pemandu sorak. Mereka dipelihara dan dibayar para elite politik. Pemandu dengan tubuh seksinya itulah yang ikut menentukan jalannya pertandingan. Mereka dibayar untuk itu. Jadi, setali tiga uang.

Terakota.id–Siang itu di depan rumah pak Rukun Tetangga (RT) mendadak riuh. Banyak warga desa datang. Berdesak-desakan. Di tengah kerumuman ada seorang pemuda sekitar umur 30-an sedang berteriak-teriak. Ia berusaha untuk memengaruhi massa yang hadir. Sekitar setengah jam  massa membludag. Maklum di desa. Ada kerumunan sedikit akan menarik warga untuk datang.

“Bapak, ibu, saudara. Desa kita sedang ditimpa musibah. Banyak binatang ternak mati. Ada yang hilang. Sudah hampir sebulan ini, “teriak Wardoyo berapi-api.

“Betul, “teriak warga hampir serempak.

“Apakah kita akan membiarkan ini terus terjadi?”

“Tidaaaaak”

“Lalu apa yang perlu kita lakukan?”

“Mohon saran mas.  Sampeyan kan pernah sekolah dan lebih berpendidikan. Apa yang harus kita lakukan, “pak Sardi menyahut.

“Saya punya saran. Desa kita punya wabah sejak kedatangan orang asing di desa kita”.

Warga desa kemudian berpikir siapa kira-kira pendatang di desanya yang mendatangkan petaka itu.

“Tak lain Tugimin beserta istrinya itu. Ia tinggal di seberang tegalan sebelah barat desa ini. Sejak pasangan itu datang. Desa ini tidak aman. selalu ada saja malapetaka, “Wardoyo menyimpulkan.

“Betuuuuuuul”.

“Maka, kita usir saja mereka. Desa ini akan kembali aman. Jangan-jangan nanti desa ini terkena pageblug. Jangan biarkan itu terjadi nanti, “berapi-api Wardoyo dengan jari kiri mengacung ke atas.

“Saya pernah menyaksikan Tugimin kulitnya penuh dengan luka. Jangan-jangan itu menular. Saya juga pernah menemukan, setiap hari tertentu mulutnya komat-kamit. Jangan-jangan itu mantra”.

Tiba-tiba saja masyarakat bubar dan berduyun-duyun bergegas jalan ke arah Barat, menuju tegalan (kebun). Tentu saja menuju rumah tinggal pasangan Tugimin. Satu-satunya penghuni di kebun itu sejak lebih satu tahun terakhir. Wardoyo justru melangkah keluar desanya menuju ke utara.

Massa yang marah karena provokasi Wardoyo itu meluapkan kejengkelannya. Tugimin yang tidak tahu-menahu kedatangan massa desa tersebut bingung, cemas dan tak tahu apa yang harus dikerjakan.

“Tugimin. Segera pergi dari desa ini”

Tugimin yang mendengar teriakan seseorang dari luar gubugnya mengintip dari dinding bambunya. Ia kemudian keluar dengan mendekati pintu. Dia memandang kerumuman warga desa yang selama ini telah dikenalnya. Ada apa dengan mereka? Batin Tugimin dalam hati. Istrinya yang di dalam pun ikut mengintip keluar.

Ilustrasi pemandu sorak. (Kindpng.com).

“Kau harus segera pergi. Karena kau, desa ini terkena musibah”

“Musibah apa pak?”

“Sejak kau datang di desa ini, ternak kami banyak yang mati. Banyak yang hilang”.

“Saya tidak mencuri dan membunuhnya pak. Demi Tuhan”

“Buktinya. Sebelum kau datang desa ini aman-aman saja”

Massa yang sudah marah itu merangsek ke gubug Tugimin. Gubugnya gampir roboh

“Bapak-bapak beri saya waktu sehari ini berkemas-kemas, “potong Tugimin dengan gemetar.

“Sekarang saja”

“Tidak bisa pak. Mohon dengan sangat, “jawab Tugimin mengiba.

“Gimana teman-teman?” tanya seorang warga ke massa.

“Usir saja sekarang”

“Stop, “pak RT muncul dari kerumunan.

“Bapak-bapak kita bisa selesaikan dengan baik. Kalau Tugimin bersalah ya harus dihukum”

“Tidak bisa pak. Ia sumber masalah di desa ini”

Pak RT terus memberikan jalan keluar dan mengingatkan massa untuk tidak mudah marah dan terhayut provokasi. Tapi itu tidak mempan. Akhirnya, Tugimin tetap diusir. Ia dan istrinya dalam pengawasan warga sebelum keluar dari  desanya. Tidak sampai satu hari Tugimin sudah pergi. Ia hanya bisa pamit ke pak RT saja.

Ulah Pemandu Sorak

Desa itu kemudian tenang. Tidak ada kematian dan pencurian binatang ternak. Namun selang 1 minggu desa kembali geger. Ada binatang ternak yang mati. Heboh. Masyarakat berkumpul kembali di rumah pak RT.

“Apa apa lagi?”

“Pak RT ayam ternak milik Narto banyak yang mati”

“Terus kenapa? Bukankah sumber yang kalian curigai, sudah kalian usir dari desa ini?”

Massa diam. Mereka menundukan kepala. Seolah bersalah. Tetapi ia ingn meminta saran pak RT.

“Sekarang. Mana Wardoyo?. Cari sampai ketemu anak itu”

“Wardoyo tidak ada pak. Dia pergi ke kota”.

Pak RT mendadak lemas. Dia belum tahu apa yang akan dikerjakan. Massa sudah menerima pelajarannya. Mengusir Tugimin yang belum tentu bersalah dari desanya. Sementara sumber masalahnya bukan pada Tugimin. Dia tahu, Tugimin orang yang tidak punya pekerjaan. Dia hanya ingin numpang hidup di RT-nya. Dari sorot matanya, pak RT tahu Tugimin orang baik. Hanya nasib yang menggiringnya dia sampai ke desanya.

Terus kemana Wardoyo? Pak RT kemudian mencurigai bahwa Wardoyo provoktor. Dia biang keladi masalah di desanya. Dia memang berpendidikan. Dia seorang sarjana yang kemudian kata warga desa sibuk mengurusi politik di kota.

Pak RT kemudian pening. Memikirkan betapa sulitnya mengendalikan warganya. Tidak mudah. Sementara Tugimin sudah telanjur menjadi korbannya. Korban yang tidak salah dan hanya keserakahan warganya. Sebagai pemimpin ia akan dimintai pertanggjawabannya kelak di hari akhir. Dia percaya itu.

Dia menjadi semakin pening karena Wardoyo yang digadang-gadang ikut memajukan desanya lebih memilih menjadi politisi. Bukan tidak baik. Tetapi kepintarannya kemudian dipakai untuk memanipulasi informasi. Ini saja hanya kasus di desa kelahirannya. Bagaimana ia tak memanipulasi warga di tempat lain?

Warga borong masker di Bekasi. (Foto : Tribunnews.com).

Virus Corona-19 yang menjadi wabah saat ini pun perlu mendapat perhatian pak RT. Pak RT hanya melihat di televisi. Sesekali mendapat informasi dari tema-temannya saat ke kantor kepala desa. Virus ini sangat dahsyat. Jangan sampai warganya salah informasi sebagaimana kasus yang menimpa Tugimin. Maklum saja. Masyarakat desa masih mudah diprovokasi. Jangan sampai kasus Corona-19 membuat masyarakat tidak berpikir waras dan saling hanya menyalahkan.

Pak RT tahu bahwa ada beberapa orang menutupi mulut dan hidungnya pakai masker agar tidak kena virus Corona. Ia juga  tahu ada warga yang menimbun masker lalu menjualnya dengan harga tinggi. Itu sebuah kejahatan kemanusiaan yang tak ringan.

Belum lagi informasi wabah virus itu yang seolah ditutup-tutupi pemerintah hanya gara-gara takut masyarakat menjadi heboh. Heboh tapi memang nyata terjadi tentu tidak apa-apa. Daripada heboh atas berita yang tidak benar?

Simpang siur informasi Corona diperlihatkan Menteri Kesehatan yang bersikukuh bahwa virus Corona di Indonesia tidak ada. Ia tidak lagi membuat pernyataan setelah presiden mengumumkan ada 2 warga yang terkena virus itu. Pak RT juga yakin jangan-jangan ada korban lain yang ditutupi. Lebih dari 2. Lebih dari 5. Lebih dari 10. Pak RT orang yang dibesarkan dalam negeri +62 beserta dinamikanya dalam kurun waktu lama. Tahu culasnya pemerintah dalam menutupi informasi penting bagi warganya. Mentang-mentang informasi itu dianggap bisa “menyudutkan” pemerintah.

Sudah banyak informasi sepihak yang didapat masyarakat terus dijadikan klaim kebenaran. Masyarakat ini sudah lama terbelah oleh para pemandu sorak. Kerukunan hidup umat beragama, kemajemukan yang menjadi keniscayaan menjadi riuh oleh para pemandu sorak. Pemandu sorak itu biasanya hanya mendapatkan informasi sepihak dari sumber dirinya sendiri.

Betapa banyak Wardoyo di sekitar yang punya ambisi pribadi dengan mengorbankan orang lain. Lama nian negara ini riuh karena ulah para “pemandu sorak” politik yang hanya mementingkan “perutnya” sendiri. Anehnya, ulah pemandu sorak itu diminati dan dinikmati oleh elite politik bahkan dibayar mereka.

Sudah cukup berat memikir warganya di desa, ditambah mikir bagaimana negara ini bisa mengatasi pluralitas dan kemajemukan yang dibungkus kepentingan  individu dan kelompok. Pak RT kemudian limbung. Kunang-kunang mengitari kapalanya. Dia lalu jatuh tak sadarkan diri.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini