Kepahlawanan yang Beranak-pinak: Dr. Pradana Boy ZTF dan Lingkar Pahlawan di Sekitarnya

Oleh: A.S. Rosyid* 

Yang Menyehari

Puthut EA pernah mengatakan bahwa kesatria bukanlah jenis kelamin, melainkan sebuah sikap mental, yang antara lain: “kuat dalam menerima kesakitan, sabar dalam penderitaan, dan tekun dalam belajar.” Saya setuju bila substansi yang sama diterapkan pada konsep kepahlawanan.

Kepahlawanan bukanlah jenis kelamin: ia tidak dikuasai oleh satu gender saja. Dalam sejarah Indonesia, lelaki dan perempuan sama-sama mahlawan. Cut Nyak Dhien mengangkat rencong, tak cuma meneriakkan komando, namun turut menusuk jantung pasukan Belanda.

Kepahlawanan juga merupakan sikap mental, yaitu “Kesabaran dan keteguhan dalam mengemas kebaikan dan membumikannya.” Hakikatnya ia bukan gelar. Gelar adalah soal hadiah, etisnya gelar tidak dicari. Pahlawan hidup dalam kerja yang sabar (karena tak jarang ia menghadapi perlawanan sengit) dan teguh (karena bosan dan letih terus mengintip).
Baru beberapa waktu lalu penulis menerbitkan artikel berjudul “Patung Bernama Pahlawan”, tentang konsep kepahlawanan yang menyehari (living heroism), dengan berkaca pada khazanah kebangsawanan Suku Sasak. Saya yakin, kepahlawanan tak melulu harus heroik, dan tidak harus dibesar-besarkan.

Kepahlawanan yang baik bersifat menyehari. Dengan demikian, kebaikan akan membumi, dan pahlawan terus lahir setiap saat. Yang terpenting bukanlah membesar-besarkan suatu kepahlawanan, melainkan mengajak manusia memandang kepahlawanan di banyak gerak hidup yang luas dan dipenuhi hal-hal sederhana ini.

Di Kota Malang, penulis belajar tentang cara-cara baru dalam memandang kepahlawanan. Salah satu yang banyak memengaruhi penulis adalah geliat kepahlawanan dalam lingkar pergaulan asuhan Dr. Pradana Boy ZTF.

Yang Nir-Pamrih

Tidak banyak penulis temukan akademisi yang membuka rumahnya lebar-lebar sebagai ruang belajar anak muda. Kerap kita melihat akademisi yang (sudah) berhenti belajar, atau, yang terus belajar untuk menyilaukan track record-nya sendiri. Pada Dr. Pradana Boy (selanjutnya Mas Boy saja), saya melihat anomali.

Di tengah kesibukannya sebagai akademisi-intelektual, Mas Boy (dan istri) telaten menggelar berbagai kajian dan mengajak anak muda terlibat di dalamnya. Pelatihan menulis, kajian filsafat, teori sosial, pemikiran Islam, dan masih banyak lagi, disediakan untuk ‘menyelamatkan’ mahasiswa dari kehidupan mahasiswa yang tak produktif. Semua gratis.

Sempat gerakan itu rehat sejenak ketika ditinggal Mas Boy melanjutkan studi magister di ANU (Australian National University) pada 2007, dan studi doktoral di NUS (National University of Singapore) pada 2010—menggeluti bidang Sosiologi Hukum Islam. Namun, gerakan itu tak sepenuhnya rehat. Murid-murid awal Mas Boy meneguhkan gerakan sendiri-sendiri.

Penulis mengenal Mas Hasnan, yang menggeluti fokus di dunia akademisi. Ia seorang pembaca yang lahap, pemikir yang tekun, penulis yang tajam. Selalu menyuarakan pentingnya keberpihakan pada kaum mustadh’afin, dan menyerang penindasan struktural di tengah masyarakat. Selalu, dawuhnya, tentang kepekaan pada problem sosial.

Mas Hasnan, di tengah kesulitan hidupnya sendiri, tetap telaten membina angkatan muda di bawahnya (saya dan teman-teman lain). Diajaknya mereka membaca, belajar menulis, dan berdiskusi. Dicarikannya mereka mentor bahasa Inggris yang rela tidak dibayar. Ketelatenan itu didapatkan dari, tak lain tak bukan, Mas Boy sendiri.

Penulis juga mengenal Mas Fiqih, yang lebih banyak terjun di gerakan-gerakan rakyat. Masa-masa Mas Boy ‘menajamkan keris’ ke luar negeri, Mas Fiqih menimba pengalaman sebagai pegiat anti-korupsi di Malang Corruption Watch. Mas Fiqih turut pula konsisten mendampingi warga Dusun Cangar Bumiaji, Kota Batu, mengadvokasi mata air Gemulo yang hendak dicaplok korporasi.

Menjelang kepulangan Mas Boy ke Indonesia, Mas Fiqih fokus menyiapkan komunitas yang sempat rehat. Penulis yang sepanjang 2011 – 2014 lebih banyak dididik oleh Mas Hasnan, diajak menghidupkan tradisi tua komunitas: membaca, menalar, menulis, dan bergerak. Semua itu dilakukan dengan meneladani ketelatenan Mas Boy.

Selain keduanya, penulis mengenal pula beberapa nama berpengaruh di Kota Malang, seperti Mas Himawan Sutanto, Mas Subhan Setowara, Ali Muthohirin, Mbak Diska Arlina Hafni, dan Mas Denny Mizhar. Mereka, dengan bidangnya masing-masing, menyerukan nilai yang sama: keberpihakan kaum muda pada rakyat kecil.

Masing-masing berkiprah dengan caranya sendiri, membina anak muda dan mewariskan nilai tersebut, tanpa pamrih. Gairah mengabdi tanpa pamrih itu, semata didorong oleh tanggung-jawab moral karena mereka semua pernah diberdayakan Mas Boy, secara cuma-cuma.

Yang Beranak Pinak

Itulah kepahlawanan yang menyehari, yang penulis temukan di lingkaran anak-anak muda Mas Boy. Betapa kepahlawanan, dalam berbagai bentuknya, akan beranak-pinak, terwariskan pada generasi sesudahnya. Tampaknya, dengan cara begitu pulalah Muhammadiyah lahir, bertahan, dan berkembang.

Muhammadiyah dijaga oleh para murid yang mampu melihat, memaknai, dan meneruskan kepahlawanan KH. Ahmad Dahlan, saat seluruh ulama Jogja berusaha menggulungnya dalam fitnah. Murid-murid KH. Ahmad Dahlan melihat gurunya tidak surut, terus berjuang tanpa pamrih. Memahlawan dengan caranya.

Mas Boy sendiri adalah murid dari alm. Moeslim Abdurrahman, intelektual Muhammadiyah yang pada 2003 mendirikan JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah). Alm. Kang Moeslim selalu berdawuh agar anak muda Muhammadiyah jangan suka bicara tinggi yang minus kepekaan sosial.

Iman dan ilmu harus mengakar dari dan berujung pada persoalan-persoalan rakyat. Pemiskinan, penindasan, dan pembodohan tidak boleh sekedar diwacanakan. Tiga pilar kemudian dikenalkan: ‘Hermeneutika’ untuk membaca ayat suci secara kontekstual, ‘teori sosial kritis’ untuk membaca problem sosial, dan ‘gerakan sosial’ sebagai panglima perubahan.

Kang Moeslim melahirkan sejumlah intelektual yang kini merayakan JIMM dengan karya intelektual dan gerakan sosial: Zakiyuddin Baidhawy, Hilman Latif, Fu’ad Fanani, Budi Asy’ari Afwan, Najib Burhani, Zuly Qodir, dan Mas Boy sendiri. Dari Mas Boy, lahir anak-anak muda yang tadi telah disebutkan. Inilah kepahlawanan yang beranak-pinak.

Saya sendiri seolah tertatih-tatih, berupaya telaten merawat gerakan literasi lewat Komunitas Djendela di Kota Mataram. Komunitas ini didirikan bersama beberapa kawan sejak tahun 2015. Apakah yang kami kerjakan termasuk bagian dari kepahlawanan, tidak tahu. Pahlawan macam apa yang berharap tindakannya dianggap kepahlawanan?
Kita hanya dituntut berjuang ikhlas, dan berharap perjuangan itu beranak-pinak.

A.S. Rosyid (Sumber: Dok. Pribadi)

*Pegiat di JIMM Jawa Timur, Pegiat di Komunitas Bayt al-Hikmah Malang, Pustakawan di Komunitas Djendela Mataram.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini