Kekhawatiranku Terbukti

kekhawatiranku-terbukti
Masyarakat memenuhi Pasar Anyar Bogor saat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Foto : Camerapenjurunews

Oleh : Heru Pemungkas*

Terakota.idAwal April dalam sebuah diskusi aku sampaikan kekawatiranku terkait penanganan covid-19 di indonesia. Oleh beberapa teman pandanganku di katakan paranoid. Bahkan tidak sedikit teman dekat yang menilai pendapatku ini berlebihan.

Aku katakan pemerintah terlambat dan lambat mengambil keputusan penanganan covid-19. Dan apa yang terjadi di Indonesia sama persis, seperti yang terjadi di Amerika Serikat dalam merespon wabah covid-19. Mungkin jumlah yang terinfeksi ndak sebanyak Amarika, tapi dampaknya atau efek dominonya itu sama. Ekonomi, sosial dan merembet ke politik. Yang paling parah bisa terjadi caos, yang mengancam keamanan nasional.

Tapi sekarang apa yang aku kawatirkan itu, benar-benar terjadi dan sedang terus terjadi di Indonesia. Jumlah orang terinfeksi covid-19 makin banyak. Jumlah orang meninggal akibat covid-19 makin banyak. Akibat jumlah orang terinfeksi covid-19 makin banyak adalah, makin lamanya proses penangananya. Kalau terlalu lama, akan berimbas pada perekonomian rakyat, kalau ekonomi rakyat terganggu akan mengganggu ketertiban sosial masyarakat.

Kalau mengganggu ketertiban sosial masyarakat berarti keamanan masyarakat juga terganggu. Gejalanya juga sudah mulai terjadi, masyarakat tidak tertib mengikuti arahan pemerintah dengan banyak alasan. Akibatnya, usaha memutus rantai penularan covid-19 tidak efektif. Penyebabnya banyak, tapi baik dari sisi pemerintah maupun masyarakat sama-sama salahnya.

Pemerintah tidak tegas mengambil keputusan, sedangkan rakyatnya sulit diatur. Aparatnya juga, masih saja ada oknum yang main-main atau tidak memberikan contoh yang baik. Jadi Klop sudah pemerintahnya bingung ndak tegas, rakyatnya sak karepe dewe dan oknum aparatnya main-main.

Sekali lagi, makin banyak yang terinfeksi dan makin banyak yang mati. Makin lama penangananya, makin lama pula ketidak pastian ekonomi juga terjadi. Saya khawatir ini akan merembet ke masalah krisis sosial. Penyebabnya, banyak pekerja yang di PHK, usaha ekonomi menengah kebawah juga sulit.

Sedangkan untuk memulai usaha juga dibutuhkan modal. Mencari pekerjaan juga tidak mudah. Sedangkan perut lapar makin banyak, dan kesenjangan sosial akan makin lebar. Imbasnya ke naiknya tindak kriminalitas sebagai jalan singkat untuk mendapatkan uang. Uangnya jadi alasan untuk makan. Kondisi ini juga sudah dan sedang terjadi. Ini sudah bahaya sebenarnya. Dan akan makin bahaya jika situasi ini dimanfaatkan untuk memanaskan situasi politik nasional.

Gejalanya sudah ada, sekarang mulai bermunculan akun-akun robot baik di youtube, Instagram, Twitter dan Facebook yang menggoreng isue ini. Tujuanya jelas lengserkan jokowi. Para politikus juga sudah mulai nyari panggung dengan pernyataan di televisi, koran, radio dan berbagai media sosial seolah ingin tampil sebagai pahlawan dengan kekritisanya.

Jadi dalam kondisi seperti sekarang ini tampaknya memang agak sulit untuk pulih dalam waktu singkat. Kecuali semuanya sadar diri, pemerintah lebih tegas dalam aturanya, rakyat diberi kepastian ekonomi untuk tertib sosial. Semua harus bekerja sama dan sama sama berkorban.

Pemerintah berkorban , rakyat juga berkorban sementara waktu. Supaya wabah ini cepat selesai. Dibutuhkan saling mengerti. Kalau tidak ya udah siap-siap saja. Kita berada dalam kondisi seperti sekarang dalam jangka waktu yang lama. Banyak berdoa agar semua ini tidak berlanjut menjadi ke makin buruk. Dan semoga semuanya selamat dalam seleksi alam ini.

*Pegiat literasi tinggal di Cabot, Arkansas, Amerika Serikat

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini