Keris sebagai Mahakarya Manusia

Keris yang hingga kini banyak dikoleksi dan dipajang di kantor-kantor pemerintah daerah. (Foto: Hari Istiawan/Terasiana))

Penulis: Haris el Mahdi

Paris,  25 November 2016 menjadi warta sukacita bagi komunitas kebudayaan bangsa Indonesia. Di tanggal itu,  UNESCO,  lembaga PBB yang menaungi masalah pendidikan dan kebudayaan menganugerahi Keris  sebagai “Masterpiece of Oral and Intangible  heritage of humanity”, yang dapat diterjemah menjadi “Mahakarya tutur dan non-bendawi untuk warisan kemanusiaan”.

Artinya,  Keris sebagai produk kreatif kebudayaan Indonesia meninggi derajatnya menjadi milik dunia. UNESCO menabalkan bahwa Keris adalah warisan kemanusiaan yang perlu dirawat dan dirahayukan,  tidak saja oleh warga bangsa Indonesia tetapi juga warga bangsa-bangsa seluruh dunia.

“Keris” demikian ucap Kouchiro Matsuura,  Dirjen UNESCO,  “seperti juga teater Kabuki dari Jepang,  pentas tradisional Ramilia dari India,  Samba dari Brasil,  Mak Yong dari Melayu. masih hidup dan dihayati,  tradisi masih berlanjut. Berbeda dengan budaya Samurai yang kini telah mati”.

Matsuura,  dalam komentarnya itu,  membandingkan Keris dengan Samurai. Dalam konstruksi kebudayaan,  Samurai telah mati. Aura Samurai sebagai produk budaya tutur dan non-bendawi sudah luruh,  kehilangan maknawi kebudayaan. Samurai tinggal berupa Katana, pedang khas Jepang,  tetapi tidak mempunyai nilai kebudayaan apapun, tidak dihayati dan tidak menjadi panduan hidup. Katana menjadi tidak beda dengan pedang-pedang lain, tidak utuh sebagai bagian dari budaya Samurai.

Hal ini,  bagi Matsuura,  berbeda dengan posisi Keris.  Keris tidak melulu tentang senjata, yang bahkan meskipun berbentuk senjata,  Keris dibuat pada dasarnya bukan untuk membunuh.

Sependek pemahaman saya,  kehadiran Keris justru untuk menghidupi dan menyembuhkan kehidupan. Keris mempunyai makna filosofi yang tidak hanya dalam tetapi juga menjadi bagian atribut kebudayaan.

Di Bali,  misalnya,  ada yang disebut Hari Tumpek Landep yang dirayakan tiap 210 hari sekali,  khusus melakukan persembahan suci terhadap Keris dan benda-bebda pusaka yang lain.

Di luar itu,  Keris juga mempunyai nilai estetika sebagai pelengkap kostum,  adat,  budaya,  dan seni. Keris juga kerap menjadi alat peneguh persahabatan sebagai cindera mata.

Lebih jauh,  Keris,  meminjam istilah dari Bourdieu,  adalah artefak kebudayaan yang mempunyai nilai pedagogik,  nilai pengajaran tentang hidup yang adi-luhung dan berbudi-pekerti luhur. Bentuk Keris yang berkelok-kelok,  misalnya,  dalam salah satu tafsirnya merupakan tamsil untuk kehidupan yang tidak pernah datar dan lurus.  Adakalanya hidup harus di atas,  adakalanya hidup harus di bawah. Naik dan turun,  berkelok-lekuk seperti Keris.  Manusia menjadi mulia ketika saat di atas dia rendah hati dan saat di bawah dia tidak putus asa.

Pada akhirnya,  Keris adalah senjata untuk menapaki jalan hidup yang tidak pernah datar. Mencintai Keris berarti mencintai kehidupan.(*)

*Penulis adalah Dosen Sosiologi Universitas Brawijaya Malang

Publik bisa mengirim tulisan berupa artikel, reportase dan resensi buku ke email redaksi@terakota.id.seluruh isi tulisan menjadi tanggung jawab penulis.

 

Tinggalkan Pesan