Kiai Haji Masjkur, Pejuang dari Malang

Aktif berorganisasi sejak menetap di Singosari Malang dengan menjabat Ketua Nahdlatul Ulama Cabang Malang. Saat perang kemerdekaan, Kiai Haji Masjkur menjadi komandan Laskar Sabilillah. Laskar ini merupakan jaringan pejuang pesantren meliputi kiai dan pengasuh pesantren. Laskar Sabilillah, senantiasa berkoordinasi dengan Laskar Hibzullah pimpinan Kiai Haji Zainul Arifin.

Terakota.id–Sejumlah elemen masyarakat Malang tengah meneliti dan menelusuri para tokoh pejuang kemerdekaan untuk diajukan sebagai pahlawan nasional. Elemen masyarakat yang tergabung dalam Yayasan Sailillah Malang, Nahdlatul Ulama dan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU Kota Malang telah melakukan serangkaian penelitian.

Untuk tahap pertama, bakal mengusulkan Kiai Haji Masjkur. Seorang ulama kharismatik yang  menjadi komando laskar  Sabilillah. Kiai Haji Masjkur menggerakkan laskar santri dan kiai ini menghadang tentara sekutu di Surabaya pada pertempuran 10 November 1945, yang kemudian dikenal sebagai hari pahlawan.

Kiai Masjkur merupakan anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia  (BPUPKI), Menteri Agama dalam lima periode kabinet, dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Tim peneliti diketuai Kiai Haji Kasuwi Saiban,  sekretaris M Faisol Fatawi, dan anggota Mohammad Mahpur, Achmad Diny Hidayatullah, Hayat, Abdul Adzim Irsyad,  Hayat, Abdur Rahim, dan Heru Pratikno.

Serta sejumlah tokoh NU menjadi dewan pengarah meliputi Kiai Haji Tholhah Hasan MA, Kiai Haji Chamzawi Syakur,  Kiai Haji Mas’ud Ali, Profesor Mas’ud Said, dan Kiai Haji Farhan Ismail. Tim tengah mengumpulkan data, dokumen, foto, dan kesaksian para tokoh. Rancangan naskah akademik disusun melalui skripsi, tesis, disertasi, jurnal dan dokumentasi pemberitaan koran masa itu.

“Sedang proses penulisan naskah akademik. Bahan-bahan sudah terkumpul,” kata anggota tim Abdur Rahim.  Jika naskah akademik selesai, akan dilanjutkan dengan diskusi kelompok terpusat (FGD) melibatkan para akademisi, dan para pihak lainnya.

Selanjutnya, akan diteruskan ke pemerintah daerah dilanjutkan kajian yang melibatkan Kementerian Sosial sebagai syarat mengajukan gelar pahlawan nasional. Usulan Kiai Haji Masjkur sempat diajukan Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Malang pada 1995 atau tiga tahun setelah Kiai Masjkur wafat.

Waktu itu, katanya, Ketua GP Ansor Kabupaten Malang Kiai Haji Farhan Ismail mengajukan usulan ke Kementerian Sosial. Lantas Kementerian memberi balasan untuk melengkapi persyaratan. “Tapi setelah pergantian kepengurusan, tidak dilanjutkan,” katanya.

Kiai Pejuang

Tim peneliti pengusul gelar pahlawan nasional tengah berkoordinadi dan mengumpulkan data pendukung. (Foto : dokumen tim peneliti).

Wakil Sekretaris Lembaga Ta’lif wan Nasyr PBNU, Munawir Azis di laman www.nu.or.id menceritakan kiprah Kiai kelahiran Singosari, 30 Desember 1902. Masjkur menunaikan ibadah haji bersama kedua orang tuanya pada usia sembilan tahun. Kembali dari tanah suci Masjkur menjalani pendidikan di Pondok Pesantren Bungkuk, Singosari, pimpinan Kiai Haji Thahir.

 

Selanjutnya menjadi santri di Pesantren Sono, Buduran, Sidoarjo. Masjkur mempelajari ilmu nahwu sharaf. Selang empat tahun kemudian, dia mendalami ilmu fiqh di Pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo. Setelah berpetualang di sejumlah pesantren, Masjkur dekat dengan Hadratus Syaikh Kiai Haji Hasyim Asy’ari. Di Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Masjkur belajar ilmu tafsir dan hadits.

 

Setelah merampungkan nyantri di Tebu Ireng, Kiai Haji Masjkur melanjutkan tabarrukan ke pesantren Bangkalan, Madura. Tujuannya untuk mengaji Qiraat al-Qur’an kepada Syaichona Cholil. Minat belajar Kiai Masykur tidak berhenti di tanah Madura. Setelah suntuk belajar di bawah asuhan Syaichona Cholil, Kiai Masykur mengaji di pesantren Jamsaren Solo, Jawa Tengah.

 

Selepas merampungkan mengaji di  Jamsaren, Kiai Masykur memantabkan kaki mengabdi di tanah kelahirannya, Singosari, Kabupaten Malang. Kiai Haji Masykuri mendirikan Madrasah Mishbahul Wathan atau pelita tanah air.

 

Kiai Masykur menikah pada 1923, dengan cucu Kiai Haji Tahir, gurunya semasa di pesantren Bungkuk, Malang. Istrinya meninggal saat menginjak usia pernikahan ke 16 tahun. Kiai Haji Masjkur kemudian menikahi adik istrinya, Fatimah.

 

Aktif berorganisasi sejak menetap di Singosari Malang dengan menjabat Ketua Nahdlatul Ulama Cabang Malang. Saat perang kemerdekaan, Kiai Haji Masjkur menjadi komandan Laskar Sabilillah. Laskar ini merupakan jaringan pejuang pesantren meliputi kiai dan pengasuh pesantren. Laskar Sabilillah, senantiasa berkoordinasi dengan Laskar Hibzullah pimpinan Kiai Haji Zainul Arifin.

 

Laskar Sabilillah dan Hizbullah berperan besar menggerakkan para pejuang dalam melawan penjajah. Saat meletus perlawanan ‘Arek Suroboyo’ pada November 1945, Laskar Sabilillah dan Hizbullah mengobarkan semangat kaum santri. Terlebih, Hadratus Syaikh Kiai Haji Hasyim Asy’ari menggemakan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945.

 

Kiai Haji Masjkur dikenal sebagai penggerak Laskar Sabilillah dekat dengan pendiri Nahdlatul Ulama. Seperti Hadratus Syaikh Kiai Haji Hasyim Asy’ari, Kiai Haji Bisri Syansuri, Kiai Haji Wahab Chasbullah, Kiai Haji Wahid Hasyim.Juga dikenal dekat dengan Panglima Sudirman.

 

1 KOMENTAR

Tinggalkan Pesan