Kisah Kereta Uap Pengangkut Tebu

Kereta uap berhenti di stasiun Gondanglegi. Potongan kayu bahan bakar lokomotif menumpuk di stasiun. (Foto : Tropen Museum).

Terakota.id–Perkembangan kereta api dan trem tak bisa dilepaskan dengan keberadaan pabrik gula dan perkembunan tebu di Malang. Malang merupakan salah satu sentra perkebunan tebu, sehingga bermunculan pabrik gula. Saat ini, ada dua pabrik gula yang masih beroperasi sejak dibangun pada masa kolonial Belanda. Yakni pabrik gula Krebet dan Kebonagung.

Sedangkan dua pabrik gula lainnya yakni Panggungrejo di Kepanjen dan Sempalwadak, Pakisaji tak berbekas. Pabrik gula atau Suiker Fabrieks (FS) Sempalwadak didirikan 1881. Pemilik pabrik yakni NV. Koy & Co Surabaya. Kebun tebu berada di utara, timur dan barat pabrik.

Untuk mengangkut tebu ke lokasi pabrik, didirikan jalur kereta sepanjang 88,5 kilometer. Jalur SF Sempalwadak melintas sampai di kawasan Bumiayu dan Tajinan. Jejak rel telah banyak yang tertutup aspal dan hilang tak berbekas.

Pabrik gula ini hancur dan ditutup setelah perang dunia kedua. Pabrik gula Panggoengredjo juga rata dengan tanah setelah perang dunia kedua pada 1942-1945 . SF Panggoengrejo didirikan pada 1898 oleh NV. Cultuur Misj Panggoengredjo. Panjang rel lori yang dibangun sepanjang 75 kilometer.

Sekarang lokasi pabrik beralih fungsi menjadi markas militer Batalyon Zeni Tempur di Kepanjen. “Sedangkan kebun tradisional dikelola oleh pabrik gula Krebet dan Kebonagung,” kata pengamat perkeretaapian, Tjahjana Indra Kusuma akhir pekan lalu dalam diskusi kereta api di Museum Mpu Purwa Malang.

Jalur rel dibangun menuju kawasan perkebunan tradisional, selain untuk mengangkut tebu juga pupuk. Kawasan perkebunan berkembang karena sistem tanah paksa dan kebun rakyat yang dibina para sinder pabrik gula. SF Keboangung bahkan membeli lokomotif dengan daya 115 HP dan 150 HP, khusus untuk melaju di jalur tanjakan.

Lokomotif uap milik Pabrik Gula Kebonagung mengangkut tebu di areal perkebunan tebu menuju pabrik gula. (Foto : Tjahjana Indra Kusuma

“Lokomotif legendaris ini disimpan di depan pabrik gula Kebonagung,” kata Indra. Lokomotif ini, katanya, mampur menarik sampai 50 lori atau pengakut tebu. Daya tampung lori sama dengan satu truk.

Sedangkan SF Krebet 1896 oleh Oei Tiong Ham Suikerfabriken Semarang. Grup pabrik gula ini antara lain pemilik SF Tanggoelangin, SF Ponen Ploso Jombang, SF Rejoagoeng Madiun dan SF Pakis. SF Krebet sempat mengalami krisis lantaran harga gula anjlok pada 1930. Krisis industri gula ini juga berdampak dengan operasional kereta lori.

Padahal sebelumnya Hindia Belanda atau Indonesia sempat menjadi eksportir gula terbesar ke dua di dunia.  SF Krebet sampai 1930 memiliki rel sepanjang 108 kilometer. Wilayah kebun tradisionalnya tersebar di barat, selatan dan timur pabrik. SF Krebet memiliki lokomotif tertua yang dibeli pada 1907.

Setelah akuisisi dan nasionalisasi aset SF Krebet kini diambil alih PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Pada 1976 pabrik gula Krebet sempat membeli lokomotif dari Jerman. Sebagian lokomotif dengan penggerak mesin diesel. Setelah masa hak guna usaha sejumlah kebun tebu terakhir dibangun instalasi Pabrik Gula Krebet Baru. Sehingga dilakukan pengembangan dan perluasan kebun tebu.

Saat itu juga terjadi peralihan angkutan tebu dari lori berganti dengan truk. Terutama saat kebun tebu meluas ke kawasan pegunungan. Orientasi kebun Pabrik Gula Krebet orientasi ke kawasan barat dan selatan. Sedangkan jalur tersebut menanjak dan tak sesuai dengan lokomotif lori.

Lokomotif bermesin uap yang digunakan untuk mengangkut tebu. (Foto : Tjahjana Indra Kusuma).

Sementara SF Keboenagoeng dibangun 1906 Tan Tjwan Bie bekerjasama dengan Fa. Tiedman & van Kerchem, Surabaya. Jaringan rel sepanjang 50,1 kilometer. Memiliki wilayah kebun tebu di barat daya, utara, timur dan selatan pabrik SF Keboenagoeng membeli sebanyak 10 lokomotif, satu kolomotif tak digunakan lantaran rusak sejak baru dibeli.

“Rusak sejak didatangkan dari pabrik lokomotif.” SF Keboenagoeng diambil alih Javanche Bank karena kesulitan keuangan. Javanche Bank kemudian berubah menjadi Bank Sentral yakni Bank Indonesia. Kini, Pabrik Gula Kebunagung milik yayasan karyawan Bank Indonesia.

Asa Wahyu Setyawan Muchtar dari Eklesia Prodaksen menyebutkan kisah lori berjalan sendiri. Sebagian masyarakat setempat meyakini ada demit. Lokomotif digerakkan demit. Lokomotif tersebut bergerak melintasi jalur dari pabrik gula hingga melintasi jalan raya. Menurutnya, ada penjelasan ilmiah kenapa lokomotif bergerak.

“Ada sisa arang dan air. Sehingga menghasilkan uap dan menggerakkan lokomotif,” kata Asa. Apalagi lori dalam kondisi kosong, sedangkan lokomotif nomor 7 dikenal memiliki tenaga kuat dan mampu sampai menarik 25 hingga 40 lori.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini