Kisah Hotel Pertama di Kota Malang

kisah-hotel-pertama-di-kota-malang
Lapidoth Hotel Malang sekitar 1900. (Foto: KITLV).

Terakota.id–Awal abad ke-19, Malang merupakan daerah kecil. Hutan belantara memenuhi sebagian kawasan. Regentschap atau Kabupaten Malang merupakan bagian dari Karesidenan Pasuruan. Pada pertengahan 1800-an segelintir keluarga Belanda dan eropa bermukim di sini. Abraham Chr. Lapidoth merupakan salah satu generasi awal warga Belanda tinggal di Malang.

Pria kelahiran Leiden, Belanda pada 1836 ini diperkirakan tiba di Malang sekitar 1860-an. Tidak lama setelah menjejakkan kaki di Malang, mendirikan tempat penginapan. Sebuah sebuah bisnis yang terhitung baru di Malang. Lokasi penginapan berdiri tak jauh dari kantor Bupati Malang. Kantor yang kelak diubah pemerintah kolonial jadi gedung Societiet Concordia, tempat hiburan bagi sinyo dan noni Belanda.

Abraham Chr. Lapidoth bisa disebut sebagai pengusaha penginapan pertama di Malang. Penginapannya populer disebut Lapidoth Hotel. Kala itu umumnya penggunaan nama hotel merujuk pada nama pemiliknya. Di depan penginapan banyak pohon beringin, tepat di Alun – alun Kidul atau sekarang di selatan Alun – alun Malang.

“Dia adalah bapak perhotelan, pengusaha perhotelan terkenal di Malang,” tulis A. Van Schaik dalam Malang Beeld van een stad terbitan Asia Maior pada 1996.

Lapidoth Hotel bersalin nama menjadi Malang Hotel atau Hotel Malang pada 1870. Nyaris berbarengan dengan terbitnya Undang-Undang Agraria (Agrarische Wet) dan Undang-Undang Gula (Suiker Wet) oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Kabupaten Malang pun turut berkembang jadi salah satu pusat perkebunan kopi dan gula.

Lukisan keramik menempel di dinding hotel. Lukisan didatangkan langsung dari Belanda. (Terakota/Aris Hidayat).

Arsitektur bangunan Hotel Malang sendiri bergaya landhuizen. Perpaduan bangunan rumah Belanda dengan rumah pribumi Jawa atau gaya Indis. Salah satu gaya arsitektur yang populer di Hindia Belanda pada masa itu.

“Gaya bangunan landhuis bersifat simetris dengan ruang tengah sebagai pusat kegiatan dan beratap cungkup,” tulis Achmad Sunjayadi dalam artikelnya Serambi Rumah dan Hotel di Hindia-Belanda dalam Konsep Denotasi dan Konotasi Roland Barthes.

Malang Hotel kembali berganti nama menjadi Hotel Jensen pada awal 1900-an. Hotel dengan 50 kamar ini dinilai cukup mewakili wajah perhotelan di Malang yang saat itu iklim industrinya semakin menggeliat. Sebagaimana ditulis dalam Kroniek der Stadsgemeente Malang 1914 – 1939.

Abraham Lapidoth meninggal pada 1908, bisnis hotel sempat terpuruk hingga dijual pada 1915. Pemilik baru merombak total bangunan sekaligus menghapus nama Hotel Jensen. Hotel dibangun ulang. Dierkjakan Biro Arsitek AIA (Algemeen Ingenieur Architecten) Belanda. Namanya diubah menjadi Palace Hotel.

Sebuah hotel bertaraf internasional pada masa itu. Di tengah bangunan utama terdapat menara kembar menjulang tinggi berfungsi layaknya menara pengawasan. Serta mempunyai bangunan dua blok di sisi kanan dan kiri yang menjorok ke depan.

“Menara kembar pada pintu masuk terlihat mendominasi, tampaknya ciri itu merupakan bentuk yang khas arsiektur kolonial pada tahun 1900-1915,” tulis Handinoto dalam Perkembangan Kota Malang Pada Jaman Kolonial (1914-1940) di Jurnal Dimensi 22/September 1996.

Pada masa pendudukan Jepang (1942 – 1945) nama hotel diubah menjadi Asoma Hotel. Begitu penjajahan Jepang berakhir, nama hotel pun kembali seperti semula yaitu Palace Hotel. Sayangnya, hotel ini sempat mengalami kerusakan parah saat terjadi Agresi Militer Belanda I pada 1947.

Hotel Palace termasuk salah satu yang rusak, dua menara kembar turut hancur. Hotel berpindah tangan beralih ke pengusaha asal Banjarmasin, Sjachran Hosein pada 1953. Perlahan Sjahran membenahi sekaligus mengubah nama Hotel Palace jadi Hotel Pelangi pada 1964. Kondisi bangunannya sampai hari ini masih 60 persen sesuai kali pertama Palace Hotel dibangun.

kisah-hotel-pertama-di-kota-malang
Hotel Pelangi berusia 159 tahun terletak di Jalan Merdeka Selatan nomor 3 Kota Malang menjadi hotel paling awal di Kota Malang. (Terakota/Aris Hidayat).

Beberapa ornamen lawas masih terjaga keasliannya. Terutama pada bagian Hall Lodji Coffe Shop and Resto. Bagian atap dan tegel ruangan itu tetap sesuai aslinya. Temasuk 22 lukisan keramik menggambarkan desa dan destinasi di Belanda. Lukisan berjudul Bu Duivendrecth, menggambarkan sapi – sapi di padang rumput. Lukisan berjudul De Hoofdtoren te Hoorn menampillkan bangunan menara utama di antara rumah – rumah.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini