Kisah Gitaris Guns’ N’ Roses Belajar Gambus kepada Arek Malang

Pementasan sesungguhnya telah selesai, tapi tidak bagi Bumblefloot. Bekas gitaris Guns N’ Roses yang kondang bermain gitar double neck itu berdiskusi dengan Syech Razie tentang skill bermain gambus. “Bumblefloot bertanya bagaimana teknik memainkan gambus, karena skill bermain gambus juga sangat bisa dimanfaatkan untuk bermain dobel gitar,” ucap Syech Razie.

Terakota.id – Telepon Syech Razie berdering. Di ujung telepon suara seorang staf Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Malaysia. Dia meminta musisi gambus bermain bersama Ron ‘Bumblefloot’ Thal, bekas gitaris Guns N’ Roses. Dalam satu panggung.

Syech Razie, musisi asal Tongan, Kasin, Kota Malang ini bermain bersama  dua musisi melayu lainnya. Ketiganya  diminta bermain bersama Bumblefloot. Yakni gitaris nyetrik Indonesia, Puguh Kribo dan Andy Flop Poppy seorang musisi Malaysia. Mereka bermain dalam satu panggung pada 29 April 2015 di Kuala Lumpur, Malaysia.

“Saya memainkan gambus elektrik. Itu sebuah program pertukaran budaya. Kedutaan Amerika ingin ada ikon melayu bermain bersama Bumblefloot,” kata Syech Razie di sela-sela Festival Dawai Nusantara #3 di Malang, Jumat 20 Oktober 2017 lalu.

Mereka memainkan beberapa lagu melayu dan salah satu lagu wajib Guns N’ Roses berjudul Sweet Child O Mine mengakhiri penampilan bersama. Pementasan sesungguhnya telah selesai, tapi tidak bagi Bumblefloot. Bekas gitaris Guns N’ Roses yang kondang bermain gitar double neck itu berdiskusi dengan Syech Razie tentang skill bermain gambus.

“Bumblefloot bertanya bagaimana teknik memainkan gambus, karena skill bermain gambus juga sangat bisa dimanfaatkan untuk bermain dobel gitar,” ucap Syech Razie.

Pria yang sebelumnya tujuh tahun bermukim di Malaysia ini menambahkan, Bumblefloot memainkan dobel gitar dengan fret bagian bawah dan fretless di bagian atas. Memainkan dobel gitar seperti itu harus dengan teknik berbeda. Memainkan fretless harus dengan teknik berbeda, agar menghasilkan suara yang berbeda dengan fret.

“Kalau dimainkan standar, tentu tidak ada keunikan. Bumblefloot ingin memaksimalkan fretless dan dia melihat ada skill bermain gambus yang bisa dimanfaatkan,” ujar Syech Razie.

Suara yang ada di bagian fretles lebih banyak daripada yang ada di bawah. Adanya fret mengurangi quoter tone dalam gitar. Saat dilepas ke fret dia akan bebas berjalan dengan nada 1/4 dan 3/4.

“Gambus itu kekuatannya ada tangan kanan, jenis petikan sebelah kanan itu juga didiskusikan oleh Bumblefloot,” katanya.

Syech Razie kagum dengan kemauan Bumblefloot untuk mempelajari dawai yang berasal dari Timur Tengah tersebut. Itu menunjukkan instrumen dawai sebenarnya fleksibel dan bisa dimainkan untuk genre musik apapun. Keengganan seniman untuk mengeksplorasi dawai, justru membuat kemampuan bermusik cenderung kaku.

 

“Sering kita sendiri yang membuat kaku. Memainkan instrumen itu tak harus sesuai pakem, harus berani mencoba,” katanya.

Julukan musik padang pasir melekat ke gambus. Merujuk pada lirik berbahasa arab Timur Tengah sebagai dari mana dawai itu berasal. Dari tengah gurun, dawai ini masuk ke berbagai penjuru dunia lewat para pedagang arab. Di tanah melayu, gambus diperkirakan dikenalkan ke masyarakat pesisir antara abad ke 5 sampai abad 15 masehi.

Di melayu, khususnya Indonesia, salah satu musisi gambus yang sangat terkenal adalah Syech Albar di tahun 1930-an. Ayah kandung musisi Ahmad Albar ini bahkan disebut – sebut musisi gambus terbaik di luar kawasan arab. Gambus juga mempengaruhi beberapa genre musik seperti dangdut.

“Bahkan musik gambus diyakini mempengaruhi musik blues yang dimainkan oleh orang – orang barat,” tandas Syech Razie.

 

Tinggalkan Pesan