Kembalinya Kedaulatan Republik Indonesia

Tentara Republik di Yogyakarta, Desember 1947. (Foto :Spaarnestad Photo/Hugo Wilmar).

Terakota.id–Sri Sultan Hamengku Buwono IX mendukung pemerintahan Republik Indonesia. Dukungan disampaikan bersama Pakualam VIII melalui surat yang menyatakan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, 5 September 1945. Jakarta sebagai Ibu Kota Republik Indonesia dalam kondisi tak aman, Presiden Sukarno memutuskan memindahkan Ibu Kota Negara pindah dari Jakarta ke Yogyakarta.

“Pemindahan Ibu Kota hanya sementara, tetapi sampai kapan, berapa lama? Tiada seorangpun yang bisa memutuskan,” kata Sukarno dalam amanat pemindahan Ibu Kota seperti yang ditulis Ahmad Adaby Darban dalam buku Biografi Pahlawan Nasional : Sri Sultan Hamengku Buwana IX, 1998.

Pada masa revolusi Belanda berusaha merebut dan menduduki Ibu Kota Yogyakarta. Belanda melakukan operasi militer 21 Juli 1947 yang dikenal dengan Agresi Militer Belanda I. Gagal merebut dan menghancurkan Yogyakarta, kembali dilancarkan aksi operasi Agresi Militer Belanda II 19 Desember 1948. Belanda melakukan serangan besar-besaran hingga berhasil merebut Yogyakarta. Serta Presiden Sukarno diasingkan ke Parapat, Sumatera Utara.

Melawan Belanda, Tentara Republik Indonesia melakukan serangan yang dikenal dengan Serangan Oemoem 1 Maret 1949. Pusat kota berhasil diduduki selama enam jam, lima ton amunisi  dan senjata ringan milik Belanda dirampas. Eksistensi tentara Indonesia tersiar sampai ke markas besar PBB di New York dan membetuk Komite Tiga Negara. Sehingga dilakukan perundingan, delegasi Indonesia dipimpin Mohamad Roem dan Belanda Van Royen 14 April 1949.

Perundingan membuahkan perjanjian yang dikenal dengan perjanjian Roem Royen 7 Mei 1949. Tashadi dalam buku Sejarah Revolusi Kemerdekaan 1945-1949 mencatat dalam perjanjian itu, pasukan Belanda dipaksa untuk ditarik mundur dari Ibu Kota Yogyakarta 29 Juni 1949. Serta memulangkan Presiden Sukarno.

Monumen Yogya Kembali

Monumen Jogja Kembali, yang akrab disebut Mojolali atau Monjali berbentuk kerucut setinggi 31,8 meter. (Foto : Semberani.com).

Peristiwa penarikan pasukan Belanda dari Yogyakarta menjadi tonggak sejarah kembalinya kedaulatan NKRI. Sehingga Walikotamadya Yogyakarta Kolonel Soegiarto menggagas mendirikan monumen yang dibangun 29 Juni 1985. Monumen Jogja Kembali, yang akrab disebut Mojolali atau Monjali berbentuk kerucut setinggi 31,8 meter. Terdiri dari tiga lantai dan berisikan kurang lebih 1.780 koleksi benda peninggalan bersejarah.

Utami dalam buku berjudul petunjuk koleksi monumen Yogya kembali 2000 menulis Monjali dikerjakan selama empat tahun. Monumen dibangun di atas lahan seluas lima hektare.  Berbentuk kerucut, seperti gunung yang melambangkan kesuburan. Monjali terdiri dari tiga lantai, lantai satu berisi empat ruang museum, lantai dua berisi 10 diorama dan 40 buah relief adegan perjuangan, dan lantai tiga ruang Graba Graha

Lokasi Monjali terletak pada poros imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi, Tugu, Keraton, Panggung Krapyak, dan Pantai Selatan Parang Tritis. Sumbu imajiner sering disebut dengan Poros Makrokosmos atau Sumbu Besar Kehidupan. Di lantai tiga Monjali dapat ditemui titik imajiner di tempat berdirinya tiang.

Monjali dikelilingi kolam air dan taman lampion sejak tujuh tahun lalu. Monjali selain bagian dari sejarah juga menjadi tempat hiburan, atraksi tarian klasik, gamelan, musik dan lagu perjuangan setiap hari Sabtu dan Minggu.Di depan taman dipasang meriam PSU kaliber 60 milimeter buatan Rusia. Sedangakan halaman depan sebuah replika pesawat Guntai dan Pesawat Cureng yang digunakan dalam serangan oemoem.

Sebanyak 422 pejuang yang gugur dalam operasi militer 19 Desember 1948 sampai 29 Juni 1949 yang dipasang di dinding sisi selatan museum. Di lantai satu, empat ruangan menyajikan dokumen, replika, foto, dan senjata yang dipakai dalam peperangan. Pengunjung dapat melihat tandu untuk menggotong Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam perang gerilya.

Di lantai dua pengunjung bisa melihat 40 buah relief perjuangan fisik dan diplomasi perjuangan Bangsa Indonesia sejak 17 Agustus 1945 sampai 28 Desember 1949. Sebanyak 10 diorama disajikan dalam kronologi waktu. Sehingga memudahkan pengunjung memahami urutan kejadian.

Jumlah pengunjung Monjali melonjak saat libur sekolah dan hari libur nasional. Pada 2015 jumlah 306.816 orang, pada 2016 naik menjadi 314.155 pengunjung.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini