Kisah Kuliner Khas Solo dan Revolusi Industri Keempat

Iman sengaja menyiapkan diri untuk bernyanyi di gala dinner. Sebelumnya hampir saban hari, dia bernyanyi secara langsung di media sosial untuk berlatih dan mempersiapkan diri dalam malam keakraban dengan sesama anggota AJI. “Tetaplah menjadi bintang di AJI.....,” Iman bernyanyi mengubah lirik lagu band Padi berjudul kasih tak sampai.

Terakota.id–Ratusan anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia meriung di sebuah gerobak berisi aneka penganan. Mereka memilih aneka bungkusan nasi kucing, karena porsinya yang sedikit. Serta berjajar lauk seperti sate telur puyuh, sate usus, sate ceker, kepala ayam bakar, ikan bandeng, dan aneka gorengan. Semua terjadi di hindangan istimewa kampung atau dikenal HIK.

Gerimis yang mengguyur tak menyurutkan anggota AJI untuk menikmati makan malam atau gala dinner untuk menyambut anggota dalam Kongres AJI ke X di The Sunan Hotel. Lokasi gala dinner di halaman terbuka di dalam Lokananta, sebuah perusahaan rekaman milik Negara di Jalan Ahmad Yani 387, Solo.  Lokananta tepat berada di depan lokasi Kongres AJI Indonesia.

Sebagian memilih membakar aneka lauk tersebut di atas sebuah anglo atau tungku berbahan bakar arang kayu. Sate usus, ikan bandeng juga dibakar, disajikan panas untuk mengusir hawa dingin karena guyuran hujan. Aneka minuman khas  seperti wedang jahe, wedang uwuh (berbahan aneka rempah-rempah), susu jahe, teh manis, jeruk dan kopi juga dihidangkan.

“Silahkan menikmati makanan yang tersadi. Sajian sederhana namun syarat makna,” kata Ketua AJI Indonesia, Suwarjono. Sambutan Suwarjono menyapa para anggota AJI Indonesia dari seluruh nusantara memiliki makna mendalam. Selain menjalin keakraban sesama anggota juga bisa diselingi dengan berbincang mengenai peran jurnalis dan AJI.

Ketua Dewan Pers, Yoseph Adi Prasetyo berpesan kepada seluruh anggota AJI Indonesia untuk tetap menjaga independensi. Tantangan media massa, katanya, semakin kompleks. Namun, independensi harus tetap dijaga. Demi memberikan informasi yang berimbang dan sesuai dengan kebutuhan publik.

Pendiri AJI Indonesia yang akrab disapa Stanley ini menyinggung seorang jurnalis televisi yang dekat dengan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Setya Novanto. Jurnalis selain menjaga hubungan dengan jurnalis juga harus menjaga jarak. “Agar tak ada konflik kepentingan selama bekerja,” katanya.

Baca juga :  Kisah Gitaris Guns’ N’ Roses Belajar Gambus kepada Arek Malang
Peserta Kongres AJI Indonesia memilih aneka penganan di HIK. Penganan tersaji dalam gala dinner AJI Indonesia di Lokananta Solo. (Terakota/Hari Istiawan).

Anggota AJI juga dihibur dengan penampilan sebuah kelompok band selama gala dinner berlangsung. Bahkan sejumlah anggota AJI juga turut bernyanyi menghibur teman-temannya yang datang dari seluruh penjuru pelosok negeri. Seperti anggota AJI Palu, Ruslan Sangaji bernyanyi lagu batak. Serta Iman Nugroho pengurus AJI Indonesia, turut menyumbangkan suaranya.

Iman sengaja menyiapkan diri untuk bernyanyi di gala dinner. Sebelumnya hampir saban hari, dia bernyanyi secara langsung di media sosial untuk berlatih dan mempersiapkan diri dalam malam keakraban dengan sesama anggota AJI. “Tetaplah menjadi bintang di AJI…..,” Iman bernyanyi mengubah lirik lagu band Padi berjudul kasih tak sampai.

Tak hanya hidangan ala HIK. Aneka penganan lainnya juga terhidang di sejumlah titik di areal Lokananta. Seperti nasi liwet, bakmi godok, arum manis, angsle, ronde, kacang dan pisang rebus. Anggota AJI Manado, Agust Hari memilih antre bakmi godok. Dia dengan sejumlah teman-teman dari Manado ingin mencicipi kuliner khas Solo.

Tak hanya menyecap kuliner khas Solo, mereka juga melihat atraksi memasak bakmi godok. Penjual bakmi godok cekatan, dan cepat menyajikan bakmi godong di sejumlah mangkuk. Khusus diberikan kepada anggota AJI yang antre, menunggu. “Enak, orang Manado suka makanan pedas,” kata Agust Hari.

Lokasi gala dinner tak kalah penting dan memiliki peranan dalam industri rekaman di tanah air. Lokananta merupakan perusahaan rekaman musik pertama dan satu-satunya milik Negara. Berdiri 29 Oktober 1956, awalnya bertugas memproduksi dan menduplikasi piringan hitam, kaset dan sempat memproduksi pita magneti betamax dan VHS. Kini, mengikuti perkembangan zaman menjadi studio musik, rekaman, dan percetakan.

Lokananta memiliki koleksi  5 ribuan lagu daerah, lagu pop dan keroncong serta menyimpan arsip rekaman pidato kenegaraan Presiden Sukarno. Beragam lagu nusantara direkam di sini, mulai gamelan Jawa, Bali, Sunda, Sumatera Utara dan musik daerah lainnya.

Baca juga :  Merekonstruksi Instrumen Berdawai di Relief Jajaghu

Sejumlah master lagu berisi lagu-lagu penyanyi legendaris seperti Gesang,  Waldjinah,  Titiek Puspa, dan Bing Slamet tersimpan di sini. Lokananta melahirkan sejumlah penyanyi ternama di Indonesia. “Lokananta menyimpan lagu bengawan solo yang dinyanyikan pak Gesang. Pertama direkam di sini,” kata Kepala Lokananta, Miftah Zubir.

Lokananta juga merekam lagu nusantara yang digunakan sebagai cinderamata untuk Asian Games 15 Agustus 1962. Salah satunya berisi lagu rasa sayange, sebuah lagu rakyat Maluku yang sempat diklaim Malaysia. Lokananta sendiri memiliki arti gamelan dari kahyangan yang berbunyi tanpa penabuh.

Usai gala dinner anggota AJI Indonesia kembali ke arena Kongres AJI Indonesia 24-26 November 2017. Kongres AJI Indonesia menghasilkan beragam resolusi dan rekomendasi untuk menghadapi tantangan media massa dalam revolusi industri generasi ke empat. Kongres juga menetapkan Abdul Manan sebagai Ketua Umum AJI Indonesia dan Revolusi Riza sebagai Sekretaris Jenderal AJI Indonesia.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here