Kisah Keluarga Perawat Manuskrip Kuno Nusantara

Proses perawatan lontar berisi manuskrip kuno di Yayasan Puri Kauhan Ubud. (Foto : tangkapan layar webinar).

Terakota.id-Lebih dari 50 lembar lontar manuskrip lontar tersimpan di Puri Kauhan Ubud. Puluhan lontar terdokumentasi dalam buku katalog berjudul Wastan Rontal Padrewyan Ida Dane, Para Ska Sarapustaka Swang Swang. Yayasan Puri Kauhan Ubud terletak di Jalan Raya Ubud No.35, Kabupaten Gianyar, Bali. Secara turun temurun melestarikan budaya Bali.

Beragam lontar, babad, tutur, kekawin hingga Usadha menjadi koleksi yayasan. Puri Kauhan Ubud didirikan Cokorda Ketut Rai, dilanjutkan anaknya, Anak Agung Gde Oka Kerebek. Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud Ari Dwipayana mengatakan 31 ribuan naskah kuno masih banyak yang disimpan secara pribadi di rumah keluarga.

“Perlindungan, pengembanan dan pemajuan naskah nusantara perlu melibatkan keluarga, menggunakan pendekatan berbasis keluarga,” ujar Ari Dwipayana dalam webinar  berjatuk “Data Digital Naskah Nusantara” yang digelar Perpustakaan Nasional pada 4 Maret 2021.

Senada dengan Ari Dwipayana, Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA) Munawar Holil menyatakan naskah nusantara saat ini disimpan beberapa lembaga seperti museum, serta disimpan oleh perorangan. Bali, kata Munawar, menjadi daerah yang menyimpan naskah nusantara terbanyak. Sejumlah 31.069 manuskrip.

Munawar menambahkan naskah nusantara ini ada tiga hal penting yang terkandung dalam naskah manuskrip. “Yakni sebagai dokumen bahasa daerah yang hidup pada masa tertentu, naskah memuat catatan sejarah dan mendokumnetasikan budaya suatu daerah,” ujar Munawar Holil.

Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Ari Dwipayana menyebutkan 31 ribuan naskah kuno masih banyak yang disimpan secara pribadi di rumah keluarga. (Foto : tangkapan layar webinar).

Digitalisasi Manuskrip

Selama lima tahun terakhir, Puri Kauhan Ubud berupaya mengonservasi dan mendigitalisasi lontar. Konservasi dilakukan dengan perawatan naskah lontar, dibantu tenaga penyuluh Bahasa Bali yang terdapat di setiap kecamatan. Diawali dengan prosesi upacara mohon izin kepada leluhur sebelum dilakukan perawatan.

“Pada momen saniscara (Sabtu) umanis wuku watugunung, lontar dikeluarkan dari tempat penyimpanan untuk dilakukan upacara Saraswati, dua kali setahun. Dalam upacara ini, pemilik lontar bisa melihat fisik lontar,” ujar Ari Dwipayana.

Acapkali lontar diperlakukan sebagai benda sakral yang memiliki daya magis (tenget). Keluarga penganut paham ini jarang membuka lontar koleksinya. Kurangnya perawatan pada fisik lontar membuat lontar dimakan ngengat.

Kondisi lainnya, beberapa keluarga kolektor naskah masih menjalankan tradisi nyastra. Lontar dibuka, dibaca dan dipakai bahan rembug sastra.

Selain perawatan fisik, Puri Kauhan Ubud juga melakukan identifikasi isi dan tahun penulisan lontar. Untuk menjaga lontar yang berceceran tetap utuh, dibuatkan penyangga dari kayu, penapes atau takepan.

Digitalisasi lontar melibatkan tim penyuluh. Pengawasan digitalisasi di bawah koordinasi Sugi Lanus.  Lontar diberi kode tiap lembar, agar mudah dikenali.

“Teknik sederhana, dipotret dengan kamera. menggunakan latar selembar kain untuk membedakan kontras,” ujar Ari Dwipayana.

Pasca digitalisasi, naskah dilakukan alih aksara jadi huruf Latin. Alih aksara lontar dilakukan Ida Bagus Oka Manobhawa, Dewa Ayu Carma Citrawati, I Wayan Suarmaja, dan Ida Bagus Komang Sudarma sebagai editor dan tata letak. Sebanyak 64 naskah lontar yang khas dan unik telah dialih-aksarakan. Naskah digital lontar beserta aksara Latinnya dapat diakses di laman www.purikauhanubud.org.

Puri Kauhan Ubud berupaya men-saintifikasi naskah lontar di paparan akademis. Kerjasama dengan perguruan tinggi telah dilakukan terkait keperluan riset, kegiatan pendidikan, pengabdian masyarakat hingga publikasi ilmiah. Salah satunya Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Mpu Kuturan Singaraja. Ari Dwipayana menyatakan beberapa mahasiswa juga melaksanakan program PKL dan riset di yayasan ini.

Kedepan, Puri Kauhan Ubud berencana mengalihbahasakan naskah lontar agar bisa diketahui masyarakat secara lebih luas. Serta memenuhi kebutuhan akademik maupun kepentingan publik.

Ari Dwipayana merekomendasikan Perpusnas dapat menjadi simpul utama literasi. Mendampingi konservasi naskah dan pendorong digitalisasi naskah nusantara pada keluarga kolektor naskah.

“Perlu dilakukan sosialisasi pada keluarga pelestari naskah, bagaimana cara merawat naskah nusantara misal melalui video. Atau bagaimana cara membuat situs website untuk mengunggah naskah versi digital koleksi lontar,” ujar Ari Dwipayana.

Ari menilai nantinya tautan situs website tiap keluarga akan menambah jaringan dan referensi naskah nusantara Perpustakaan Nasional.  “Kedepan, data akan sangat mahal. kedaulatan kita terhadap data penting,” ujar Ari Dwipayana.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini