Kelas Aksara dan Bahasa Jawa Kuno: Upaya Membangun Kharakter Adiluhur Siswa Oleh: A’ang Pambudi Nugroho*

Penyelenggaraan belajar tatap muka dengan papan tulis hitam yang ditulis dengan kapur putih (Foto: Dewan Guru)
Iklan terakota

Lahirnya Kelas Jawa Kuno

Terakota.id–Kelas aksara dan bahasa Jawa Kuno di Jawa Timur bermula pada Februari 2012. Para mahasiswa dari beberapa universitas di Jawa Timur mempelopori pembentukan kelas. Awalnya mereka berkumpul di Museum Majapahit (sekarang: Unit PIM-Trowulan). Mengadakan pertemuan belajar aksara Jawa Kuno.

Seiring bergulirnya waktu, kelompok belajar berkembang jadi Komunitas Jawa Kuno (Kojaku) Museum Majapahit. Kegiatan berlangsung setiap minggu pertama dan ketiga tiap bulannya. Materi yang diajarkan meliputi pengenalan aksara dan bahasa Jawa Kuno, serta pengenalan dan pembacaan prasasti-prasasti koleksi Museum Majapahit.

Motivasi penyelenggaraan kelas aksara dan bahasa Jawa Kuno, yaitu adanya rasa keprihatinan dari para mahasiswa tersebut. Sebab kala itu diadakan kelas aksara dan bahasa Jawa Kuno yang pengajarnya dari orang-orang barat. Kita sebagai pemilik warisan budaya seharusnya merasa malu dan prihatin atas peristiwa tersebut. Adakalanya kita harus membuang ego untuk merasa paling hebat dan selalu menjatuhkan orang yang sama-sama ingin berjuang melestarikan warisan budaya aksara dan bahasa Jawa Kuno.

Pamflet Pengumuman Penyelenggaraan Kelas Jawa Kuno yang Disebarkan di Media Sosial (Foto: Dewan Guru)

Kenyataannya, banyak orang yang pandai, cerdas, serta mampu mendalami aksara dan bahasa Jawa Kuno. Namun sangat langka orang-orang yang mau dan bersukarela membagikan pengetahuan tentang aksara dan bahasa Jawa Kuno demi melestarikan warisan budaya tersebut. Hal itu sangat penting agar jangan ada lagi perasaan saling menyalahkan.

Proses pembelajaran di Museum Majapahit berlangsung dari tahun ke tahun. Permintaan dari beberapa komunitas pelestari sejarah dan budaya di daerah-daerah lain berdatangan. Mereka juga ingin dibuka dan diselenggarakan kelas aksara Jawa Kuno di daerah. Lokasi belajar di Trowulan, Mojokerto mereka anggap terlalu jauh. Saya dengan sukarela membuka kelas Jawa Kuno di beberapa daerah, yakni Kediri, Ponorogo, Tulungagung.

Sementara itu Kojakun Museum Majapahit yang didirikan sejak Februari 2012 mengalami pasang surut. Banyak anggota-anggota lama yang lantas menghilang. Selain itu juga konflik-konflik internal yang tidak menyetujui pengembangan agenda-agenda baru yang diselenggarakan para pengurus sukarela. Hal tersebut melahirkan nama baru “Kojakun Sutasoma” sejak pertengahan tahun 2015.

Pada saat yang sama muncul kelas aksara Jawa Kuno di Museum Mpu Tantular-Sidoarjo yang dipelopori oleh Komunitas Tapak Jejak Kerajaan (TJK). Sekitar akhir 2015, dibuka Komunitas Jawa Kuno Mahija Wêngkêr-Ponorogo. Tahun 2017 dibuka Komunitas Jawa Kuno Asta Gayatri-Tulungagung. Hingga tahun 2021 ini banyak bermunculan beberapa kelas aksara dan bahasa Jawa Kuno yang dipelopori oleh para sarjana dan komunitas pelestari budaya di Jawa Timur.

Kendala dan Permasalahan yang Dihadapi

Penyelenggaraan kelas aksara dan bahasa Jawa Kuno menemui beberapa kendala dan permasalahan. Pertama, kedatangan para peserta atau siswa dalam setiap pertemuan kelas. Biasanya para siswa sering tidak konsisten dalam mengikuti pertemuan kelas dengan berbagai alasan. Hal ini membuat siswa dalam setiap pertemuan berubah-ubah, yang akhirnya membuat pengajar (tentor) harus menyesuaikan kembali materi yang akan diberikan kepada para siswa baru.

Terkadang juga terdapat beberapa siswa yang masih aktif dari pertemuan sebelumnya, namun tidak dapat secara langsung menerima materi lanjutan karena keterbatasan jumlah pengajar (tentor). Kegagalan dalam menghasilkan sumber daya manusia (SDM) pengajar (tentor) baru, juga menjadi penghambat berlangsungnya kelas aksara dan bahasa Jawa Kuno di suatu daerah yang pernah melakukan kerjasama dengan Kojakun Sutasoma.

Kedua, para siswa sering datang tak tepat waktu, memanfaatkan situasi kelas yang tak memiliki aturan belajar yang baku dan ketat. Beberapa  mengobrol sendiri ketika proses belajar berlangsung. Beberapa lainnya justru melakukan PDKT (pendekatan) dengan siswa lainnya. Tak jarang siswa datang bersama pacarnya, datang dan pulang sesuai kemauan. Hal tersebut mengganggu kondisi kelas dan semangat belajar dari para siswa lainnya.

Ketiga, terjadinya masalah internal di dalam komunitas. Pengurus beda paham kala berdiskusi sebelum adanya kerjasama penyelenggaraan kelas aksara dan bahasa Jawa Kuno. Dampaknya proses pembelajaran aksara dan bahasa Jawa Kuno di luar daerah kadang mandheg.

Solusi dan Pengembangan Kelas

Berdasarkan  permasalahan dan kendala seperti dipaparkan di atas, maka sangat penting dalam menciptakan solusi. Manajemen kelas aksara dan bahasa Jawa Kuno yang kondusif mendorong keberlanjutan penyelenggaraan kelas. Melalui rapat tertutup, pengurus Kojakun Sutasoma dengan Patembayan Jawadhipa-Cabang Dahanapura bekerja sama menyusun konsep belajar.

Konsep kelas belajar aksara dan bahasa Jawa Kuno merunut sistem Sekolah Budaya. Konsep  ini mengadopsi bentuk Sekolah Taman Siswa yang dipelopori oleh Ki Hajar Dewantara. Sistem sekolah tidak hanya mengajarkan para siswa untuk pandai dan cerdas secara intelektual, namun juga berbudi pekerti luhur dan berkarakter Ke-Indonesia-an. Diterapkan aturan agar mencapai tujuan tersebut.

Hasil rapat kedua komunitas pelestari budaya tersebut melahirkan “Sekar Panulisan” Kelas Jawa Kuno-Kadhiri. Kelas ini dibuka mulai 13 November 2021 oleh Bapak AB Setiadji selaku Penasehat Dewan Guru. Pertama kali diselenggarakan pada 27 November 2021, diikuti empat siswa. Kondisi hujan deras, para siswa banyak yang berhadalangan hadir. Di sisi lain, kelas aksara dan bahasa Jawa Kuno memang sangat jarang diminati oleh para generasi muda masa kini. Sekalipun kelas diadakan secara gratis, tidak dipungut biaya.

Dewan guru sejak awal memutuskan kuantitas murid tidak menjadi penghalang berlangsungnya pembelajaran. Kualitas pembelajaran menjadi fokus Dewan guru Sekar Panulisan. Sekalipun yang hadir hanya satu siswa. Andai tak ada siswa yang hadir, para dewan guru akan berdiskusi menyusun materi-materi yang akan disampaikan pada kelas berikutnya.

Kelas Jawa Kuno “Sekar Panulisan” bukan sekedar kelas uforia yang santai sambil mendengarkan penjelasan pengajar. Siswa turut dibentuk secara karakter sesuai nilai-nilai budaya yang berlaku dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Amelia Candra Kusuma dari Kediri menceritakan selama mengikuti kelas mendapat pengalaman dan informasi baru seputar sejarah-sejarah dan peradaban kebudayaan khususnya pada era Jawa Kuno. Ia tidak menyangka, belajar aksara Jawa Kuno tidak sesulit yang dibayangkan.

Guru dan Siswa mengadakan belajar secara interaktif dengan cara berdiskusi langsung (Foto: Dewan Guru)

Sebelumnya Amelia Canda Kusuma sempat belajar membaca tapi masih belum paham dan bingung dengan contoh tabel aksaranya. “Sangat senang karena bisa bertemu banyak teman baru dari kalangan yang berbeda. Tertarik belajar aksara Jawa Kuno karena suka, kebetulan suka jalan-jalan ke situs sejarah dan sering menjumpai aksara Jawa Kuno,” papar Amelia Candra Kusuma.

Siswa kelas Jawa Kuno “Sekar Panulisan” memakai busana adat Jawa, mulai dari kepala hingga kaki. Inilah aturan pertama yang harus dipatuhi oleh para siswa yang benar-benar berminat untuk mengikuti kelas. Materi pelajaran dibagi sebanyak sepuluh tahap. Siswa selanjutnya akan mengikuti ujian kenaikan kelas.

Begitulah cara dewan guru dari Kelas Jawa Kuno “Sekar Panulisan” melakukan seleksi kepada para siswa. Kedepannya, siswa yang berhasil melewati ujian akan direkomendasikan mengajar siswa baru. Poin pentingnya yakni kompetensi pengetahuan aksara dan bahasa Jawa Kuno.

Manajemen pembelajaran seperti ini diharapkan mampu menjadi solusi tentang kekurangan jumlah sumber daya manusia (SDM) pengajar (tentor) kelas Jawa Kuno di beberapa daerah. Selain itu menciptakan aturan dan lingkungan belajar yang saling mendukung. Diharapkan dengan mengajar, siswa semakin berkembang dalam pikiran maupun sikap.

Rekomendasi untuk Pelestari Aksara dan Bahasa Jawa Kuno

Kepada seluruh pihak penyelenggara kelas aksara dan bahasa Jawa Kuno, saya menyarankan agar lebih memperhatikan aturan kelas dan materi pembelajaran. Siswa bukan hanya dididik untuk pandai dan cerdas secara akademis. Penting juga berkarakter sesuai nilai-nilai budaya bangsa Indonesia. Menyelenggarakan kelas budaya tidak hanya melestarikan warisan budaya aksara dan bahasa saja, melainkan ikut andil di dalamnya melestarikan adat busana Jawa.

Konsep Sekolah Taman Siswa juga merupakan warisan budaya bangsa Indonesia. Dibutuhkan koordinasi dan komunikasi antar komunitas maupun paguyuban pelestari warisan budaya dalam rangka mencari solusi-solusi dari berbagai permasalahan yang muncul. Sebab kita mempelajari prasasti dan naskah kuno untuk mencari inspirasi dalam upaya membangun kehidupan masa kini dan mendatang.

Daftar Dewan Guru Kelas Jawa Kuno “Sekar Panulisan”

 

  1. AB. Setiadji, selaku Penasihat Dewan Guru.
  2. A’ang Pambudi Nugroho, selaku Guru.
  3. Kukuh Prasetyawan, selaku Asisten Guru.
  4. Hadi Siswanto, selaku Asisten Guru.
  5. Tri Dwi Widiawan, selaku Asisten Guru.

 

Daftar Siswa Angkatan I 2021

 

No Nama Alamat Latar Belakang/ Pekerjaan
1 Ari Zamari Desa Wanengpaten, Kec. Gampengrejo Pekerja Swasta
2 Amelia Candra Kusuma Desa Toyoresmi, Kec. Ngasem Alumni Sastra Jawa UNS
3 Atma Kelurahan Ngadisimo-Kota Kediri Pekerja Swasta
4 Kukuh Prasetyawan Desa Maron, Kec. Banyakan Pekerja Swasta

 

Kediri, Jawa Timur, 1 Desember 2021

* Ketua Komunitas Jawa Kuno (Kojakun) Sutasoma.

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini