Kisah Munir Said Thalib, Si Bandel yang Pemberani

Munir merupakan mahasiswa yang beken saat  itu, temannya memanggil Munir  dengan sebutan “Arab pirang.” Munir dikenal pandai membagi waktu antara kuliah dan aktivitas kemahasiswaan di kampus. Bahkan, di sela waktu Munir juga berjualan pakaian dan sepatu di Pasar Batu untuk menambah uang saku.

Istri Almarhum aktivis HAM Munir, Suciwati berada di depan foto Munir yang terpajang di museum Omah Munir, Jl. Bukit berbunga Batu, Jawa Timur 7 September 2014. Aris Hidayat/Terakota.id

Terakota.id–Masa kecil pejuang Hak Asasi Manusia (HAM), Munir Said Thalib diisi dengan bermain di areal persawahan di depan rumahnya Jalan Diponegoro nomor 169 Batu, Jawa Timur. Sawah hijau membentang, usai pulang sekolah di Sekolah Dasar Muhammadiyah 4 Batu Munir mengajak teman sebayanya bermain di sawah. Sekarang areal persawahan telah hilang berubah menjadi gedung pusat perbelanjaan terbesar di Batu. Bermain lumpur, mencari ikan di sungai dan berkejaran di pematang sawah.

“Munir yang selalu aktif, berinisiatif mengajar bermain,” kata kakak perempuan Munir, Anisa Said Thalib.Hanya terpaut setahun, mereka tampat dekat dan sering bermain bersama. Munir selalu yang mengusulkan ide bermain. Munir memimpin teman sebaya yang terdiri dari  tetangga rumah untuk bermain bersama. Selain bermain dengan Anisa, Munir juga kerap mengajak adiknya Jamal Said Thalib. Selama bermain, Munir selalu membimbing dan melindungi adik dan saudaranya.  Sosok Munir, katanya, humoris dan suka bercanda. Selain itu juga dikenal berani dan melindungi adik dan teman-temannya.

“Pernah sampai berkelahi untuk membela adiknya,’ katanya. Secara fisik tubuhnya kecil, kurus dan berambut kemerah-merahan sehingga sering menjadi bahan ledekan teman-temannya. Namun, ia berani melawan teman yang secara fisik lebih besar.  Adu jotos tak terelakkan, mereka berkelahi. Usai berkelahi mereka kembali berteman dan tak ada masalah lagi. Dia tak pernah takut, katanya, asal dirinya benar.

Prestasi Sekolah tak Menonjol

Sedangkan secara akademik, nilai pelajaran sekolah Munir kecil biasa-biasa saja. Tak ada nilai yang menonjol dan tak pernah juara kelas. “Munir juga jarang belajar,” katanya.

Berbeda dengan Anisa yang setiap malam usai salat Isya’ rutin belajar di rumah, Munir justru terlihat santai dan tak pernah memegang buku pelajaran. Namun, Munir dikenal cepat menangkap materi pelajaran. Sehingga di rumah jarang belajar serius. Lain lagi dengan adik Munir, Jamal Said Thalib yang tekun belajar dan prestasinya menonjol. Sekarang Jamal  menjadi dokter umum di Banyuwangi. “Munir tak hobi membaca,” kata Anisa.

Teman semasa SD Munir, Saiful Amin juga bercerita jika tempat bermain Munir adalah sawah untuk bermain sepak bola, memancing dan berenang di sungai Brantas. Juga suka berkreasi membuat mobil-mobilan dari pelepah dan batang pisang. Mereka menarik mobil kreasi anaknya sendiri berkeliling kampung berjalan hingga dua kilometer. Bertemu dan bermain bersama teman tetangga desanya dan bermain sepak bola bersama. “Dia juga suka bermain layang-layang,” katanya.

Suasana di museum Omah Munir, 8 Desember 2015. Aris Hidayat/Terakota.id

Selepas sekolah, Munir suka menenteng sepatu. Sepatu tak dipakai, dan berjalan dengan bertelanjang kaki. Amin yang rumahnya hanya selemparan batu dengan rumah Munir sering bermain bersama. Munir mudah bergaul, tak memilih-milih teman dan dikenal memiliki banyak teman. Namun, Munir dikenal suka berantem demi membela dan melindungi temannya. “Munir suka membela teman. Peduli dan mudah berempati,” katanya.

Keceriaan Munir berubah setelah ayahnya, Said Thalib meninggal. Saat itu, Munir tengah duduk di bangku kelas 6 SD. Sejak saat itu, Munir mengurangi kegiatan bermain bersama teman-temanya. Ia memilih membantu kakaknya Muhfid Said Thalib berdagang sepatu dan sandal di Pasar Batu. Sembari membantu berdagang di pasar ia juga bermain dan belajar dengan Santoso, teman sekolah yang juga membantunya berdagang.

Membela yang Lemah

Sedangkan guru SD Muhammadiyah 4 Batu, Faridah, menilai Munir siswa bandel dan pemberani. Munir sering melawan dan berkelahi untuk membela temannya yang lemah. Jika ada temannya yang dijahili, disakiti teman lainnya Munir langsung turun tangan. Sehingga Munir memiliki banyak teman. “Berani karena benar. Dia kan gak salah harus dibela,” kata Faridah menirukan ucapan Munir saat itu.

Selama bersekolah, Munir dikenal sebagai anak yang patuh dan mudah bergaul dengan siswa semua tingkatan. Baik kakak kelas maupun adik kelasnya senang berteman dengan Munir.  Sedangkan nilai akademiknya biasa-biasa saja tak ada yang istimewa. Namun, sikap yang ditunjukkan sering membela temannya yang disakiti orang lain menunjukkan kepedulian terhadap orang lain.

Faridah mengaku meski Munir telah menjadi aktivis HAM, namun ia tak melupakan kampung halaman di Batu. Setiap lebaran, Munir pulang ke kampung halaman dan bertemu dengan teman-teman semasa SD. Termasuk bertemu dengan para guru yang mengajarnya sejak kecil. “Kalau bertemu saya, langsung salim,” katanya.

Selepas sekolah dasar, Munir melanjutkan ke SMP Negeri 1 Batu. Di sini, para guru mengenalnya sebagai sosok siswa pemberani. Tak segan, Munir berdiskusi dan berdialog dengan guru. Berbeda dengan siswa sebayanya yang terkesan malu dan takut saat bertemu guru. Apalagi guru Bimbingan Konseling yang sering menghadapi siswa bermasalah seperti Alimah, yang telah pensiun sebagai guru SMP Negeri 1 Batu.

“Munir lebih berani dan jago berkomunikasi,” katanya.

Sejumlah penggiat seni teater Air memasang potongan lukisan wajah almarhum Munir saat perhelatan budaya “Menafsir Munir Melawan Lupa” di alun-alun Kota Batu, Jawa Timur, Minggu 2 Desember 2012. Kegiatan tersebut dalam rangka peringatan HUT Munir yang jatuh pada 8 Desember mendatang. Ribuan lukisan wajah almarhum aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munir, turut menghiasi setiap sudut di alun-alun kota Batu.Aris Hidayat/Terakota.id

Meski bertubuh kecil, Munir terlihat lincah dan pandai berbicara. Munir juga kritis bertanya mengenai banyak hal. Setiap pekan, seorang dokter hadir ke  sekolah untuk pemeriksaan kesehatan. Tiba-tiba Munir berseloroh, bertanya kenapa rambutnya berwarna kemerah-merahan berbeda dengan rambut temannya yang berwarna hitam. Ia tak canggung, dan terlihat mudah berkomunikasi. Meski pandai berkomunikasi, Munir tak terpilih menjadi pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Lantaran, nilai akademiknya biasa saja tak berprestasi.

“Nilai akademik juga menjadi salah satu alasan untuk memilih pengurus OSIS,” katanya. Munir menonjol dalam pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Nilai PMP, katanya, bagus dibandingkan nilai pelajaran yang lain. Namun, saat itu tak terlihat bakat Munir sebagai pemimpin. Saat SMP, Munir juga mengikuti beragam kegiatan. Salah satunya aktif di kegiatan ekstra kurikuler pecinta alam. Ia suka naik gunung menikmati keindahan alam. Diperkirakan bakat kepemimpinan muncul sejak menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang.

Sedangkan guru lainnya Yulaikah mengingat Munir paling alergi dengan pelajaran Bahasa Inggris dan Matematika. Saat kedua pelajaran berlangsung, Munir sering izin dan mengaku sakit gatal-gatal. Sehingga Munir izin beristirahat di Unit Kesehatan Sekolah (UKS). “Tak garap PR, pura-pura sakit,” kata Yulaikah.

Sementara saat bersekolah di SMA Negeri 1 Munir dikenal suka duduk di bangku belakang. Saat guru menerangkan pelajaran, Munir sering terkantuk-kantuk.  Kadang sampai tertidur di dalam kelas. Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, Eny Suningsih, 59 tahun, sering meminta Munir membasuh wajahnya di kamar mandi. “Setelah cuci muka segar,” kata Eny.

Namun, saat mendapat tugas dan maju menjawab pertanyaan Munir bisa memberikan jawaban yang benar. Munir mampu menjelaskan perkembangan Bahasa Indonesia secara terstruktur dan runtut. Padahal, saat itu Munir terlihat mengantuk saat mengikuti pelajaran. Munir mengantuk karena kelelahan setelah membantu kakaknya berjualan di pasar.  “Munir juga aktif bertanya,” katanya.

Namun, saat itu dari 35 siswa di kelas Munir masuk peringkat 10 besar. Munir dikenal pendiam dan kalem. Sedangkan teman di kelas sering ramai dan menimbulkan kegaduhan justru Munir lebih banyak berdiam diri. Pernah suata  saat Eny meminta Munir duduk di bangku depan namun Munir mengaku di belakang lebih nyaman dan jelas. “Lebih enak dan jelas di sini,” kata Eny menirukan Munir.

Sementara teman semasa SMA Nina Dwi Wiyana menyebut Munir sebagai teman supel dan mudah bergaul. Sehingga temannya banyak termasuk teman lelaki maupun perempuan. Munir yang memilih jurusan IPS tersebut dikenal pendiam dan tak banyak tingkah. “Tubuhnya yang kecil dan berambut kemerah-merahan sering menjadi olok-olok teman,” kata Nina yang sekarang mengajar Matematika di almamaternya.

Aktif Berorganisasi

Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang, Muhammad Najih mengenal Munir saat orientasi study dan pengenalan kampus (Ospek) semasa  kuliah di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang 1985. Saat itu, Najih menjadi senior yang mendadar mahasiswa baru. Munir dikenal aktif dan kemudian terlibat dalam berbagai forum diskusi Dinamika Study Club mahasiswa Fakultas Hukum. Munir sering menyampaikan gagasan baru yang kadang tak terfikirkan mahasiswa saat itu. “Munir punya banyak gagasan, dan ide yang original,” ujar Najih.

Peziarah membaca surat yasin di makam aktivis HAM Munir di TPU Sisir, Batu, Jawa Timur 8 September 2015. Aris Hidayat/Terakota.id

Keaktifan Munir dalam kegiatan tersebut, ditunjukkan dengan kepedulian mengembangkan dan mengembangkan organisasi. Munir mengusulkan ide original berupa sebuah gagasan untuk membuat refleksi kepengurusan HMI. Pegurus HMI saat itu, termasuk Najih yang menjabat Ketua HMI tak terfikirkan membuat refleksi. Justru gagasan tersebut muncul dari Munir. Lantas, mereka melakukan diskusi terbatas untuk perbaikan HMI Komisariat Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Selama semalam, mereka berdiskusi dengan melakukan sebuah gerakan sosial.

“Munir mengusulkan mengangkat isu perburuhan,” ujar Najih. Menurutnya, kepekaan Munir terhadap isu buruh terlihat sejak mahasiswa. Pemikiran soal isu perburuhan lebih tajam. Dalam tempo setahun, Munir menjadi pengurus Himpunan Mahasiswa Islam komisariat Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang, dan Badan Perwakilan Mahasiswa.

Pergaulan Munir pun semakin luas setelah menjadi pengurus Senat Mahasiswa. Bahkan kadang terjadi konflik, gesekan hingga adu fisik.  Kejadian itu, bermula saat Munir memimpin sebuah rapat namun dalam rapat tersebut kelompok mahasiswa tertentu menganggap gagasan dan aspirasi tak ditampung.

Sehingga seorang peserta rapat naik pitam dan melayangkan bogem mentah ke perut Munir. Rapat terhenti, teman yang lain membela Munir dan nyaris terjadi baku pukul. Beruntung Munir bisa mencairkan suasana dan kembali normal.

“Orang yang memukul badannya lebih besar. Munir tegas dalam memimpin rapat,” katanya. Munir juga kritis terhadap kebijakan di kampus.  Bersama teman-temannya, Munir memprotes sejumlah kebijakan yang membatasi ruang gerak mahasiswa dalam beraktivitas. Lantas mereka berdialog dan mengajukan tuntutan untuk kebebasan mahasiswa beraktivitas di dalam kampus. Usaha mereka berhasil,  sejumlah kebijakan kampus soal pembatasan kegiatan mahasiswa diubah.

Munir merupakan mahasiswa yang beken saat  itu, temannya memanggil Munir  dengan sebutan “Arab pirang.” Munir dikenal pandai membagi waktu antara kuliah dan aktivitas kemahasiswaan di kampus. Bahkan, di sela waktu Munir juga berjualan pakaian dan sepatu di Pasar Batu untuk menambah uang saku. Meski bekerja untuk menambah bekal biaya pendidikan, Munir juga tetap aktif dalam kegiatan kemahasiswaan. Bahkan, saat semester akhir aktif menjadi relawan di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya Pos Malang.

Siapa sangka, jika Munir yang awalnya tak suka membaca tumbuh menjadi mahasiswa yang doyan membaca aneka jenis buku. Seperti buku-buku sastra karya Pramodya Ananta Toer, buku karangan dan pikiran Sukarno dan berbagai buku soal gerakan.  “Buku tersebut dikoleksinya sejak SMA,’ kata Najih.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini