Keindonesiaan Pasca Desukarnoisasi

keindonesiaan-pasca-desukarnoisasi

Terakota.idGelar Presiden Seumur Hidup dicabut. Sebutan Paduka Yang Mulia dilarang dan diganti. Hari ulang tahunnya tidak diperbolehkan dirayakan secara umum. Pengikutnya dikejar, ditangkap, dan tidak sedikit dibunuh. Demikian babak akhir kehidupan Sukarno yang berjalan hingga dirinya wafat sebagai pesakitan tahanan rumah pada 21 Juni 1970.

Sesudah itu, rezim penggantinya membunuhnya dua kali melalui Desukarnoisasi. Kini, sudahkah Desukarnoisasi benar-benar lenyap? Jika ya, Keindonesiaan pasca Desukarnoisasi perlu didefinisikan dan ditafsir ulang.

Forum ini bakal menggaris-bawahi tiga topik, Pertama, Peter Carey membandingkan historisitas Dediponegoroisasi semasa kolonial dengan Desukarnoisasi era Orde Baru.

Kedua, Maria Brigita Blessty membentangkan keterputusan konsepsi perempuan milik Sukarno dengan gerakan perempuan Indonesia kontemporer.

Pembahas terakhir mendiskusikan produk-produk politik hukum apa saja yang dibuat untuk menjatuhkan Sukarno bahkan sejak ia masih menjabat sebagai Presiden dan varian turunannya dalam realitas Keindonesiaan.

Presiden pertama Sukarno memperingati hari lahir 1 Juni. Yuk ikuti Kuliah Darurat (11) Edisi Khusus Bulan Bung Karno, dalam Rangka 5 Dekade Wafatnya Proklamator. Bertema ‘Keindonesiaan Pasca Desukarnoisasi.’

Bersama

Peter Carey
(Sejarawan, Fellow Emeritus of Trinity College, Oxford University & Adjunct Professor FIB Universitas Indonesia)

Brigita Blessty
(Peminat Studi Sukarno dalam Feminisme)

FX Domini BB Hera
(Sejarawan, Peneliti CCFS Universitas Brawijaya)

Jumat, 19 Juni 2020.
Jam 19.00-21.00 WIB

Live Instagram @heuristikid

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini