Salah satu bagian film Bumi Manusia pertemuan antara Minke (Iqbaal Ramadhan) dan Annelies (Mawar Eva de Jongh), (FotoL Falcon Pictures).
Iklan terakota

Terakota.ID–Layar perak dan kaca dunia hiburan kita sangat menyukai dan memuja kecantikan Indo. Yang dimaksud dengan kecantikan Indo di sini adalah kecantikan paras dan ragawi dari para aktris (dan aktor) yang di dalam nadinya mengalir persilangan darah dan budaya. Dengan kata lain, pasangan orang tua dari para aktor dan aktris tersebut berasal dari ras atau kelompok etnis atau bangsa dan budaya yang berbeda, sehingga anak-anak mereka adalah hasil percampuran dari berbagai perbedaan tersebut.

Dari periode awal 2000-an, kita mengenal nama-nama seperti Tamara Blezinksy (campuran darah Polandia dan Sunda), Cornelia Agatha (Manado, Jawa, dan Belanda), dan Darius Sinathrya (Jawa dan Swiss). Generasi sekarang tentu tidak asing dengan nama-nama beken semacam Cinta Laura Kiehl (Jerman dan Indonesia), Cassandra Lee (Inggris dan Indonesia), Kimberly Ryder (Minang, Makassar, dan Inggris), Chealsey Islan (Indonesia dan Amerika), dan banyak sekali yang lain.

Seiring gelombang badai budaya Korea dalam beberapa tahun terakhir, terdapat pula kecenderungan untuk menyenangi, mengangkat, dan memuja citra paras dan raga Oriental. Maka, kita kini juga berpaling kepada para aktor dan aktris berdarah Asia. Kita memiliki Agnes Monica, Boy William, Ranty Maria, dan seterusnya.

Sesungguhnya, yang terepresentasikan di dunia hiburan ini bukanlah hal yang baru. Dalam kehidupan nyata, percampuran atau persilangan darah antara orang berbeda ras, etnis, bangsa dan budaya adalah hal yang sangat nyata dan wajar. Sejak zaman dulu, perkawinan beda darah sudah terjadi, dan hampir tidak ada yang, sekarang ini, dapat disebut sebagai ras murni.

Kemurnian darah dan ras bisa dipandang sebagai sebuah mitos atau sejarah masa lalu belaka. Dengan adanya perkembangan yang eksponensial dalam teknologi transportasi dan informasi dewasa ini, percampuran darah menjadi fenomena yang mestinya semakin biasa.

Meskipun merupakan sebuah fenomena sosial yang sangat wajar, tidak selamanya percampuran darah dan ‘hasil’-nya diterima oleh masyarakat luas sebagai sesuatu yang normal. Ada masanya ketika percampuran darah tersebut dipandang sebagai sesuatu yang menyimpang dan tidak dikehendaki, terutama jika itu dianggap melabrak norma dan kaidah, atau sekadar kepercayaan dan mitos, dari suatu kelompok masyarakat.

Percampuran darah semacam itu dianggap tidak wajar dan bahkan salah. Orang yang melakukan atau membiarkan terjadinya percampuran darah akan dihukum, entah secara adat atau dengan hukum positif (tentu saja, dengan dicari-cari dalilnya).

Percampuran darah terjadi karena berbagai alasan dan faktor. Dua di antaranya adalah faktor kekuasaan dan dorongan ekonomi. Dalam hal alasan yang pertama, perkawinan antardarah terjadi karena pertimbangan di mana pihak yang lebih berkuasa ingin menegaskan dominasinya atas pihak lain dengan cara memperistri perempuan dari pihak lain tersebut.

Asumsinya di sini adalah bahwa pihak yang merelakan salah anggota perempuannya menjadi istri pihak lain sama saja dengan mengakui inferioritas diri dan kaumnya sendiri di banding pihak lain tersebut. Boleh jadi pula, hal itu terjadi karena kedua belah pihak bermaksud memperkuat kontrol atau kuasa mereka dan menggabungkan kekuasaan yang sebelumnya terpisah-pisah.

Perkawinan campur darah adalah alat yang paling sederhana untuk menyatukan kekuatan. Dalam sejarah, ada banyak sekali contoh perkawinan campur darah yang dimaksudkan sebagai alat politik untuk menyatukan kekuatan. Raja-raja di Jawa memperistri perempuan dari Sumatera atau dari kerajaan-kerajaan lain, termasuk secara mistis dan gaib memperistri perempuan dari kerajaan Laut Selatan.

Anak-Anak Berdarah Campuran yang Merasa Rawan

Selalu menarik untuk mengamati bagaimana atau apa yang dialami dan dirasakan oleh mereka yang terlahir dari perkawinan campur darah. Mereka itu siapa? Apakah mereka bisa dikatakan sebagai seorang dari ras A seperti ras ayahnya atau warga negara Vanuatu karena itulah yang tertulis dalam paspornya terlepas dari fakta bahwa salah satu orang tuanya adalah warga negara Zimbabwe? Apakah dokumen legal cukup menjelaskan siapa diri mereka?

Di dalam novel pertama dari tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia), kita diperkenalkan pada beberapa tokoh berdarah campuran, yang dikenal dengan sebutan Indo. Mereka ini lahir dari pasangan berdarah Belanda dan pribumi atau penduduk asli. Setidak-tidaknya kita mengenal Annelies, Robert Mellema, Robert Suurhof, Maysaroh Marais, Kommer, dan semacamnya. Indo adalah golongan yang berada di tengah-tengah. Mereka bukan orang Eropa, tetapi juga bukan seorang pribumi.

Annelies, kita ambil sebagai contoh, terlahir dari ikatan serumah atau percampuran darah antara Hermann Mellema—seorang pegawai cum wirausahawan Belanda totok—dan Nyai Ontosoroh (d/h Sanikem). Annelies ini diperwatakkan sebagai seorang gadis yang pemalu, kekanak-kanakan, tidak mandiri secara psikologis, posesif tetapi juga seorang manajer yang terampil, cekatan. Lebih-lebih kecantikannya mampu membius banyak pemuda. Tidak kurang dari Dokter Martinet (dokter keluarga Mellema), Robert Suurhof (teman se-HBS tokoh utama kita, Minke), Magda Peters (guru sastra Minke) kagum atau jatuh hati pada kecantikan Indonya.

Percampuran darah Belanda dan Jawa menghasilkan citra ragawi yang bak dewi, lebih memesona dari Ratu Wilhelmina yang digandrungi oleh Minke. Ibunda Minke bahkan mengatakan bahwa kecantikan Annelies, sekiranya ia hidup dalam dunia pewayangan, dapat menimbulkan iri dan cemburu di antara para dewi dan perang berkepanjangan di antara para dewa yang ingin memperebutkannya. Banyak manusia akan mati karena kecantikan Indo yang menakjubkan dari Annelies.

Sayangnya bahwa memang kecantikan fisik Annelies yang ‘eksotis’ ini tidak berbanding lurus dengan nasib yang baik. Dia harus merasa berada di tengah-tengah ketidakjelasan identitas. Masa kecilnya di manja oleh papanya dan bahkan diusahakan untuk mendapat pengakuan dari pemerintah sebagai anak yang sah, meskipun akhirnya kandas. Dengan menjadi gilanya papanya, Annelies semakin bergantung dan terperangkap dalam gelegak amarah dan balas dendam ibunya. Dia tidak punya kemungkinan lain selain bergayut pada sosok ibunya yang sangat dominan. Jadilah Annelies gadis yang rawan atau fragile secara emosional dan kepribadian.

Jika Annelies dan tokoh-tokoh Indo atau peranakan dalam karya Pramoedya tersebut bergulat dengan ketidakpastian identitas karena wadagnya, karena tubuhnya, ada sebuah pergulatan lain yang lebih bersifat intelektual karena percampuran nilai dan pengetahuan. Pergulatan identitas ini terjadi karena tokoh-tokoh yang dimaksud mendapatkan pendidikan di sekolah kolonial, di mana mereka diajari nilai-nilai Barat lengkap dengan kekaguman yang agak naifistik terhadap modernitas dan perkembangan pengetahuan dan teknologi yang dibawa oleh Barat (Eropa adalah guru, yang tidak mungkin salah), tetapi mereka lahir, tumbuh, dan bergaul dengan realitas kolonial yang serba tidak adil dan melarat.

Pergulatan semacam ini sangat jelas terlihat pada tokoh utama tetralogi yakni Minke. Dia lahir di lingkungan yang sangat Jawa, menjunjung tinggi nilai-nilai kepriyayian, dan sangat sadar akan posisi dalam birokrasi kolonial. Namun, dalam pelajaran-pelajarannya Minke diajari tentang nilai-nilai Barat yang demokratis, egaliter, dan individualis; yang berseberangan dengan nilai-nilai keluarganya. Awalnya Minke selalu beranggapan bahwa yang berasal dari Barat selalu benar dan modern dan karenanya lebih baik. Dia bahkan berujar siap dibuang dari keluarga demi memeluk nilai-nilai Barat yang amat dikaguminya.

Akan tetapi, seiring pengalaman dan perjumpaannya dengan realitas kolonial, terkhusus dalam hubungannya dengan Nyai Ontosoroh dan putrinya yang jelita, Annelies, Minke menyadari bahwa ‘guru Eropa’-nya adalah sosok yang berstandar ganda: manis di luar, tetapi kejam di dalam. Minke yang sudah membenci nilai-nilai feodal dalam budaya orang tuanya, kini juga tidak bisa memeluk begitu saja nilai-nilai Barat yang pernah dikaguminya.

Minke adalah Indo, tidak dalam pengertian paras dan raganya, tetapi dalam dunia intelektualnya. Dia tidak bisa disebut sebagai orang Jawa yang memeluk adat-istiadat dan tata nilai kejawaan, pun dia bukan orang Belanda karena dia menyadari wajah Janus dalam pemikiran dan cara bertindak Barat.

Jika Annelies dan tokoh-tokoh Indo karena darah campuran mengalir di nadi mereka banyak yang merasa rawan dan tidak sanggup menemukan ceruk bagi identitas mereka, Minke mengalami banyak hal untuk sampai pada keputusan untuk membentuk ceruk beridentitasnya sendiri. Tetapi, itu tidak mudah dan penuh dengan perjuangan dan pengorbanan.

Intinya, bagi seseorang yang tidak dapat dengan natural mengatakan siapa dirinya—entah dalam tataran ragawi, atau tataran intelektual—dia perlu menciptakan ruangnya sendiri. Di dalam prosesnya, ada yang berhasil, tetapi banyak yang tidak sanggup. Posisi di tengah adalah posisi yang rawan. Posisi creole adalah posisi yang ditandai oleh rasa meriang. Saya bukan seperti dia atau yang lain. Saya adalah campuran banyak hal, yang membuat saya nggregesi.

 

 

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini