Kethoprak Pati/Pesisiran: Mrojol Soko Selaning Agaru

Kethoprak kesenian drama tradisional Jawa Mataraman yang mengisahkan kepahlawanan dan bangsawan Jawa. (Foto : Sukarjo Waluyo).

Terakota.id–Kethoprak adalah salah satu seni drama tradisional Jawa yang sangat terkenal dalam kebudayaan Jawa Mataraman. Pementasan kethoprak terdiri dari seni drama yang diselingi lagu-lagu Jawa dan iringan gamelan. Kesenian ini umumnya mengisahkan tentang kepahlawanan ksatria dan bangsawan Jawa.

Secara umum, kethoprak Jawa bisa dibagi dalam tiga kategori yaitu lakon masa Majapahit, lakon masa Demak, dan lakon masa Pajang-Mataram. Masing-masing kategori lakon dibedakan dengan tema atau lakon yang diangkat, kostum yang dipakai, serta ornamen-ornamen pementasan yang masing-masing meggambarkan kekhasan tiap-tiap masa.

Kethoprak pada umumnya mengangkat cerita yang bersumber dari Babad Tanah Djawi atau sejarah tanah Jawa sebagai landasan. Biasanya dibumbui dengan berbagai kisah pemanis sehingga pementasan menjadi enak untuk dinikmati. Menariknya, dalam kethoprak Pati yang seringkali disebut juga kethoprak pesisiran, banyak menampilkan juga lakon-lakon yang mengisahkan cerita tutur pesisir utara Jawa.

Salah satu daerah di Jawa Tengah yang bisa dikatakan sebagai surga bagi kehidupan kesenian kethoprak hingga saat ini adalah Kabupaten Pati. Pati adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten yang memiliki semboyan Kridane Panembah Gebyaring Bumi yang berarti bekerja keras meningkatkan kesejahteraan daerah ini dikenal juga dengan Kota Kethoprak (Kethoprak City).

Kabupaten Pati juga terkenal dengan slogan Pati Bumi Mina Tani ini adalah kota Jawa pesisir yang penting di bagian timur Jawa Tengah. Kabupaten Pati pernah menjadi ibukota Karesidenan Pati. Kota Pati adalah kota tua di Jawa pesisir utara yang sangat penting secara ekonomi dan politik sejak masa Kesultanan Demak, Kesultanan Pajang, Kesultanan Mataram, hingga zaman penjajahan Belanda, dan saat Indonesia merdeka.

Di Pati, sekitar ada 40-an kelompok seni kethoprak yang tetap tampil menghibur publik. (Foto : Sukarjo Waluyo).

Kethoprak Pati Masa Kini

Saat ini, ada sekitar 40-an grup yang masih eksis dan melayani tanggapan  (permintaan pementasan) di antaranya Cahyo Mudho, Langen Marsudi Rini, Bangun Budoyo, Ronggo Budoyo, Dwijo Gumelar, Konyik Cs, Manggala Budaya, Cahyo Gumelar, Laras Budoyo, Sapta Mandala, Kridho Carito, Wahyu Budoyo, Siswo Budoyo, Pati Utomo, dan sebagainya. Sebuah situasi yang menarik karena beberapa komunitas atau grup kethoprak di bagian lain seperti Solo, Jogja, Kediri, Tulungagung, atau daerah Kedu justru banyak yang ambruk saat berkompetisi dengan berbagai kesenian modern.

Juwartono, 67 tahun, seniman senior kethoprak dari Kecamatan Tayu dan anggota grup Kethoprak Sapta Mandala menuturkan Grup Kethoprak Budi merupakan kethoprak yang paling tua berada di Pati. Kethoprak beralamat di Desa Bakaran, Kecamatan Juwana ini sudah ada sejak awal 1950-an. Dalam perkembangannya, kethoprak Pati berkembang dalam dua jenis, yaitu kethoprak kampung dan kethoprak juragan (kethoprak bisnis).

Kethoprak kampung berdiri di kampung atau desa dengan anggota warga setempat. Mereka mendirikan grup kethoprak dengan tujuan sederhana, yaitu untuk mengisi pentas saat ada acara-acara desa, seperti sedekah bumi atau sedekah laut. Pada perkembangannya grup kethoprak kampung tidak bisa berkembang karena hanya mengandalkan pementasan di kampung, tidak ada target yang jelas, dan manajemen organisasinya tidak diatur dengan rapi.

Sementara itu, grup kethoprak juragan adalah kumpulan beberapa seniman kethoprak yang memiliki target dan tujuan. Mereka biasanya seniman kethoprak yang bisa dikatakan profesional dan mendalami betul ‘dunia kethoprak’. Beberapa seniman inilah yang berkumpul mendirikan grup-grup kethoprak yang selanjutnya memiliki tujuan bisnis dan dipimpin oleh seorang seniman kethoprak senior atau juga juragan. Kethoprak jenis kedua inilah yang saat ini mewarnai eksistensi kethoprak Pati yang biasa juga disebut sebagai kethoprak pesisiran.

Apresiasi masyarakat atas keberadaan kesenian kethoprak yang membuat seniman dan kethoprak Pati bisa bertahan hingga saat ini. (Foto : Sukarjo Waluyo).

Selanjutnya, Juwartono mengatakan bahwa eksistensi kethoprak di Pati bisa bertahan karena seniman, grup kethoprak, dan masyarakat sepertinya sepakat akan adanya lingkaran ekspresi berkesenian, bisnis hiburan, dan kebutuhan hiburan. Sebagai contoh pada bulan Apit (nama lain bulan Jawa Dulkangidah: yaitu bulan Hijriyah Dzulqo’dah) di Pati dan sekitarnya diadakan upacara sedekah bumi atau sedekah laut.

Lazimnya setiap desa mementaskan kesenian kethoprak sebagai puncak acaranya. Lebih lanjut, Juwartono yang karena senioritasnya seringkali dipinjam oleh grup kesenian kethoprak lain. Ia juga mengatakan bahwa penggemar kethoprak Pati bisa dikatakan se-eks Karesidenan Pati (Pati, Rembang, Kudus, sebagian daerah Jepara, dan sebagian daerah Blora). Biasanya ia pentas pada siang hari jam 13.00-17.30 WIB dan pada malam harinya pukul 21.00-04.00 WIB.

Ruslan Hadi, 65 tahun, seniman senior kethoprak dan ketua grup Wahyu Budoyo mengungkapkan hal yang nyaris sama. Grup kethoprak Wahyu Budoyo yang didirikannya pada tahun 1987 di Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti adalah salah satu grup terkemuka di Pati bagian Utara. Ruslan Hadi mengatakan bahwa apresiasi masyarakat akan keberadaan kethoprak dan permintaan pementasan membuat seniman dan kethoprak Pati bisa bertahan hingga saat ini.

Kethoprak Pati sebagaimana ungkapan mrojol soko selaning agaru, yaitu justru makin berkembang subur pada saat kesenian kethoprak di daerah lain justru mulai surut karena hantaman kesenian modern yang lebih praktis dan pragmatis. Bersama grupnya yang sudah didirikannya sejak tahun 1987, Ruslan Hadi mematok harga Rp 22 juta sekali pentas.

Roziyanto, 50 tahun, ketua grup kethoprak Pati Utomo Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen menjelaskan bahwa kepentingannya terjun ke dunia kethoprak karena motivasi bisnis. Setelah cukup modal selepas menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi, pengetahuannya tentang hal ikhwal kethoprak dari orang tuanya yang juga seniman kethoprak memotivasinya untuk mendirikan grup kethoprak.

Dia pun tidak segan-segan mengambil beberapa seniman senior yang sudah populer di masyarakat untuk bergabung dalam setiap pementasannya. Bersama grupnya, Roziyanto mematok harga Rp 18 juta sekali pentas.

Kethoprak umumnya mengangkat cerita yang bersumber dari Babad Tanah Djawi atau sejarah tanah Jawa yang dibumbui berbagai kisah pemanis. (Foto : Sukarjo Waluyo).

Berkaitan dengan kebijakan Pemerintah Daerah Pati, para seniman mengungkapkan tidak adanya kontribusi kebijakan pemerintah daerah yang berarti dalam perkembangan kethoprak Pati. Seniman kethoprak dan grup kethoprak di Pati yang pada umumnya berangkat dari motivasi material atau uang itulah justru yang membuat kesenian kethoprak mampu bertahan hingga kini.

Berkaitan dengan tema dan lakon kethoprak di wilayah Pati, para seniman kethoprak di atas menyatakan hal yang senada. Ada beberapa lakon yang seringkali dimainkan, yaitu: Syekh Jangkung, Ontran-ontran Cirebon, Geger Palembang, Bedhahing Ngerum, Sultan Agung Tani, Lulang Kebo Landoh, Ondho Rante, dan Maling Kapa, Maling Kentiri.

Sementara itu, ada beberapa lakon yang karena dianggap sensitif oleh masyarakat dan biasanya dihindari dalam pementasan grup kethoprak Pati, misalnya Pakuwaja, Syekh Siti Jenar, dan Arya Penangsang Gugur. Ketiga lakon tersebut amat sensitif bagi masyarakat wilayah Pati dan sekitarnya meskipun bagi wilayah tertentu sensitivitasnya bisa saja menjadi longgar. Hal ini biasanya ditentukan oleh letak geografis atau keberpihakan wilayah tersebut dengan kehidupan mitos dan lakon kethoprak tersebut.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini