Kisah Berpuasa Ramadan Pertama di Amerika Serikat

Hasnah Fadhila tengah salat tarawih di masjid terdekat . (Foto : dokumentasi pribadi).

Terakota.id–Bagaimana berpuasa Ramadan di Negeri orang? Beragam kisah dari warga Indonesia yang menjalankan puasa Ramadan di Amerika. Seperti yang dilaporkan Metrini Geopani dari Voice of Amerika (VOA), Ramadan jatuh pada musim semi. Saat ini cuaca panas dengan suhu udara rata-rata mencapai 31 sampai 37 derajat celcius.

Dosen Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Hasna Fadhilah mengisahkan puasa pertama kali di Amerika Serikat. Penerima beasiswa Religious Freedom Institute, Washington DC ini harus berbelanja bahan makanan halal untuk persediaan menu buka puasa dan mencari masjid terdekat.

“Saya tanya ke kawan-kawan kantor, masjid terdekat untuk salat tarawih,” tutur Hasna.

Sejumlah warga Negara Indonesia di Amerika pertama kali berpuasa di luar negeri seperti hasna. Maryam Nisywa, mahasiswa asal Bandung, terbiasa berpuasa sejak kecil. Namun bagi mahasiswi program master di George Washington University, tahun ini merupakan puasa pertama di luar negeri. Momen yang menantang sekaligus menjadi pengalaman baru.

“Menjaga kondisi fisik, yang penting selama berpuasa menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan,” ujarnya. Mulai mendaftar berbagai online classes dan melakukan berbagai pekerjaan seperti translating dan transcribing. Bagi Hasna dan Maryam, berpuasa di Amerika merupakan pengalaman pertama mereka berpuasa dengan waktu lebih lama daripada di Indonesia.

Sementara Irwan Saputra, mahasiswa penerima beasiswa LPDP menyambut suka cita meski ada kekhawatiran menghadapi Ramadan kali ini. Pengalaman yang tak terlupakan, berpuasa di daerah minoritas Muslim. “Waktu puasa lebih lama, sekitar 17-18 jam. Ini tidak pernah saya alami sebelumnya,” katanya.

Irwan tinggal sendirian di apartemen di Washington DC, tetap berpuasa seperti biasa. Memasak makanan sendiri menggunakan resep makanan khas Indonesia untuk santapan sahur dan berbuka.

Rizki Harahap bersama keluarga tinggal di Durham, North Carolina paling merindukan suasana puasa di tanah air dengan makanan khas. “Makanan khas berbuka seperti kolak pisang, cendol, es teler, dan kue-kue manis,” katanya.

Rizki Harahap berpuasa bersama dengan keluarga. (Foto : koleksi pribadi).

Akhirnya mereka memasak sendiri makanan dan minuman itu. “Beruntung, bahan makanan itu bida dibeli di supermarket makanan Asia di Durham, North Carolina,” tuturnya.

Kesibukan kuliah di Duke University tak menghalangi mereka beribadah puasa. Meski puasa cukup lama sampai 17 jam. Terbenamnya matahari lebih lama saat musim semi dan musim panas.

Setelah berbuka, Rizki dapat salat tarawih berjamaah di beberapa masjid termasuk di Duke University Centre of Muslim Life (CML). Ditempuh dengan 10 menit jalan kaki atau 2-3 menit mengendarai mobil dari rumah. 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini