Kisah Panji Singhasari dan Sendratari Panji

kisah-panji-singhasari
Tari Topeng Malangan. (Dokumen Pribadi).

Oleh : Dama Herryanto Nugroho A. a.k.a Satria Pawenang *

Terakota.id–Panji Singhasari BUKANLAH legenda seperti banyak kisah panji yang kita kenal selama ini, khususnya kisah Panji Inu Kertapati (Asmorobangun) dan Dewi Candra Kirana (Sekartaji). Salah satu perbedaan paling mendasar adalah bahwa kisah-kisah Panji Singhasari ‘dituturkan’ oleh pelaku-pelaku kisahnya sendiri. Dan perlu digarisbawahi, bahwa salah satu penutur Panji Singhasari adalah Panji Sminingrat, yang karena jasa awal beliaulah banyak kisah panji legenda lain itu bisa mencapai derajat dan formulasinya seperti saat ini (lihat Prasasti Mula Manurung).

Itu sebabnya, uraian kisah-kisah dalam Panji Singhasari (dan juga Panji Wijaya yang merupakan kelanjutannya) secara mutlak MENGABAIKAN semua yang tertulis dalam Serat Pararaton (karena muatannya yang terlalu imajinatif secara liar, seturut kelas kesusasteraannya sebagai serat yang prosais-populis-lepas) dan Kakawin Negara Kertagama (karena muatannya yang terlalu politis-dogmatis-doktrinal seturut kelas kesusasteraannya sebagai kakawin yang merupakan rujukan doktrin resmi kenegaraan). Dan yang lebih mendasar lagi, baik Serat Pararaton yang bersifat liris maupun Kakawin Negara Kertagama yang bersifat didaktif-intensional (seturut kehendak pemimpin negara) sama-sama merupakan buah sudut pandang pihak lain yang bahkan berselisih masa ratusan tahun.

Kami bersyukur bahwa Ki Soleh Adi Pramono (Padepokan Mangun Dharma), pengampu utama penyiapan sendratari Panji Singhasari sudah menyadari ihwal ini sejak lama sehingga bisa diharapkan ketiadaan kendala persepsi dalam penyiapan dan penyajian karya ini kelak. Beliau juga sudah memahami bahwa sendratari Panji Singhasari TIDAK tunduk kepada pakem Malangan, sebab meskipun Ibukota Tumapel dan Singhasari dulunya berada di wilayah Malang, namun wilayah Malang aslinya hanyalah bagian dari Singhasari dan merupakan salah satu buah bentukan kultural utuhnya. Tradisi kultural Malang berbeda antara masa Singhasari dan masa Majapahit, seturut perubahan norma-norma penguasa, dan lebih jauh lagi berbeda dari tradisinya selepas masa Majapahit.

Dan bagi mereka yang membaktikan hidupnya untuk mengolah batin dan rohaninya, khususnya menurut norma Kejawen maupun Ngelmu Jawa (yang berbeda dari Kejawen), siapa yang tidak mengenali muatan dahsyat yang terkandung secara sangat tersembunyi dalam kegelapan rahasia sejarah dinasti Rajasa di era Tumapel-Singhasari?! Kejelasan yang diburu-buru sejak masa Hayam Wuruk bertahta, bahkan makin diburu setelahnya hingga saat ini. Para pelaku politik mestinya membutuhkan rahasia itu, dan memang boleh mendapatkannya, asal diterapkan untuk kemaslahatan rakyat dan bangsa.

Memangnya ada apa dalam sejarah dinasti itu? Jelasnya ada sesuatu yang memang dahsyat, dan tetap dahsyat, baik dipercaya maupun disangkal. Yang ingin mengetahuinya secara rasa bisa menghadiri pergelaran apokaliptik Panji Singhasari yang terdiri dari 9 lakon utama, 3 lakon sekunder, dan 20 lakon tersier. Pergelaran pertama direncanakan pada kisaran September nanti.

Bersiaplah mencerap yang belum pernah terlihat. Semoga semua itu bermanfaat bagi mereka yang berkehendak baik, dan karenanya seisi semesta berbahagia.

*Pamangku Kewadian Rajasa, penjaga kewadian Tumapel-Singhasari

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini