Kisah Dokter Tjipto, Pesjati dan Wabah Pes di Malang

awal-pageblug-atau-wabah-pes-menyerang-malang
Vaksinasi warga Malang untuk mencegah wabah pes. (Foto : Neville Keasberry)

Terakota.idDokter Tjipto Mangunkusumo dan dokter Soetomo turut turun memerangi wabah pes di Malang pada 1911. Mereka menjadi relawan mengobati penduduk yang terserang pes. Dokter Tjipto rela meninggalkan praktik dokter di Surakarta, sebuah kota besar dengan infrastruktur yang memadai kala itu. Ia rela meninggalkan kenyamanan dengan beragam fasilitas untuk turut memerangi wabah pes.

Dokter Tjipto menggratiskan biaya khusus bagi masyarakat miskin. Sedangkan orang kulit putih dari bangsa eropa dibebani biaya berkali lipat. Sedangkan dokter Soetomo memberi pelayanan secara gratis bagi penduduk pribumi,  “Dokter Tjipto blusukan dari ke kampung ke kampong,” kata sejarawan dan peneliti Center for Cultur and Frontie Studies Universitas Brawijaya FX Domini BB Hera.

Saat mengunjungi kawasan permukiman di Kepanjen, ia mendengar suara bayi menangis di dalam rumah. Bayi tergeletak di antara jenazah kedua orang tua yang terserang pes. Hatinya tergerak, dokter Tjipto menggendong bayi dan mengangkat sebagai anak. “Bayi diberi nama Pesyati (Pesjati),” katanya.

Lantas kampung tersebut diasapi belerang agar pes musnah. Bahkan ada sebuah kampung dibakar dan warga direlokasi karena warga sekampung terjangkit pes. Rumah terbuat dari jerami, dan kontruksi berdinding anyaman bambu sehingga menjadi sarang tikus.  “Dramatis, kampung tersebut berada di Lawang,” ujarnya.

Saat menangani pes, dokter Tjipto berhati-hati dan memperhatikan keselamatan sesuai pengetahuan medis. Tapi ia tak menggunakan alat peliundung diri. Langkah teknis di lapangan ini dipelajarai di The School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Meski tak ada penyakit pes di Hindia Belanda.

Kala itu, merupakan wabah pes yang pertama terjadi Nusantara. Para dokter diturunkan memberantas wabah pes terbagi dalam dua gelombang, Gelombang pertama dikerahkan mahasiswa kedokteran STOVIA dan dokter umum eropa lain. Gelombang berikutnya dokter Belanda. Namun banyak dokter Belanda merasa jijik dan tak turun ke lapangan.

kisah-dokter-tjipto-pesjati-dan-wabah-pes-di-malang
Seorang dokter Jawa melakukan vaksinasi di Bondowoso 1910. (Foto : KITLV).

Dalam keadaan darurat, mahasiswa STOVIA diberi pilihan magang langsung menangani pasien pes dan langsung lulus. Mereka langsung praktik di lapangan. Cara ini dilakukan untuk mengatasi kekurangan tenaga medis. Sementara pandemi influensa pada 1918 di Jawa merenggut 3,4 juta sampai 5 juta jiwa.

Dokter Tjipto menulis di majalah milik partai yang didirikannya National Indische Partij,  tentang bagaimana pemerintah kolonial Belanda abai sehingga wabah pes merajalela. Bahkan saat wabah pes melanda Surakartaa, ia melamar jadi relawan tapi ditolak Pemerintah Hindia Belanda. Lantas dokter Tjipto memprotes dengan meletakkan bintang penghargaan dari Pemerintah Hindai Belanda karena terlibar menangani wabah pes di bokong.

Sementara, sampai saat ini tak banyak catatan mengenai wabah  pes di Malang yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Malang. Padahal berdirinya Kotapraja Malang berkaitan erat dengan wabah pes tersebut. Pada laporan ulang tahun Kotamadya Malang ke 40 pada 1954, juga tak ada catatan wabah pes. Padahal peristiwa wabah pes layak dijadikan acuan dalam mitigasi wabah penyakit. Termasuk pandemi covid-19 yang dialami saat ini.

Untuk itu, wabah pes layak dikenang. Sisco mengusulkan dibangun patung dokter Tjipto menggendong bayi Pestjati di Jalan dr Cipto. Layak dikenang, ujarnya, dalam melawan wabah penyakit menular terutama perkembangan pes di Malang. Dilengkapi dengan catatan korban puluhan ribu jiwa. Pantung dibangun di Jalan dokter Cipto, berdekatan dengan rel kereta dan terhubung dengan Jalan dokter Soetomo.

“Jalan dr Cipto menggantikan Jalan Wilhhelmina,” katanya. Dokter Tjipto dan dokter Soertomo bersama-sama terlibat menanggulangi wabah pes. Dokter Soetomo dikenal karakternya halus sedangkan dokter Tjipto berkarakter berani.

Membasmi sarang tikus untuk mencegah wabah pes. (Foto : Neville Keasberry)

Menumen, katanya, berfungsi mengenang puluhan ribu jiwa yang terenggut penyakit pes. Sekaligus mengapresiasi dokter Tjipto yang berjuang melawan wabah pes. Sampai saat ini, patung dokter Tjipto hanya dua yakni di Jakarta dan Ambarawa.

Patung ini akan menjadi monumen humanis. Sekaligus menjadi simbol melawan penyakit menular. Pesan untuk generasi mendatang agar bisa melakukan mitigasi bencana wabah penyakit termasuk corona. Selain itu juga mengingatkan otoritas pemerintah untuk memperhatikan isu kesehatan masyarakat,  Tanggap terhadap wabah wabah.

“Sedih, logika elit tak pikirkan wong alit. Republik tak ingat publik. Jangan hanya pencitraan saja,” ujarnya.

kisah-dokter-tjipto-pesjati-dan-wabah-pes-di-malang
Dr Tjipto bersama anggota Indische Partij di Belanda 1923. (Foto : KITLV).

Lebih lengkap mengenai epidemi pes di Malang 1911-19-16, simak Talkshow Arkais Terakota.id pada Rabu, 29 Juli 2020 pukul 19.00-21.00 WIB Via zoom. Menghadirkan peneliti sejarah dan penulis buku “Epidemi penyakit pes di Malang 1911-1916” Syefri Luwis, M.Hum. Untuk mengikuti forum diskusi silakan mengisi formulir pendaftaran di sini.

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini