Keluarga Cemara dan Arswendo Atmowiloto

Terakota.id–Jurnalis sekaligus seniman Arswendo Atmowiloto berharap hadir tontonan mendidik untuk anak-anak. Kementerian Komunikasi dan Informatika diharapkan mengeluarkan aturan agar televisi menyediakan ruang untuk tontonan anak-anak.

“Di Amerika jam 8 sampai 10 pagi khusus untuk tayangan anak-anak. Presiden saja tak bisa disiarkan di jam itu,” kata Atmo dalam diskusi di ASEAN Literary Festival di Kota Tua, Sabtu 6 Agustus 2017. Pemerintah, katanya, harus mulai memberikan perlindungan tayangan televisi untuk anak.

Dia mengusulkan Kominfo dan Komisi Penyiaran Indonesia mewajibkan seluruh stasiun membuat tontonan anak-anak mulai pukul 06.00-10.00 WIB. Tontonan bisa berupa lagu, kesenian tradisional, film yang menginspirasi.

Sehingga akan memicu rumah produksi membuat tontonan yang menarik dan bagus untuk anak-anak. Dia berharap muncul cerita dan gagasan bagus untuk tayangan televisi. Tayangan yang menginspirasi dan mempengaruhi orang lain.

Seperti lagu anak-anak, katanya, saat ini sudah mulai jarang diperdengarkan. Tak ada yang menciptakan lagu khusus untuk anak-anak. “Jika ada regulasi pasti akan muncul karya yang baik,” katanya.

Sebab, saat ini para sineas dan seniman harus bersaing dengan industri televisi yang padat modal. Sementara para seniman yang idealis tak memiliki modal cukup. Atmo menceritakan awal membuat keluarga Cemara berangkat dari gagasan dengan sejumlah pegiat seni.

“Tak punya badan hukum, tak banyak modal,” katanya. Namun, dia juga harus menghadapi kepentingan industri. Televisi dipengaruhi oleh rating dan sharing. Saat itu, televisi swasta yang menyiarkan meminta minimal sharing 15. Artinya dari 100 pesawat televisi, sekitar 15 di antaranya memutar Keluarga Cemara.

“Jika sharing di bawah 15, kontrak diputus,” katanya. Selama ini, katanya, tayangan dangdut sharingnya di atas 18. Sedangkan pernikahan Raffi Ahmad mencapai 28.

“Film Turki malah penontonnya banyak,” katanya. Setelah lama tak tayang di televisi, katanya, Keluarga Cemara akan hadir di layar lebar. Sekarang dalam proses produksi. Diperkirakan ditayangkan di bioskop mulai Desember 2017.

Baca juga :  Menyelematkan Sumber Gemulo

“Ada yang usul Abah tak lagi mengemudikan becak. Kenapa gak sopir grab saja? Cerita ini hebat karena karangan,” katanya berkelakar.

Penulis Okky Madasari mengakui Keluarga Cemara adalah salah satu
tontonan terbaik di televisi. Menghadirkan tontoban untuk keluarga. Sekarang, kata Okky, sulit menemukan tontonan seperti itu di televisi.

“Keluarga Cemara itu tontonan yang mendidik dan bagus,” kata Okky.
Majalah HAI dan Senjakala Media Cetak

Arswendo membidani lahirnya majalah remaja HAI. Dia juga membidani kelahiran tabloid Monitor. Gara-gara polling tokoh idola pilihan pembaca Monitor dia harus meringkuk di balik jeruji besi. Atmo dituding melakukan penistaan agama.

Setelah majalah HAI berhenti cetak, Atmo mengakui jika semua era berbeda. Gempuran media sosial dan media daring merontokkan media cetak seperti majalah remaja HAI yang harus menyerah. “Media cetak sudah saatnya, masanya sudah surut,” katanya.

Majalah HAI berhenti beredar, katanya, dan akan selalu ada hal baru di setiap masa. Media cetak ambruk, katanya, karena saat ini pendapatan dari iklan sulit dicapai. Atmo mengaku sedih majalah HAI ditutup.

“Tabloid Monitor dibredel pemerintah, HAI dibunuh penerbitnya sendiri,” ujarnya. Atmo juga menyatakan jika saat Ode Baru, semua berita bisa ditulis. Tetapi dilarang mengkritik Cendana, militer dan Soeharto.

“Bredel itu resiko pekerjaan. Ditutup bikin lagi. Sekarang media sosial juga bisa menyiarkan berita,” katanya. Dia juga menyindir wartawan amplop, wartawan yang memenuhi kebutuhan hidup dengan bergantung kepada narasumber.

Fenomena wartawan amplop ada di segala zaman. Ada wartawan amplop, katanya, karena gaji tak cukup. Sekarang dia justru melihat artikel atau berita berponsor (Advetorial) yang secara ugal-ugalan menghiasai media cetak.

“Pasti selalu ada nilai kejujuran di setiap penulisan. Tak ada kebohongan fakta bohong dalam jurnalisme,” katanya. Jika data dan fakta dikuburkan, kata Atmo, itu menyalahi hukum jurnalistik.

Baca juga :  Asian Games 1962 : Bung Karno Serukan “Dedication of Life”

Arswendo Atmowiloto awalnya tak tertarik memiliki akun media sosial. Dia tak bisa berinteraksi di media sosial seperti anak muda generasi milenial. Sehingga sampai beberapa tahun terakhir tak memiliki akun media sosial.

Atmo pertama kali memiliki akun Twitter setelah terlibat dalam program show di televisi swasta. Dia diminta untuk membuat akun Twitter target pengikut 15 ribu. “Tak sesederhana itu dapat follower banyak, sulit. Saya sulit menembus 15 ribu,” katanya.

Namun dia mengaku miris, dengan perkembangan media sosial sekarang.
Lini masa media sosial seperti belantara. Pemilik akun di media sosial bisa berkomentar kasar dan menulis umpatan-umpatan. “Itu semua di luar nalar saya. Coba berhati-hati tak ikut komentar,” ujarnya.

Lexi asal Yogyakarta mengaku hidupnya dipengaruhi majalah remaja pria HAI. Dia ingat jika mengetahui segitiga bermuda dan batu Jade dari majalah HAI.

“Majalah HAI luar biasa, saya tertarik gagasan dan hal maju lain dari majalah HAI,” katanya. Majalah HAI, katanya, menjadi barometer dan maju di zamannya. Sementara tabloid Monitor menjadi rujukan fotografi model.
Ibu sebagai Inspirasi

Sosok Arswendo mengagumi peran ibu dalam setiap masa waktu hidupnya.
Seorang ibu, yang menjanda selama 30 tahun. Sedangkan dia harus membesarkan keenam anaknya. Sementara almarhum bapaknya hanya Pegawai Negeri rendahan golongan II C.

“Ibu memberi inspirasi saya. Menulis saja menulis tak rapi. Tandatangan nyontek suaminya,” katanya. Kondisi ini membuat semangat anak-anaknya untuk meraih pendidikan. Ada nilai-nilai, katanya, yang diterapkan membesarkan anaknya.

“Restu orang tua itu penting untuk meraih setiap cita-cita. Target mengerjakan sesuatu yang terbaik. Saya percaya program hidup. Biar semesta yang berbicara ” katanya.
Buku Pengkhianatan PKI

Baca juga :  Mengenal Topeng Malangan Kedungmonggo

Lexi mengajukan pertanyaan soal keterlibatan Arswendo Atmowiloto dalam menulis buku Pengkhianatan G-30 S/PKI. Akibat keterlibatan menulis buku itu, mendiang Wijaya Kusuma dalam IPT 1965 menyebutkan Arswendo Atmowiloto seseorang sastrawan dan jurnalis yang turut memberikan stigma kepada orang-orang kiri.

“Arswendo memberi stigma dalam buku itu. Bagaimana cerita G-30 S/PKI menjadi hantu,” ujar Lexi. Orde baru, katanya, menghancurkan gagasan dan ide yang memberi efek penghancuran. Bahkan ASEAN Literary Festival

Direktur ASEAN Literary Festival Okky menjelaskan tahun lalu diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki. Salah satu acara saat itu membahas isu korban tragedi 1965 dan LGBT. “Kemudian ada aksi meminta acara dibatalkan. Izin dicabut,” katanya.

Berkat dukungan masyarakat, katanya, kegiatan tetap bisa dilaksanakan. Arswendo Atmowiloto menjelaskan jika dia terlibat penulisan buku atas permintaan PPFN. “Film sudah jadi, saya diminta menulis buku oleh Pak Dupo PPFN,” katanya.

Data resmi pemerintah, katanya, menjadi dasar dalam tulisan di buku tersebut. Namun ada penyesuaian karena sejumlah fakta tak bisa dibuktikan. “Istilahnya buku putih,” katanya.

Dalam sebuah adegan menyerbuan rumah Jenderal Ahmad Yani, katanya, Bu Yani tak di rumah. Aada dua versi, versi pertama sedang tidur dan ada yang menyebut sedang makan malam dengan Jenderal Ahmad Yani.

“Ada buku resmi yang diajarkan di sekolah,” katanya. Dia juga mengaku berkenalan dengan para tokoh PKI yang hidup. Secara pribadi, katanya, bisa ngobrol dengan hangat.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini