Ketahanan Pangan Ala Tumpeng Osing Banyuwangi

ketahanan-pangan-ala-tumpeng-osing-banyuwangi
Tumpeng Serakat disajikan masyarakat adat Osing merupakan bagian dari ritus kesuburan. Merayakan manusia dengan tanah. (Foto : SM. Anasrullah)

Terakota.id–Bunyi gamelan mengalun merdu dari Rumah Budaya Osing (RBO), Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Suara gamelan dan angklung pagelak khas suku Osing membahana seantero kampung. Musik tradisional ini turut mengiringi dan menyambut tetamu yang hadir.

Rumah Budaya Osing berfungsi sebagai ruang pertemuan masyarakat adat Osing. Termasuk menerima tamu. Para pemuda adat Osing cekatan, menata aneka makanan tradisional Using atau Osing di dalam piring. Sajian khas ini ditutup daun pisang. Aneka sayuran dengan beragam lauk pauk lengkap tersaji.

Kuliner khas yang biasa disajikan dalam kenduri sebagai ucap syukur kepada Tuhan. Tak ketinggalan disediakan kendi berisi air minum. Para tetamu memegang daun pisang untuk wadah pengganti piring. Bergantian mereka mengambil nasi lengkap dengan sayur dan lauk pauk.

Lahap, mereka menyantap makanan tradisional masyarakat adat Osing hingga tandas. Lantunan gamelan dan angklung pagelak khas suku Osing, turut mengiringi makan siang kali ini. “Ada tumpeng yang khusus disajikan untuk ritual kesuburan,” kata dosen sastra Inggris Universitas PGRI Banyuwangi sekaligus pelestari tradisi Osing, Wiwin Indiarti.

Sekitar 90 persen penduduk Kemiren merupakan masyarakat adat Suku Osing. Mereka tetap mempertahankan tradisi leluhur. Salah satunya kuliner khas yang disajikan untuk para tamu. Bahkan, saban tahun digelar Festival Tumpeng Sewu atau Festival Seribu Tumpeng. Masyarakat setempat juga kerap menggelar kenduri sebagai ungkapan syukur.

ketahanan-pangan-ala-tumpeng-osing-banyuwangi
Bergotong royong, masyarakat adat Osing menyiangi sayuran untuk tumpeng Serakat. (Foto : SM. Anasrullah).

Dalam ritual adat Osing turut menyajikan tumpeng serakat. Selama 10 tahun terakhir, bahan baku tumpeng serakat tidak lengkap. Sehingga digantikan dengan jenis yang berbeda, Seperti terung yang seharusnya menggunakan terung putih digantikan dengan terung hijau. Terung, katanya, tidak boleh menggunakan yang berwarna ungu. Kacang koro mulo atau koro putih juga dganti dengan warna hijau.

Selain itu, labu siam putih juga nyaris sulit dicari alias langka. Sehingga digantikan terung hijau. Lantaran tak menemukan sayuran berwarna putih, sehingga diganti dengan warna yang menyerupai. Aneka tanaman sayur tersebut mulai langka, lantaran masyarakat mulai meninggalkan sayuran tersebut. Mereka mengganti dengan sayur dari luar daerah yang rasa lebih enak dan renyah.

Wiwin mengatakan tugas pemerintah untuk membudidayakan bahan makanan lokal untuk ritual. Labu putih, banyak ditemukan di masyarakat Sunda. “Masyarakat Sunda memiliki alasan membudidayakannya, kenapa di Banyuwangi punah?,” Tanya Wiwin.

Tumpeng untuk Ritus Kesuburan

Selain itu juga ada bahan makanan yang tidak umum dipakai bahan baku makanan yang dihidangkan untuk ritual. Yakni sayur banci yang menggunakan bahan dasar sayur banci adalah daun belimbing yang berbunga tapi gagal berbuah. Sehingga disebut banci. Masakan untuk ritual diwariskan secara turun temurun secara lisan. Tak ada teks atau buku yang menuliskan resep tersebut sehingga banyak yang tak mengetahui tata cara memasaknya.

Selain itu tumpeng juga tersaji pecel ‎pitek atau pecel ayam. Olahan ayam kampung panggang dengan bumbui parutan kelapa dan sambal. Serta sego golong yakni nasi dibungkus daun pisang. Lauk pauk, telur rebus dicampur bumbu pecel seperti pecel pitek. Sego golong tujuannya agar pemilik hajat pikirannya bisa plong atau lega.

Ritual ini penting, katanya, sebagai bagian menjaga ketahanan pangan lokal. Penganan yang tumbuh da nada di lingkungan setempat. Bahan pangan yang tahan cuaca karena perubahan iklim, dan tahan predator lokal yang memiliki keunggulan tersendiri.

ketahanan-pangan-ala-tumpeng-osing-banyuwangi
Para tamu menyantap sajian kuliner khas di Rumah Budaya Osing. (Terakota/Eko Widianto).

Tumpeng, merupakan bagian dari ritus keseuburan. Merayakan manusia dengan tanah. Tumpeng untuk ritual, katanya, disajikan khusus. Selain itu, sebelum dimakan bersama-sama dilakukan ritual yang dipimpin tokoh adat setempat. Menurut Wiwin ritual dengan tumpeng merupakan usaha leluhur membangun interaksi manusia dengan leluhur dan sesama manusia.

“Makan bareng, duduk bersama-sama. Tinggi sama rendah,” ujarnya. Selain itu, juga cara menjaga alam. Ritual masyarakat adat, ujarnya, juga lekat dengan tanah leluhur. Sebagai bagian dari kultur masyarakat agraris. Ia menanyakan bagaimana ritual kesuburan akan dilakukan jika tak ada lahan. Terjadi alih fungsi lahan menjadi permukiman, industri dan tambang. Alih fungsi lahan, katanya, tak dibenarkan dan harus dikendalikan.

“Tak tersisa, alam penting untuk menjaga keseimbangan,” ujarnya. Namun, kini sebagian bahan makanan telah punah apalagi pasar telah tersedia untuk memenuhi kebutuhan pangan. Sehingga masyarakat Osing tak lagi menanam di halaman rumah. Pola menanam tanaman untuk kebutuhan pangan di halaman rumah merupakan bagian dari menjaga ketahanan pangan.

“Kita sudah berbeda dengan lehuhur,” katanya.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini