Kemana Sang Penyair Kerakyatan?

Terakota.id-Wiji Thukul selalu rendah hati, dia menolak julukan penyair kerakyatan yang disematkan kepada dirinya. Dalam sebuah wawancara di Jurnal Revitalisasi Sastra Pedalaman edisi November 1994 Wiji Thukul menanggapi penyair kerakyatan yang melekat dengannya.

“Dalam menulis puisi saya cenderung tak peduli apapun. Yang menyebut saya penyair kerakyatan orang lain. Bukan saya. Kalau saya yang bilang begitu namanya takabur. Dan memang perlu diluruskan, bahwa saya tidak membela rakyat,” jawabnya.

Dia mengaku tak pantas disebut memperjuangkan rakyat kecil melalui puisi-puisinya. Sesungguhnya, kata Wiji Thukul, hanya membicarakan diri sendiri. “Lihat, saya tukang pelitur, istri buruh jahit, bapak tukang becak, mertua pedagang barang rongsokan, dan lingkungan saya semuanya melarat,” ujarnya,

Dengan latar belakang pekerjaan bapaknya sebagai tukang becak, Wiji Thukul menulis puisi “Jangan Lupa Kekasihku.” “Jangan lupa kekasihku. Jika kau ditanya siapa mertuamu. Jawablah: yang menarik becak itu. Itu bapakmu, kekasihku.”

Kisah dan rekam jejak Wiji Thukul sebagai penyair tak bisa dilepaskan dengan kehidupan yang tengah dilakoni. Lahir dari lingkungan yang akrab dengan kemelaratan. Bergaul dengan buruh, dan mereka yang disepelekan pemimpinnya. Puisinya memiliki ruh, sangat menjiwai. Bukan seorang penyair yang menyaksikan, tapi juga ikut merasakan penderitaan dan kemelaratan.

Kata-kata mempunyai kekuatan sendiri. Dengan puisi ia mengorganisir buruh dan gerakan-gerakan politik. Puisinya “Sehari Saja Kawan” menjadi saksi, “Kalau kita yang berjuta-juta Bersatu hati mogok. Maka kapas tetap terwujud kapas. Karena mesin pintal akan mati. Serupa pelangi pabrik akan lumpuh mati. Kapitalis pasti kelabakan!!.”

Ketika kebanyakan seniman pada masa itu enggan memadukan seni dengan politik, Wiji Thukul justru sebaliknya. Ia aktif mengorganisir buruh dan rakyat dengan puisinya. Puisi bagi Wiji Thukul bukanlah kumpulan imajinasi semata. Pada 1992 ia ikut demonstrasi memproses pencemaran lingkungan pabrik tekstil PT. Sariwarna Asli Solo. Ia juga aktif di Partai Rakyat Demokratik (PRD). Pada 1995, Wiji memimpin pemogokan buruh-buruh PT. Sritex Sukoharjo. Dalam aksi ini, Wiji Thukul nyaris buta akibat kekerasan aparat.

Baca juga :  Mengenang "Si Binatang Jalang" Chairil Anwar

Kisah pelarian dari kejaran militer selama delapan bulan di Pontianak disajikan dalam sebuah film Istirahatlah Kata-kata. Sebelumnya  telah diputar di beberapa festival film. Antara lain Locarno International Film Festival di Swiss 3-13 Agustus 2016, Pacific Meridian International Film Festival di Vladivostok, Rusia 10-16 September 2016, Hamburg International Film Festival, Jerman 29 September-8 Oktober 2016, Busan International Film Festival di Korea Selatan 6-15 Oktober 2016, dan Quezon City International Film Festival, Filipina 13-22 Oktober 2016.

Judul film diambil dari salah satu puisi Wiji Thukul yang ditulis pada 12 Agustus 1988,  “Istirahatlah Kata-kata.”Salah satu bait puisi itu berbunyi, “…Kita bangkit nanti. Menghimpun tuntutan-tuntutan. Yang miskin papa dan dihancurkan.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini