Ke Mana Sang Penyair Kerakyatan?

Sastra Bagian dari Perjuangan

Meletakkan karya sastra, puisi, dan seni musik hanya sebatas hiburan semata berarti sama dengan mengamputasinya. Pramoedya Ananta Toer dalam buku Realisme-Sosialis dan Sastra Indonesia (2003:17) menjelaskan seni-sastra merupakan bagian integral dalam perjuangan umat manusia.

“Ia merupakan bagian integral daripada kesatuan mesin perjuangan umat manusia dalam menghancurkan penindasan dan penghisapan atas rakyat pekerja, yakni buruh dan tani, dalam menghalau imperialisme-kolinialisme, dan meningkatkan kondisi dan situasi rakyat pekerja di seluruh dunia.”

Pada 50-an, melalui mukaddimah organisasi Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) menegaskan konsepsi kebudayaan rakyat. Yaitu, “kesenian ilmu, dan industri baru dapat menjadikan hidup rakyat indah, gembira, dan bahagia, apabila semuanya itu sudah menjadi kepunyaan rakyat.”

Rendra di koran Kompas edisi 30 Juni 1981 menegaskan sastra dan kesenian harus memberi arti kepada masyarakat. Bukan hanya sekedar hadir sebagai karya. Penyair, seniman atau cendekiawan mempunyai fungsi ‘membimbing’ atau memimpin perubahan masyarakat. “Banyak juga dari mereka yang sekedar mengibur dan mengiyakan nilai-nilai rajanya,” katanya.

Iman berkesenian Rendra dapat dengan mudah kita temukan dalam karya-karyanya. Orientasi kerakyatan kental di dalamnya. Namun, masih banyak kritik yang dialamatkan kepadanya. SutanTakdir Alisjahbana (STA) dalam makalah berjudul “Sastera yang BertanggungJawab pada Permulaan Bangkitnya Kebudayaan Umat Manusia yang Baru”, menunjukkan kritik pedas dari seorang kritikus sastra Profesor. A. Teeuw terhadap karya-karya Rendra.

“Anda sekarang ada dalam keadaan bahaya antara jatuh kedalam puisi atau propaganda,” kritik Teeuw kepada Rendra melalui tulisan STA yang disajikan di Taman Ismail Marzuki pada tanggal 31 Maret 1982. Seni-sastera yang tak acuh rakyat merupakan krisis yang gawat, begitu penjelas STA dalam tulisannya. Menurutnya, seni-sastera harus, “mengikatkan diri kembali kepada masyarakat dan kebudayaan.”

 

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini