Kisah Hotel Pelangi Malang, Tujuh Kali Ganti Nama

kisah-hotel-pelangi-malang-tujuh-kali-ganti-nama
Palace Hotel (Foto : KITLV)

Terakota.id Jika kita berkunjung ke Alun-Alun Kotak Kota Malang, maka tepat di Jalan Merdeka Selatan Nomor 3, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang, di depan Bank Mandiri, terlihat sebuah hotel klasik. Bernama Hotel Pelangi, berdiri tegak di depan hiruk pikuk keramaian Kota Malang. Hotel ini merupakan salah satu hotel tertua di Malang yang memiliki sejarah panjang. Menurut seniman dan budayawan sekaligus pemilik Resto Inggil dan Museum Tempo Doeloe, Dwi Cahyono dalam bukunya berjudul “Malang Telusuri dengan Hati”, 2007, halaman 101, menjelaskan sejarahnya,

“Hotel Pelangi awalnya adalah Palace Hotel mempunyai ciri-ciri khas bangunan kolonial 1900-1915. Yakni di tengah bangunan terdapat Double Tower yang menjulang tinggi untuk pengawasan dan mempunyai dua blok di sisi kanan dan kiri yang menjorok ke depan. Di bangun 1916, sebelum menjadi hotel yang memiliki 126 kamar pada saat itu, tempat ini, memang menjadi tempat favorit untuk didirikan hotel”, tulis Dwi.

Sebenarnya embrio pendirian dari hotel ini lebih lama lagi, Pada awalnya gedung Hotel Pelangi ini bernama “Hotel Lapidoth” yang didirikan sekitar 1860 oleh orang Belanda bernama Abraham Lapidoth (1836-1908). Kemudian pada 1870 namanya diganti menjadi Hotel Malang berlokasi di Jalan Aloon-aloon Kidoel Nomor 3 Kota Malang (kini Jalan Merdeka Selatan Malang). Hotel ini masih berarsitektur rumah joglo dengan tradisi Jawa yang sangat tradisional bahkan cenderung layaknya rumah tinggal besar (pendopo).

kisah-hotel-pertama-di-kota-malang
Lapidoth Hotel Malang sekitar 1900. (Foto: KITLV).

Kamar mandi serta fasilitas lainnya masih sangat sederhana. Jalan di depannya pun masih berupa jalan tanah belum diaspal. Tetapi nama Hotel Malang juga tak bertahan lama, sekitar 1900 namanya menjadi Hotel Jensen. Saat itu di Kota Malang hanya terdapat dua hotel, selain itu juga terdapat Hotel Jansen yang terletak di Regentstraat (sekarang Jl. H Agus Salim). Keduanya berkapasitas 50 kamar. Sekitar  1920 Hotel Jansen dihancurkan dan dibangun menjadi gedung pertokoan. Pada saat ini berubah menjadi pertokoan Mitra dan Gajah Mada Plaza. (Sumber Data: Moch. Antik. “Hotel Pelangi (Palace Hotel)”, diakses dari www.ngalaim.id, 17/10/2018:10:58 WIB).

Kemudian, Dwi Cahyono di dalam slide show No. 14 di Power Point (PPT)-nya yang disampaikan dalam sebuah acara yang berjudul “Sosialisasi Perlindungan dan Penyelamatan Arsip Sejarah Tahun 2018”, yang diadakan oleh Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Kota Malang, pada tanggal 17 April 2018 di Hotel Ijen Suites Resort & Convention, menyatakan bahwa: “Dibangun tahun 1915 mempunyai Double Tower untuk pengawasan dan dua blok bertingkat sebelah kanan kiri yang menjorok kedepan. Arsiteknya kemungkinan dari Belanda yaitu Biro Arsitek Kazemeir dan Tonkens,” ujar Dwi dalam pemaparannya.

Jadi, setelah pemilik Hotel Jensen meninggal, hotel itu dijual dan dijadikan Hotel Palace oleh Pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1915. Menariknya, dalam surat kabar bernama “Tjahaja Timoer” edisi 22 Agustus 1924 dengan artikel berjudul “Soenan Solo” pada halaman 2, seperti dikutip Sejarawan dan Dosen Universitas Negeri Malang (UM), R. Reza Hudiyanto, dalam bukunya berjudul “Menciptakan Masyarakat Kota Malang di Bawah Tiga Penguasa 1914-1950”, di halaman 190-191, menyinggung sepintas terkait Hotel Palace, sebagai berikut:

“Faktor budaya juga membuat tradisi Jawa tidak berakar kuat pada masyarakat Malang jika dibandingkan dengan kota-kota lain yang berada di dekat pusat Negara Tradisional. Ini dapat dibuktikan pada sikap penduduk Kota Malang saat menyaksikan Sunan Pakubuwono X keluar dari Hotel Palace menuju ke pendapa kabupaten. Penduduk kota sama sekali tidak melakukan sembah atau jongkok, yaitu sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh seorang rakyat saat berhadapan dengan seorang raja”.

Palace Hotel diterbitkan Circa 1925. (Foto : KITLV),

Lebih jauh lagi, Nur Purba Prasetya dalam artikelnya yang berjudul “Palace Hotel”,yang dimuat di dalam buku “Malang Tempo Doeloe Djilid Satoe”, 2006, halaman 246, menjelaskan: “Ketika Bangsa Belanda masih berkuasa di Malang pastilah pemilik hotel itu orang belanda. Hal itu terlihat dari nama hotel itu yakni Palace Hotel. Tahun 1942, Bangsa Belanda bertekuk lutut pada Bala Tentara Pendudukan Jepang. Dengan sendirinya seluruh asset Bangsa Belanda diambil alih oleh Bala Tentara Jepang, salah satunya yakni Palace Hotel. Pemerintahan Jepang di Malang, mengganti nama hotel menjadi Hotel Asoma,” tulis Nur Purba Prasetya dalam artikelnya.

Kemudian, sejarawan dan dosen Universitas Airlangga (UNAIR) Suarabaya, Purnawa Basundoro dalam bukunya berjudul “Dua Kota Tiga Zaman Surabaya dan Malang Sejak Kolonial sampai Kemerdekaan”, 2009,  halaman 191, menjelaskan “Pada Agustus 1945 tidak beberapa lama setelah berita proklamasi kemerdekaan diterima masyarakat Malang … Palace Hotel (Hotel Asoma, red) sempat berubah menjadi Hotel Merdeka …,” tulis Purnawan Basundoro menjelaskan,

Selanjutnya, Sejarawan Malang, Suwardono dalam buku karyanya dengan Supiyati Rosmiayah berjudul “Monografi Sejarah Kota Malang”, halaman 25 menjelaskan: “… Tentara belanda kembali menduduki Kota Malang pada tanggal 21 Juli 1947. Aksi militer Belanda tersebut kita kenal dengan nama Clash I. Pemerintah Belanda menamakannya Aksi Polisionil, yang maksudnya mengadakan pembersihan terhadap para pengacau keamanan (para tentara kita).

Melihat gelagat itu, sebelum tentara Belanda memasuki kota, Pemerintah Kota Malang segera bertindak. Gedung Balai Kota Malang ditinggalkan. Sebelum ditinggalkan gedung itu dibumihanguskan agar tidak dapat dipakai lagi oleh Pemerintah Belanda. Pemerintahan Kota Malang waktu itu mengungsi ke Hotel Palace (Hotel Merdeka, red) (sekarang hotel Pelangi yang didirikan tahun 1915). Pemerintahan Kota Malang akhirnya mengungsi ke Kepanjen, di luar Kota Malang,” tulis Suwardono dalam bukunya.

Setelah para penjajah tersebut benar-benar pergi dari bumi pertiwi Indonesia, hotel ini pun kembali mengalami dinamikanya kembali. Nur Purba Prasetya, dalam artikelnya yang sudah disinggung diatas, dalam halaman 257 menjelaskan: pada 1953 hotel tersebut dimiliki oleh H. Syachran Hosein dan namanya diubah menjadi Hotel Pelangi. Tidak ada catatan apakah menara kembar (Double Towerred) hotel ini masih ada atau tidak. Bisa jadi kedua menara itu sudah roboh pada waktu pertempuran hebat melanda Kota Malang pada bulan Juli 1947.

Hotel Pelangi memiliki luas 600 meter persegi dan bertingkat dua. Awalnya memiliki 125 kamar. Tetapi, sekarang hanya 86 kamar saja yang difungsikan. “Lobi maupun kantornya  terletak di tengah huruf U yang dikelilingi kamar-kamar. Dikatakan huruf U karena hotel ini memang berbentuk huruf U,”tulis Nur Purba Prasetya dalam artikelnya.

kisah-hotel-pelangi-malang-tujuh-kali-ganti-nama
Hotel Pelangi berusia 159 tahun terletak di Jalan Merdeka Selatan nomor 3 Kota Malang menjadi hotel paling awal di Kota Malang. (Terakota/Aris Hidayat).

Sebagai tambahan informasi, sekarang Hotel Pelangi memiliki 75 kamar terdiri dari 4 tipe kamar yaitu standart room, superior room, executive deluxe room dan suite room. Semua ruangan bernuansa modern aristokrat. Kamar sangat luas serta akses mobil langsung di depan kamar. Suite room ini sangat cocok untuk kalangan keluarga. Sedangkan executive deluxe room dengan desain minimalis, nyaman dan bersih. Superior room dengan suasana seperi tinggal di kamar pribadi dan standard room yang didesain cocok untuk keperluan bisnis maupun liburan Anda di Malang.

Fasilitas lain yang ada di hotel, di antaranya ballroom, ruang meeting, coffee shop, tempat penitipan bayi, dan money changer. Ballroom dan ruang meeting yang dapat menampung sampai dengan 250 orang untuk berbagai macam acara seperti pesta pernikahan, meeting, dan pertemuan. Hall dengan 4 macam tipe ruangan dan style yang bisa dipilih yaitu Concordia Hall (30-250 orang), Palace Meeting Room (25-40 orang), Sjachran Hoesin Ballroom (50-100 orang) dan VIP Meeting Room (5-10 orang).

Lodji Coffee Shop buka 24 jam yang menyajikan menu masakan khas Indonesia, Chinese dan Eropa. Di sini bernuansa kolonial Belanda dengan lukisan dan keramik peninggalan lama. Selain itu juga terdapat fasilitas free hot spot (Sumber Data: Moch. Antik. “Hotel Pelangi (Palace Hotel)”, diakses dari www.ngalaim.id, 17/10/2018:10:58 WIB). Guna mempermudah meilhat perubahan-perubahan nama dari Hotel Pelangi ini, perhatikan tabel dibawah ini.

  1. Hotel Lapidoth – 1860
  2. Hotel Malang – 1870
  3. Hotel Jensen – ± 1900
  4. Hotel Palace – 1915
  5. Hotel Asoma – 1942
  6. Hotel Merdeka – 1945
  7. Hotel Pelangi – 1953-Sekarang

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini