Bukan Kemah Literasi Biasa

Karenanya, Camp Literasi #2 didesain sebagai ruang bertemu dan memperkuat solidaritas.

Kemah Literasi #2 yang menolak perampasan lahan dan penggusuran. (Sumber: Dok. Kevin Alfirdaus).

Oleh: Kevin Alfirdaus*

Terakota.id Jalan terjal harus dilalui untuk mencapai lokasi Camp Literasi 2#, Sabtu 13 Juli 2019. Ia berlokasi di Lembah Giri Jombang. Apalagi saya menempuhnya di malam hari. Acara ini diinisiasi oleh pegiat literasi, Perpustakaan Jalanan Jombang. Menariknya, acara ini tidak seperti camping kebanyakan yang rekreatif belaka. Dalam camping ini, penyelenggara mengundang anak-anak muda. Mayoritas mereka melek akan kasus penggusuran ruang hidup serta kemanusiaan.

Kegiatan tersebut adalah ruang berbagi akan permasalahan yang belakangan terjadi. Utamanya adalah konflik agraria dan ekologis. Absennya negara dalam penggusuran ruang hidup warga ini, membuat semakin besarnya solidaritas antar warga dari setiap daerah. Disusul oleh mahasiswa-mahasiswa yang sadar jika persoalan ini semakin mencekam. Mereka mengorganisir dan mengadvokasi warga terdampak. Meskipun, tak sedikit dari mereka, juga memiliki beban hidup, dalam hal ekonomi misalnya.

Karenanya, Camp Literasi #2 didesain sebagai ruang bertemu dan memperkuat solidaritas. Saling memperdengarkan cerita-cerita perjuangan kemanusiaan dan literasi dari setia kota. Selain itu juga jadi etalase untuk memajang produk-produk karya peserta yang hadir. Selain bernilai ekonomis, produk-produk ini juga bagian dari kampanye isu-isu yang menjadi persoalan rakyat.

Perpustakaan Jalanan Jombang mempersiapkan hasil produksinya yaitu sablon cukil dan zine camp literasi.  Lapakan Semoga Barokah Werk dari kota Semarang juga menjajakan zine, patch, serta kaos bertemakan perjuangan petani & tolak Penggusuran Tambakrejo. Lalu lapakan dari Perpustakaan Jalanan Blitar memproduksi sendiri kaos, sablon cukil, tembakau lokal, dan lainnya. Dan yang terakhir adalah lapakan dari Needle n Bitch, Yogyakarta, yang menyajikan totebag, dompet mini, path, serta buku-buku berkonten kesetaraan gender dan Feminis. Yang menarik, Needle n Bitch juga memproduksi pembalut buatan sendiri dengan bonus kertas panduan cara pemakaiannya. Ia dapat mengurangi sampah plastik, karena dapat dicuci ulang lalu digunakan kembali.

Inisiator acara, Broni, pemuda asal Jombang, mengatakan, “ruang ini tujuannya biar kita terkoneksi dan memperkuat jaringan antar daerah lain.”

Acara dimulai dengan nobar film Mondragon Miracle. Film ini merekam keberhasilan koperasi sebagai sistem tandingan di Mondragon, Spanyol. Keberhasilan koperasi tersebut merupakan bukti kemandirian ekonomi warga. Ia adalah wujud antusisasme warga akan beberapa hal, seperti, bagaimana mencapai kolektivisme, melakukan pembagian kerja, pembagian hasil, kesetaraan, keadilan, dsb. Sistem yang dibangun oleh warga ini adalah tandingan akan sistem ekonomi kapitalistik yang membuat manusia bersaing dalam beroleh gaji dan harus mengekspansi lahan yang besar.

Kemudian acara dilanjutkan dengan nobar dan diskusi film Tanah Istimewa yang berfokus pada pembangunan bandara N.Y.I.A. Nobar ini jadi ruang refleksi dan berbagi ide perjuangan. Tentu juga menjadi pemantik dalam obrolan seputar konflik agraria di daerah-daerah lainnya.

Setelah nobar, beberapa perwakilan dari setiap kota di Jawa Timur dan dari luar Jawa Timur berdiskusi dan menyampaikan persoalan agraria di daerah mereka. Dengan begitu, beberapa warga serta pegiat literasi kota yang rela jauh-jauh ke Jombang, dapat mendengar langsung permasalahan yang kurang lebih seragam di beberapa daerah. Sehingga, solidaritas antar pegiat lintas daerah menjadi niscaya.

Teman-teman perpus Mojokerto tampil sebagai penanggap pertama. Saat ini, mereka sedang memperjuangkan hak warga terkait perusahaan-perusahaan yang menyalahi aturan. Misalnya terkait pembuangan limbah yang berpotensi mencemari ruang hidup warga.

Saya sendiri beruntung sekali diberikan kesempatan untuk bertemu dengan warga Tuban yang akhir-akhir ini juga menghadapi konflik. Mashuri, sosok pria yang baru bebas dari lapas setelah di tahan 2 bulan lebih, datang jauh-jauh untuk mengutarakan cerita akan permasalahan dirinya. Pria asal Desa Sumurgeneng, Tuban itu dikriminalisasi oleh 2 orang temannya akibat melakukan pengerusakan patok pengukuran lahan sengketa antara lahan warga dengan PT Pertamina untuk pembangunan kilang minyak.

“Padahal, yang dilakukan Pertamina itu tanpa seizin keseluruhan warga. Soal, sengketa lahan, masyarakat telah menolak, sejak ada pengukuran” ujar Mashuri.

Munarsih, perempuan yang juga berasal dari Desa Sumurgeneng-Tuban, menganggap jika pembangunan yang nantinya jadi agenda investor besar ini akan merugikan warga.

“Kilang minyak sebesar itu, bayangkan berapa kapal yang akan lewat dalam kisaran seharinya. Jangkar yang dijatuhkan ke terumbu karang. Lalu limbahnya (seperti pergantian oli, dll) yang dibuang ke laut. Otomatis biota laut dan mata pencaharian warga (nelayan) akan habis,” tambah Munarsih.

Menanggapi persoalan warga Tuban tersebut, Aliansi Perpus Jalanan Blitar bertanya, “bisakah kita bergerak bersama pemerintah?”

“Tidak bisa, dan sulit,” ujar teman-teman dari Yogyakarta yang pernah berjuang dengan Petani Kulon Progo terkait Pembangunan Bandara N.Y.I.A.

Meski malam kian larut, beberapa yang hadir masih asik berdiskusi satu sama lain. Tentu, ada juga yang sudah tergeletak di depan api unggun karena lelah. Ada pula yang memamerkan produk buatannya sendiri untuk dikonsumsi bersama.

Keeseokan harinya, beberapa agenda secara antusias diikuti oleh para peserta. Lalu, acara terakhir dan penutup diisi oleh gigs atau konser dari band punk dari kota Jombang, Sidoarjo, Kediri, Gersik, malang dan Madura.

Penulis (Sumber: Dok. Pribadi).

*Anggota di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Siar – Universitas Negeri Malang.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini