Keindahan Lukisan Citra Abstrak Pasta Plastik

Masari sadar, kantong plastik termasuk bahan berbahaya. Limbahnya sulit terurai, bahkan misalnya sudah puluhan tahun tertimbun tanah. Kantong plastik tipis jenis termoplastik yang mudah leleh juga berbahaya jika difungsikan sebagai kantong makanan. Sayangnya, belum semua masyarakat memahami bahaya kantong plastik kresek itu.

Terakota.id–Serombongan mahasiswa dan pelajar memenuhi ruangan pamer di gedung Dewan Kesenian Malang (DKM). Mereka mengamati beragam lukisan yang dibingkai di dinding ruang pamer. Aneka lukisan beraliran citra abstrak, menarik mata setiap pengunjung.

Tak sembarang lukisan, karya lukis ini menggunakan lelehan tas kresek dipadu dengan cat minyak. Perpaduan cat minyak dengan pasta plastik bekas kantong plastik alias kresek ini mencuri perhatian pengunjung yang datang.

Sebanyak 20 lukisan dipamerkan di gedung DKM. Seluruh lukisan karya perupa asli Malang, Masari Arifin. Keberanian Masari mengeksplorasi limbah kantong plastik mendapat apresiasi pengunjung.

Salah seorang pengunjung, Laili Medina tampak takjub. Matanya fokus memperhatikan setiap detail lukisan. Tangannya merogoh saku, mengambil sebuah gawai atau gadget. Dia membidik lukisan dengan kamera dalam gawai.

“Kebetulan ada tugas kuliah estetika. Saya ingin tahu bagaimana proses ide sampai teknik melukisnya,” ujar Laili. Mahasiswa semester 7 jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Malang ini penasaran dengan teknik melukis Masari.

Dia berhasil menggabungkan material sampai teknik melukis. Sedangkan limbah kantong plastik termasuk limbah yang sulit terurai. Laili tengah menggali unsur estetika dalam karya lukis, serta mengenal teknik baru dalam melukis. “Pesan sosial juga harus kuat dalam sebuah karya.”

Lalili menjelaskan jika sulit untuk membentuk plastik jadi sebuah karya lukis. Ada kepekaan dengan kondisi sekitar dalam karya ini. Masari Arifin menggelar pameran tunggal berjudul ‘Unconventional’ mulai 4 – 9 Desember 2017.

Hari terakhir pameran, ia menggelar workshop teknik melukis dengan medium kantong plastik. Sebuah limbah yang berbahaya bagi untuk lingkungan dan kesehatan jika menggunakannya secara serampangan, atau membuangnya tanpa proses daur ulang.

Eksperimen Plastik Kresek

Serombongan pengunjung mengamati detail lukisan berbahan pasta plastik karya perupa Masari Arifin di Dewan Kesenian Malang. (Terakota/Zainul Arifin).

Masari menggunakan bahan baku tas kresek limbah rumah tangga, sebagai bahan baku lukisan. Sebanyak 20 lukisan membutuhkan 500 kantong plastik. Teknik melukis diterapkan dengan cara membakar, melelehkan tas kresek dan dipadukan dengan cat akrilik di atas kanvas.

“Kesulitan terbesar pada penempatan plastik untuk komposisi sebelum dibakar. Agar menghasilkan guratan dan gestur yang tepat. Teknik pembakarannya sulit,” kata Masari.

Ide melukis dengan medium lelehan tas kresek ini timbul karena ketidaksengajaan. Sepulang menghadiri hajatan, kantong kresek pembungkus makanan kenduri leleh tanpa sengaja terbakar lilin. Lelehan tas kresek membentuk pola dan tekstur indah dan menarik. Lantas dia mengeksplorasi tas kresek menjadi lukisan di atas kanvas.

Lantas dia bereksperimen, mencoba melukis dengan bahan plastik. Berbagai alat bakar digunakan mengolah tas kresek. Mulai setrika, las dan lilin digunakan untuk membakar plastik. Segala upaya menemui kegagalan. Tak jarang plastik langsung berkobar habis, saat tersulut api. Ada juga jenis plastik yang tak bisa terbakar.

“Saya kemudian menggali lebih dalam tentang unsur kimia dan jenis plastik kresek,” ujar Masari. Akhirnya dia mengetahui jika plastik berjenis termoplastik mudah leleh jika dipanaskan dan cepat mengeras bila dingin. Serta jenis termoset atau sulit dibakar dan dihancurkan. Jenis kedua ini bahkan butuh teknologi daur ulang untuk menghancurkannya.

Masari pun menggunakan jenis termoplastik dengan pembakarannya menggunakan alat bakar gas pemantik. “Eksperimen dilakukan selama setahun. Setelah itu relatif lebih mudah, proses berkarya 20 lukisan sekitar tiga bulan,” ujarnya.

Pesan Bahaya Plastik

Perupa Masari Arifin menjelaskan teknik lukisan dan karya lukisan berbahan pasta plastik di Dewan Kesenian Malang. (Terakota/Zainul Arifin).

Masari sadar, kantong plastik termasuk bahan berbahaya. Limbahnya sulit terurai, bahkan misalnya sudah puluhan tahun tertimbun tanah. Kantong plastik tipis jenis termoplastik yang mudah leleh juga berbahaya jika difungsikan sebagai kantong makanan. Sayangnya, belum semua masyarakat memahami bahaya kantong plastik kresek itu.

“Kantong plastik dijadikan kantong makanan yang masih panas, leleh dan menempel di makanan. Tentu berbahaya jika dikonsumsi,” paparnya.

Gaya hidup masyarakat yang tetap tak mau menghindari penggunaan kantong plastik harus diubah. Masari menyebut, sampah plastik mudah dijumpai di Bank Sampah Kota Malang maupun di sekitar rumah. Ia berharap melalui pameran tunggal ini pesan bahaya plastik bisa diterima.

“Lewat karya ini setiap orang bisa memahami berkarya bisa lewat medium apa saja. Serta masyarakat semakin sadar plastik adalah bahan yang berbahaya,” katanya.

Dosen Universitas Negeri Malang, Lilik Indrawati dalam sekapur sirih untuk pameran tunggal mengatakan, setiap karya seni bisa mencerminkan setting masyarakat di mana karya seni itu dihasilkan.

“Kehidupan masyarakat itu kenyataan langsung yang dihadapi oleh seniman. Sebagai pemicu kreatifitasnya,” kata Lilik.

Menurutnya, Masari Arifin lewat karyanya menegaskan sedang menjalani peran sebagai saksi masyarakat sekaligus kritik sosial. Kegelisahan terhadap limbah di sekelilingnya mendorongnya bereksperimen dengan medium plastik kresek.

“ Di tangan seniman kreatif, medium apapun bisa menjadi bahasa yang mampu digunakan untuk menyuarakan nilai – nilai,” ujar Lilik menegaskan.

Tinggalkan Pesan