Kecerdikan dan Konsistensi Seorang Bayu Kresna Murti

Salah satu adegan dalam drama “Butho Mudun Gunung” karya dan sutradara Bayu Kresna Murti. (Foto : M Sedheli)

Oleh: Moehammad Sinwan*

Terakota.id–Ketika para penonton memasuki sebuah gedung pertunjukan, suasana ruang gedung temaram. Dua layar LCD yang dipasang sedemikian rupa (satu di pojok atas dinding belakang panggung, dan yang satunya dipasang di pojok kiri bawah, menghadap agak miring dan sekaligus untuk penutup pintu keluar masuk alat musik) menjadi pemantik penarik perhatian penonton untuk kemudian diajak mengamati kondisi tatanan panggung yang cukup unik, menarik, dan kelihatan cukup megah juga.

Sebuah panggung yang telah ditata dengan sedemikian rupa itu, membuat para penonton sangat tak sabar menanti apa yang akan terjadi. Di bagian belakang panggung, tertata berbagai alat musik dengan penuh tapi rapi, di pelataran panggung hanya terlihat lantai yang tertutup sejenis bahan tertentu berwarna hitam, sementara di sekeliling batas panggung terlihat berbagai properti unik dan menarik juga tertata dalam komposisi yang teratur.

Jika diperhatikan dengan cermat, mulai dari bagaimana bagian depan gedung ditata dan diatur, bagaimana cara penyambutan penonton, serta bagaimana ruang gedung yang tidak terlalu besar itu disulap sebagai  venue sebuah helatan seni pertunjukan, menunjukkan bahwa tim penyelenggara pertunjukan ini telah benar-benar bekerja dengan ‘rijit’, detail dan professional.

Ketika lampu gedung tiba-tiba dinyalakan dengan ‘mendadak’ sempat menimbulkan kejutan pada para penonton. Tak lama sejumlah anak-anak remaja seusia SMP pun terlihat memasuki area panggung. Mereka menempati tempat masing-masing dengan tertib tapi penuh keyakinan diri. Tak lama, sebuah alunan musik yang ritmis, harmonis, dan kadang penuh hentakan, meluncur menyapa seluruh penonton yang telah memenuhi tempat duduk yang ditata secara bertingkat.

Aksi panggung pun terus mengalir, dengan alunan musik yang penuh nuansa etnik, nyanyain, tarian, dan terus mengalir hingga dipuncaki dengan dua pertunjukan teater yang enerjik dan cukup memukau. Helatan seni pertunjukan yang berlangsung selama 3 malam berturut-turut tersebut (10-12 Januari 2019, jam 19.30 – 21.00, di Aula Seni SMPN 4 Malang), dinamai “Metronome #3”.

Diawali dengan sebuah gelaran musik dan nyanyian yang kemudian diberi judul “Paradise Song (sebuah opening)”, pentas Metronome #3 mulai mengalir dengan memikat. Karya musik yang didesain semi-orkestra, yang memadukan alat musik modern dengan gamelan ini dipilih sebagai sajian yang diharapkan  mewakili perasaan siswa PPST SMPN 4 Malang yang menganggap Kelas Seni adalah surga (paradise). 

Kemudian, dengan sebuah jalinan teknis alur pertunjukan yang ditata dengan cukup rapi, yang “dibenangmerahi” oleh dua orang MC, pertunjukan berlanjut dengan sebuah nomor tari yang berjudul “Tari Papat Lebur Dadi Sewu”. Tari ini merupakan kumpulan dari 4 garapan tari terbaik yang pernah dilahirkan oleh PPST SMPN 4 Malang. Dan konon 4 garapan tari tersebut telah meraih berbagai kejuaraan, serta sering dipentaskan dalam berbagai forum.

Tampilan pembuka “Paradise Song”, opening untuk menyambut penonton. (Foto : M. Sadheli).

Dari 4 karya terbaik itulah, kemudian di tangan seorang Ir. Tri Ida Rochana, salah seorang koreografer PPST SMPN 4 Malang, dirangkai menjadi sebuah sajian kolosal yang cukup mampu merebut perhatian penonton. Gerakan-gerakan yang cukup rancak, dengan musik kolaboratif (pentatonik dan diatonik) yang dinamis dan penuh hentakan yang menggugah gairah rasa estetika, telah berhasil menambah daya pikat musik pembuka yang cukup mendapat ‘applause’ dari seluruh penonton.

Helatan Metronome #3 ini, yang selain sebagai ajang unjuk karya juga dimaksudkan sebagai proses evaluasi pembelajaran Kelas Seni  PPST-SMPN 4 Malang, berlanjut dengan dua nomor pentas teater, yakni “Bebana Wewadi” dan “Buto Mudhun Gunung”. Kedua nomor teater ini merupakan pertunjukan yang mengangkat (bermuatan) teater tradisi, yang digarap dengan konsep dan nuansa kekinian (teater  modern).

Bebana Wewadi” adalah pertunjukan drama komedi dengan kisah yang diadaptasi dari dongeng Denmark yang berjudul Baju Baru Raja. Karya ini terasa segar karena mampu menyajikan kisah yang menggelitik dengan konsep yang menarik. Yakni dikolaborasikan dengan gamelan yang ditata menjadi artistik diatas panggung. Pertunjukan ini pada tahun 2016 berhasil meraih Juara 1 dalam ajang perlombaan antar sekolah PPST se-Jawa Timur yang biasa disebut ASP (Apresiasi Seni Pelajar) yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur.

Sedangkan “Buto Mudhun Gunung” menghadirkan kisah klasik Timun Mas, dengan sentuhan kreatifitas yang cukup cerdik dan nakal dari seorang Bayu, yang memadukan unsur akting, tari dan musik tradisional (gamelan) ini, telah mampu menjadi puncak “pengembaraan” estetika dari helatan Seni Pertunjukan, yang ternyata juga merupakan evaluasi pembelajaran bagi Kelas Seni  PPST SMPN 4 Malang. Dan karya ini pun telah berhasil meraih penghargaan sebagai Penyaji Emas pada ajang “Apresiasi Seni pertunjukan” (ASP 2018).

Secara keseluruhan, pertunjukan yang berlangsung dinamis, kreatif, dan cukup energik ini adalah sebuah pertunjukan yang dimainkan oleh anak-anak seusia SMP. Sejumlah remaja yang masih tergolong “para bocah” ini telah mampu menyajikan permainan-permainan musik, nyanyian, tari, dan teater dengan begitu menarik, apik, dan memikat.

Dan kehadiran seorang piñata musik, Cahyo Kartiko (yang juga sebagai salah satu guru Seni Budaya di SMP Negeri 4 Malang) telah berhasil membuat “mengalirnya” nomor-nomor pertunjukan yang digelar 3 malam itu menjadi tak tersendat, penuh dinamika, dan cukup mencapai harmonisasi seluruh ‘action’ di panggung. Sehingga helatan metronome #3 ini puntelah berhasil membungkam sekitar 300-an penonton (per-hari), dan memikatnya untuk dengan khusyuk menonton sajian yang terdiri dari 4 nomor pertunjukan itu.

***

Bayu Kresna Murti, alumnus kelas Bahasa SMA Negeri 9 Malang, yang lulus lebih dari 12 semester dari Jurusan Bahasa & Sastra Indonesia – Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, dan Jebolan Teater IDEōT ini, adalah seorang sutradara teater yang cerdik dan konsisten. Mantan salah seorang personil Forum Pengembangan Teater Sekolah (FPTS) yang dibentuk oleh Teater IDEōT ini, memang memiliki kecerdasan, kreatifitas, dan keunikan dalam mengeksplorasi bentuk-bentuk visualisasi teatral pada pementasan-pementasannya.

Pendekatan permainan yang karikatural, penggarapan alur yang progresif-dinamik, dengan sentuhan-sentuhan ilustrasi musik yang akrobatik dan penuh ritmis, serta dilengkapi dengan koreografi-koreografi sebagai benang merah (penyambung) adegan-adegan yang lebih dominan pada gerak-gerak dan visualisasi peristiwa, adalah kekuatan-kekuatan seorang Bayu, yang nampaknya mulai ditemukannya sebagai gaya yang khas pada garapan penyutradaraannya.

Salah satu adegan dalam drama “Butho Mudun Gunung” karya dan sutradara Bayu Kresna Murti, dalam pentas Metronome #3. (Foto : M. Sadheli).

Kepiawaiannya dalam menggarap “anak-anak remaja” setingkat SMP maupun SMA memang telah mengukuhkan dirinya sebagai seorang “tokoh” teater sekolah tidak saja hanya sekaliber di kota Malang, namun sudah pada tingkat regional dan nasional. Jika berbicara tentang lomba/festival teater sekolah di Jawa Timur misalnya, ya seorang Bayu, hampir bisa diharapkan akan menjadi juaranya. Sedangkan untuk tingkat nasional, dia pun telah membuktikan beberapa tahun berturut-turut keluar sebagai juara.

Seorang sutradara teater sekolah yang telah sangat dikenal sebagai “Tukang Juara” pada festival-festival atau lomba teater ini, gaya garapan pertunjukan teaternya disinyalir telah menjadi fenomena yang menggejala di banyak teater-teater sekolah di Jawa Timur. Banyak pihak telah mengagumi kecerdikan dan gaya eksplorasi visualnya, sehingga banyak pula di antara para pengagumnya yang mengadop atau bahkan meniru tipologi garapan teaternya.

Bahkan sempat pula terjadi semacam ‘plagiasi’ yang dilakukan oleh salah satu kelompok teater sekolah atas sebuah karyanya. Atas peristiwa plagiasi ini, sempat ramai terbincangkan di kalangan jagat teater sekolah se-Jawa Timur.

Potensi yang besar pada bidang penyutradaraan memang telah bisa terendus sejak dia terlibat aktif dalam Forum Pengembangan Teater Sekolah (FPTS) dan ketika masih aktif di Teater IDEōT. Dalam berbagai projek pementasan dan film pendek yang diproduksi oleh Teater IDEōT atau yang diproses di FPTS, dia pun sering menjadi asisten sutradara atau sudah mulai dipercayai untuk menyutradarai.

***

Dalam “Metronome #3” ini seorang bayu Kresna Murti nampaknya telah merasa menemukan sebuah perspektif dan prototipe khas dalam eksplorasi berkeseniannya. Sebuah gaya pertunjukan yang karikatural, penuh simbolik dan sangat dinamis adalah gaya yang mulai dia yakini sebagai identitas dirinya.

Eksplorasi bentuk yang memadukan gaya akrobatik property setting dengan alat musik yang dimainkan oleh para aktor yang sekaligus sebagai pemain musik adalah sebuah kekuatan khas yang dimilikinya. Permainan-permainan setting yang begitu unik dalam eksplorasi pergerakan permainan para aktornya (sebagaimana dalam pentas ”Buto Mudun Gunung” dan dalam karya teaternya “Arok-Dedes”) telah memberikan kesan pada dirinya, bahwa dia adalah sutradara dengan imaji visual yang atraktif dan simbolik.

Eksploitasi kreatifitas yang tak saja cerdas, namun sangat cerdik pada interpretasi cerita-cerita tradisi menjadi sangat teraktualisasi pada pemaknaan kekinian, merupakan salah satu keunikan sekalgus kekuatan yang tekah ditemukan pada potensi kesenimannya selama ini.

Konsistensi berteaternya juga membawanya pada intensitas eksplorasi dan penemuan-penemuannya yang pada akhirnya mulai menjadikan dirinya sebagai seorang sutradara yang memiliki ciri khas dan kekuatan yang ‘mempersonal”.

Meski pada awal perjuangan dirinya dalam memulai karir sebagai sutradara, beberapa pihak sering melihat dia adalah ‘fotocopy’ dari seorang ‘guru’ dan mantan ‘pemimpin dan sutradara’-nya ketika di Teater IDEōT, tapi perlahan tapi pasti, konsistensi pengembaraannya dalam dunia teater dan penyutradaraannya telah membawa dia menjadi “dirinya sendiri”.

Terlepas bahwa di balik seluruh keunikan dan kekuatan-kekuatan penyutradaraannya terhadap sejumlah karya pentasnya, terdapat pula kelemahan-kelemahan yang mesti ia perhatikan, diantaranya pada hal-hal: totalitas penggarapan energi dan teknik kompetensi keaktoran; kepekatan alur progres pementasan yang kadang sempat kedodoran, dan ketajam konflik yang kurang menukik (lebih bersifat impresif); serta kurang detailnya penggarapan unsur pendukung artistik, seperti misal pencahayaan dan penataan suara.

Yang jelas, seorang Bayu adalah sebuah “potensi”, yang sebenarnya sangat memiliki prospektif masa depan yang gemilang dalam perteateran Indonesia, terkhusus dalam kancah jagad teater sekolah. Namun sayangnya, tak banyak pihak yang merespon ini sebagai sebuah aset yang perlu dijaga, dikembangkan, dan bahkan dimajukan.

Sebuah potensi yang masih tetap harus menghadapi keadaan yang ‘begitu-begitu saja’, kondisi yang kurang menghargai karya dan potensi kesenimanannya, serta pihak-pihak yang tak acuh dengan segala upaya dan kosistensi perjuangannya, sungguh hal itu merupakan sebuah keprihatinan yang sangat-sangat “ironi” adanya.

Salah satu aksi para aktor, dalam style koreografi pada pementasan teater “Bebana Wewadi”, karya/sutradara Bayu Kresna Murti. (Foto : M. Sadheli).

Semoga, “kehidupannya” tak akan menjadi “sebuah ironi” juga, sebagaimana banyak kabar yang sering kita dengar, tentang ironisnya masa ‘akhir’ kehidupan banyak seniman-seniman di negeri ini, yang tak begitu ‘terhargai ketika “masih produktif’ dan giat berkarya, dan menjadi miris dan ironis di masa tuanya.

Dan kepada seorang Licin Wijaya, S.Pd., sang koordinator PPST-SMP Negeri 4 Malang, yang barangkali juga bisa dianggap sebagai seorang sahabat, teman, kakak, dan juga sebagai seorang bapak, pesan pengawalan dan pemberdayaan ini patut dititipkan. Sebab beliaulah yang diakui atau tidak, yang selama ini telah dengan tulus mengawal seluruh sepak-terjang seorang Bayu Kresna Murti, dalam kondisi yang cukup terfasilitasi, hingga semua “tingkah-polah” dalam perteateran ini terjadi.

Tapi, seorang Bayu Kresna Murti, sebaiknya harus bisa memetik sebuah sikap bijak dari seluruh kondisi memprihatinkan itu, “dia” harus tetap konsisten dengan seluruh perjuangan berkeseniannya, namun sebaiknya mulai sedini mungkin, dia harus mempunyai strategi ‘aman’ untuk ‘memprospek’ masa depannya sendiri.

Teruslah menjadi seniman teater yang mampu ‘menggarap sebuah pementasan di atas panggung’ yang mampu memukau, menghipnotis, dan memberikan banyak pelajaran bagi banyak orang, tapi awas, jangan sampai “kau” terjebak oleh ‘keasyikan dunia panggung’ yang sering membuat seseorang ‘lupa diri’ tentang hidup masa depannya sendiri!■■

Tegalgondo, 15-1-2019

*Pendiri, Pemimpin Umum & Sutradara Teater IDEōT

Email: sinwanmoehammad@gmail.com

Sanggar Teater IDEōT: PERUM IKIP Tegalgondo Asri Blok 2F No.07 Tegalgondo, Malang

Email  :  ideotteater@gmail.com / teaterideot@gmail.com

Blog    :  teaterideotmlg.blogspot.com / ideotpress.blogspot.com

FB       :  Ideot Teater

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini