Kirab Bantengan Nuswantara, Sebuah Penantian Selama 10 Tahun

Reporter: Fatima Tuzzaroh

Terakota.id—Kesenian bantengan memenuhi ruas jalan Kota Batu, Ahad 5 Agustus 2018. Sekitar 150 kelompok seni bantengan memeriahkan Kirab Bantengan Nuswantara. Kelompok seni bantengan berbondong-bondong menghadiri kirab. Para seniman tari bantengan menumpang truk, pikap dan mobil pribadi untuk mengangkut perlengkapan tari bantengan. Mereka menghias kendaraan agar terlihat menarik selama pawai.

Kirab Bantengan Nuswantara menyedot perhatian masyarakat Batu. Mereka rela berdesak-desakan dan kepanasan di tepi jalan. Tua, muda memenuhi ruas jalan di Kota Batu. Mereka tak ingin ketinggalan agenda langka ini.

Pawai bantengan dimulai dari stadion Brantas Batu dan berakhir di rumah dinas Wali Kota Batu. Di depan pendapa itu, pertunjukan Bantengan dimulai. Panitia menyiapkan area khusus pertunjukan. Masing-masing menyajikan atraksi terbaik.

Panitia penyelenggara Agus Riyanto bertugas menjadi pendekar Bantengan. Pria yang akrab disapa Agus Tobron ini memberangkatkan satu persatu kelompok bantengan. Ia memberangkatkan dengan melencutkan cemeti. Tidak sekadar memberangkatkan, sejumlah kelompok tari bantengan juga menampilkan kebolehan dan ketangkasan memainkan bantengan.

“Salah satunya menampilkan pertunjukan Solah Tarung Banteng,” kata Agus. Beragam jenis bantengan yang mengikuti pawai. Bantengan umumnya didominasi berwarna hitam, tapi berbeda dengan peserta pawai.

Agus Riyanto alias Agus Tobron pendekar bantengan memberangkatkan kelompok bantengan dalam Kirab Bantengan Nuswantara. (Terakota/Fatima Tuzzaroh)

Sejumlah kelompok bantengan mengenakan warna kuning, coklat, merah jambu, bahkan bermotif loreng harimau. Tidak hanya warna, modifikasi juga terlihat di bagian mata. “Mata banteng  bisa berkedip juga.” tutur salah seorang penunjung Anita.

Bantengan Nuswantara merupakan nama anggota kelompok kesenian pencak silat dan bantengan di seluruh nusantara. Khususnya di Malang Raya, berpusat di Kota Batu. Kegiatan Kirab Bantengan Nuswantara direncanakan rutin saban tahun.

“Kirab Bantengan Nuswantara pertama kali terlaksana pada 2008,” kata Agus Riyanto. Sebagai penggagas, Agus membutuhkan waktu 10 tahun kemudian untuk kembali menyelenggarakan kirab.

Dana murni berasal dari kelompok bantengan, tak ada bantuan dari pemerintah. Semua kelompok, katanya, menanggung biaya sendiri. Panitia juga menggalang dana secara sukarela dari kelompok bantengan.

Pawai bertajuk 10 Tahun Bantengan Nuswantara ini merupakan kebanggaan bagi kelompok Bantengan Nuswantara. Lantaran menjadi ajang tampil di depan publik secara bersama-sama dan besar-besaran.

Sanjang Sini Sanjang Sono

Jidor dan ketipung ditabuh, warga antusias berlari berebut tempat terdepan. Mereka berjajar di tepi jalan. Mereka berebut mendapat posisi terbaik untuk menonton seni pertunjukan bantengan. Sebagian rela memanjat pagar untuk dapat melihat pertunjukan. Bantengan merupakan seni tradisional yang banyak berkembang di Malang, Batu dan Mojokerto.

Asal-usul kesenian Bantengan simpang siur dan tak jelas. Seniman di Malang, Batu ataupun Mojokerto memiliki versi cerita yang berbeda. Namun, satu hal yang sama, seni tradisi Bantengan memiliki dasar seni bela diri pencak silat.

Seniman bantengan memiliki cara tersendiri untuk publikasi, namanya tradisi sanjang sini sanjang sono. Yakni tradisi bersilaturahmi para kelompok Bantengan. Tradisi ini mengajarkan mereka untuk saling membantu sesama. Ketika ada kelompok Bantengan mempunyai hajat, kelompok lain datang untuk meramaikan.

“Setiap pagelaran pasti dihadiri beberapa kelompok. Mereka saling membantu untuk meramaikan acara tanpa pamrih,” tutur Agus.

Peserta Kirab Bantengan Nuswantara beragam, memodifikasi warna salah satunya bermotif loreng harimau. (Terakota/Fatima Tuzzaroh)

Tradisi silaturahmi ini tergolong unik, didasarkan cara hidup banteng di alam liar. Banteng hidup secara komunal atau berkelompok. Pola hidup ini, katanya, mengajarkan kelompok Bantengan untuk selalu hidup guyub rukun. Rukun di dalam kelompok dan rukun dengan kelompok lain.

Anggota paguyuban Banteng Sumber Budoyo (SSB) asal Sukun Kota Malang, Yohanes mengaku takjub dengan tradisi ini. Saat memulai mendirikan kelompok BSB digelar pertunjukan mulai siang hingga malam. “Kami mengundang 10 paguyuban. Hebatnya yang datang mencapai 23 paguyuban.” Ujar Yohanes.

Tradisi ini membawa dampak positif bagi pemuda Sukun. Dulu, katanya, di Sukun banyak pemuda pengangguran, minum-minuman keras, bahkan memakai obat-obatan. Ia mengajak para pemuda berlatih bantengan dan berkunjung ke paguyuban lain.

“Mereka yang tadinya suka minum-minuman, akhirnya berhenti. Malu dengan paguyuban lain.”

 

 

Tinggalkan Balasan