Kisah Kopi Kerabat Swara

Terakota.id – Aku ingin mabuk beri Aku secangkir kopi, teriak lelaki di senyap malam. Aku ingin sesak tenggelam di dalam kopi, menulis sajak di dasar cangkir. Aku ingin gila terbang bersama asap, menyanyikan kutukan rembulan. Pada secangkir kopi ia meratap mencari hatinya yang hilang.

Itulah satu bait puisi kumpulan Kisah Kopi karya penyair Tengsoe Tjahjono digubah Antok Yunus menjadi lagu berjudul Koplak. Gitar akustik berdendang, suara layaknya musisi balada. Antok tak tampil sendirian. Hamdan dan Virga memetik bas serta gitar elektrik, serta cajon atau kahon ditabuh Ucup. Musik rancak mereka mainkan.

Kerabat Swara, itu nama kelompok musik mereka. Keempat pria itu sedang tampil di Warung Srawung untuk peluncuran dua album berjudul Kisah Kopi dan Kisah Penyair. Puluhan pemuda yang duduk meriung, larut selama penampilan mereka pada Kamis, 5 April lalu, malam.

Album Kisah Kopi berisi enam lagu. Nama album merujuk pada kumpulan puisi karya penyair Tengsoe Tjahjono. Sebab hampir seluruh lagunya bersumber dari kumpulan puisi itu.Antara lain lagu bejudul Koplak, Tidak Ada Kopi, Hari Ini, Ayo Ngopi, Tembang Ngopi. Hanya lagu berjudul Asmara Rambut Gimbal murni ciptaan Antok Yunus.

Pun demikian dengan album Kisah Penyair. Sesuai namanya, dari lima lagu yang mengisi album ini hanya Intermezo ciptaan Antok Yunus. Empat lagu lainnya adalah menyajikan puisi karya beberapa penyair. Antara lain Batu-Batu Kepala karya Dewi Nurhaliza, Ojo Gegeran karya Tengsoe Tjahjono, Gerakan karya Ratna Indraswari, Yota karya Subagyo.

“Ini perpaduan antara puisi dan musik, tanpa perlu dibatasi oleh genre,” kata Antok vokalis sekaligus gitaris Kerabat Swara.

Kerabat Swara lebih suka menyebut apa yang mereka lakukan sebagai musikalisasi puisi. Bukan dalam arti upaya menaklukkan keangkeran puisi dengan membacakannya diiringi musik. Tidak juga menyanyikan puisi agar lebih mudah dinikmati siapa saja. Sesungguhnya, tiap kata dalam puisi sudah hidup dan seharusnya mudah dipahami tanpa harus terbebani ekspresi dan intonasi.

“Puisi itu sangat bisa dilagukan dan berhak jadi lagu. Karena tiap kata dalam puisi itu hidup,” kata Hamdan pemetik bas Kerabat Swara.

Meski demikian, bukan berarti mudah menggubah bait-bait puisi menjadi sebuah lagu. Jika menulis lirik untuk sebuah lagu, lebih mudah untuk mengaransemen musiknya. Sebab bisa langsung menyesuaikan antara lirik dan nada. “Kalau puisi, kesulitannya menyambungkan antara bait per bait,” ujar Hamdan.

Kerabat Swara memproduksi album sendiri selama tujuh bulan. Semua proses rekaman dilangsungkan di Malang. (Terakota/Zainul Arifin).

Kerabat Swara sendiri tak mau terpaku pada satu genre tertentu dalam bermusik. Masing-masing personel memiliki latar kesukaan berbeda. Hamdan menyukai musik kontemporer, Virga gemar memainkan metal, sedangkan Ucup cenderung memfavoritkan musik etnik. Antok Yunus saat masih masih bersama Abia Kana di kelompok musik Swara banyak bermain akustik.

Perpaduan antar satu dengan lainnya itu justru membuat musik Kerabat Swara lebih berwarna. Dalam lagu berjudul Ayo Ngopi misalnya, ada unsur balada, latin sampai keroncong. Di lagu lainnya, aroma rock n’ roll sampai coutry juga kental terdengar. Mereka tak ambil pusing dengan jenis musik yang dimainkan. “Kalau musik kami disebut setan ya silakan saja,” seloroh Hamdan.

Album Kisah Kopi dan Kisah Penyair dikerjakan Kerabat Swara sejak sekitar Juni 2017 dan selesai Januari 2018 lalu. Diproduksi di Malang dengan biaya merogoh kantong sendiri. Kelompok musik yang baru berumur satu tahun ini ingin membuktikan. Tak perlu datang langsung ke industri musik di Jakarta agar tetap bisa eksis.

“Ada banyak yang terobsesi ke Jakarta, tapi saya akan tetap di Malang. Kami akan bikin dan jual album sendiri,” kata Antok Yunus.

Musisi lokal harus saling dukung antar satu dengan yang lain. Tanpa perlu silau dengan industri musik nasional yang berpusat di Jakarta. Sudah ada musisi daerah yang membuktikan, mereka tetap bisa berkarya meski tetap berada di Jogjakarta atau Bali misalnya. “Musisi lokal harus semangat dalam berkarya, jangan takut dengan Jakarta,” kata Antok.

 

Tinggalkan Balasan