Kisah Heroik 9 November 1945, Pertempuran Banjarmasin dan Surabaya

kisah-heroik-9-november-1945-pertempuran-banjarmasin-dan-surabaya

Terakota.id-Tentara Australia atas nama Sekutu mendarat di Banjarmasin pada 17 Setemtember 1945. Orang Belanda yang tergabung dalam Netherland Jndie Civil Administration (NICA) dipimpin Mayor A. L. van Assendrop ikut bergabung. Di luar dugaan ternyata tentara Australia bersimpati atas perjuangan rakyat Indonesia untuk rnernperoleh kernerdekaan. Seperti yang ditulis dalam buku sejarah daerah kalimantan selatan yang diterbitkan Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Departemen Pendidikan dan Kebudataan 1979/1978.

Mereka membawa tujuh lembar selebaran mengenai kemerdekaan Indonesia. Berisi menyatakan Indonesia telah merdeka, anjuran sernua golongan menggalang persatuan, dan  Belanda harus dilawan. Selebaran tertulis dalam bahasa Inggeris oleh organisasi kaum pergerakan di luar negeri yang tidak rnencantumkan nama organisasi maupun nama perorangannya. Diperkirakan ditulis oleh pejuang yang dibuang ke Australia.

Selebaran ini rupanya diperuntukkan bagi warga Negara Indonesia di luar negeri terutama di Australia. Di antara tentara Australia itu yang bertugas mereka menghubungi kelompok pergerakan di Banjarmasin. Yakni Victor Little (bertugas pada bagian radio) dan Charles Voorsters (bertugas pada bagian senjata otomatis).

Mereka menemui Pengurus Besar Persatuan Rakyat Indonesia (PRI) Hadariyah M. Lantas mereka menyebarluaskan selebaran yang telah diterjemahkan M. Afiat ke dalam bahasa Indonesia. Selebaran dicetak sekitar 400 lembar dengan tulisan huruf Latin dan huruf Arab. Selebaran ditempel pemuda PRI dibantu tentara Australia yang tengah menjemput tentara Jepang. Selebaran ditempel pada akhir September 1945.

Tentara NICA bereaksi. NICA memanggil pengurus PRI antara lain Pangeran Muda Ardikesuma, A. Ruslan, Hadhariyah M. Abubakar, H. Abdullatief, dan Amir Hasan Bondan. Mereka dipaksa menandatangani pernyataan jika PRI bertanggungjawab apabila terjadi penganiayaan terhadap orang Belanda, lndo-Belanda, maupun Ambon. PRI bertanggungjawab atas perbuatan sabotase politik. Sehingga ruang gerak PRI terbatas.

Untuk itu pemirnpin PRI bersepakat membentuk badan pejuangan baru, yang bersifat lebih radikal. Badan baru ini benama Barisan Pemuda Republik Indonesia Kalimantan (BPRIK). Dibentuk pada tanggal 16 Oktober 1945 dengan pimpinan Hadhariyah. M dan A. Ruslan.

Kemudian dibentuk Gerakan Rakyat Mempertahankan Republik Indonesia (GERMERJ) dipimpin Hasnan Basuki, Barisan Pelopor Pemberontakan Indonesia Kalimantan Indonesia (BPPKI) di bawah pimpinan M. Yusi, Pemuda Penyongsong Republik lndonesia (PPRI) dipimpin Muzanie Ranie, Gerakan Rakyat Pembela Indonesia Merdeka dengan pimpinan Abdulrakhman Karym.

Pada I November 1945 pemuda mengeroyok warga Belanda yang mencopot selebaran yang ditempel di Pasar Baru Banjarmasin.  Malam hari mereka menyerbu pos polisi Belanda. Atas peristiwa itu, militer Belanda menangkap pemuda yang dicurigai.

Pertempuran Banjarmasin

Lantas BPRIK mempersiapkan penyerangan terhadap pos militer Belanda di Banjarmasin. Rencana dipersiapkan di Desa Pangambangan. Personil inti merupakan pemuda Desa Cintapuri, di bawah pimpinan Khalid. Penyerangan dilakukan 9 Nopember 1945 dipimpin Aminuddin, Khalid, dan M. Amin Efendi. Penyerangan dilakukan dengan senjata minim.

Korban berjatuhan, sebanyak sembilan nyawa melayang. Pada hari yang sama pertempuran serupa terjadi di Rantau. Dua pejuang mati syahid yakni Tasan dan Panyi. Di Marabahan dan Balawang satuan Pemuda Persatuan Rakyat Indonesia yang bergabung dengan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (Rombongan IX kiriman Bung Torno dari Surabaya) berhasil menguasai daerah itu tanpa pertempuran.

Sebanyak 112 penguasa Belanda menyerah, tetapi melalui jalan belakang meminta bantuan. Sehingga dua hari kemudian daerah itu gabungan tentara Belanda datang dari dua arah. Yakni dari Kandangan dan dari Banjarmasin. Kekuatan personil dan senjata terlalu kuat untuk dilawan sehingga para pemuda dilepaskan ke militer Belanda.

Ultimatum Sekutu untuk Pejuang Surabaya

Komandan Tentara Angkatan Darat Sekutu, Mayor Jenderal Mansergh memberikan untlimatum kepada rakyat Indonesia di Surabaya, pada 9 November 1945. Seperti ditulis AH Nasution dalam buku Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia – Jilid 3 Diplomasi Sambil Bertempur, (Bandung: Disjarah AD-Angkasa, 1992). Ultimatum berisi :

Seluruh pimpinan Indonesia, termasuk pimpinan gerakan pemuda, kepala polisi, dan kepala radio Surabaya harus melapor ke Bataviaweg tanggal 9 November pukul 18.00. Mereka harus berbaris satu persatu membawa segala jenis senjata yang mereka miliki.

Senjata tersebut harus diletakkan di tempat yang berjarak 100 yard dari tempat pertemuan, setelah itu orang-orang Indonesia harus datang dengan tangan di atas kepala mereka, dan akan ditahan, dan harus siap untuk menandatangani pernyataan menyerah tanpa syarat.

Bagi pemuda-pemuda bersenjata diharuskan menyerahkan senjatanya dengan berbaris dan membawa bendera putih. Batas waktu yang ditentukan adalah pukul 06.00 pagi tanggal 10 November 1945. Apabila tidak diindahkan Inggris akan mengerahkan seluruh kekuatan darat, laut, dan udara untuk menghancurkan Surabaya.

Ultimatum tersebut tak digubris rakyat Indonesia. Meski Tentara Sekutu bakal bertambah jumlah kekuatannya. Ditunjang perlengkapan senjata perang yang canggih. Ancaman itu tidak mampu memadamkan semangat perlawanan rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan. Sehingga terjadilah pertempuran 10 November 1945.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini