KCF : Berdampingan dan Beradaptasi dalam Pandemi

Kampung Cempluk Festival-11 Menyatukan kedua sistem, pemandu acara bisa secara langsung berinteraksi dengan peserta dan seniman yang hadir di virtual stage. (Foto: KCF).

Terakota.idSejumlah seniman dari luar negeri akan tampil dalam Kampung Cempluk Festival (KCF) ke 11.  Sejumlah musisi yang hadir berasal dari Skotlandia, Amerika Serikat, dan Prancis. Selain itu, hadir pula seniman nusantara mulai dari Yogyakarta, Bali, Pontianak, Garut, Bandung, dan Surabaya.

“Tidak ketinggalan warga kampung cempluk sendiri juga tampil” kata tim acara karang taruna, Della dalam siaran pers yang diterima Terakota.id.

Keseruan acara bisa dinikmati pada 18 September 2021 dalam dua sesi. Sesi pertama pukul 13.00 WIB menghadirkan obrolan kampung bersama para pembakti kampung melalui platform zoom. Sesi kedua, pukul 19.00 hingga 23.00 pagelaran seni budaya menampilkan  beragam musisi dan seniman.

Menggunakan teknologi Unreal dan Aximetri yang didukung Tim Kreatif Holution Studio Malang. Visualisasi tampilan virtual menggambarkan bentuk kampung masa depan. Interpretasi dari pemikiran karang taruna kampung cempluk diproduksi dengan memunculkan sisi artifisial oleh tim kreatif.

Menyatukan kedua sistem, pemandu acara bisa secara langsung berinteraksi dengan peserta dan seniman yang hadir di virtual stage. Panggung virtual dalam KCF ini merupakan kali kedua, setelah tahun sebelumnya juga dilakukan hal yang sama. Tim KCF tetap menunjukkan eksitensi dengan bersiasat dalam situasi pandemi.

Festival kampung ini disebut juga sebagai hari raya kebudayaan kampung cempluk. Meskipun berbentuk virtual, KCF menghadirkan pertunjukan seni budaya yang menjadi kearifan lokal.

“Pandemi menuntut  kampung cempluk untuk beradaptasi dan berdampingan dengan perkembangan teknologi Informasi dan komunikasi,” ujarnya.

Para pemuda kampung cempluk yang tergabung dalam karang taruna, selalu bersemangat mengeksplorasi segala kreativitas dan inovasi dalam menggelar KCF. Mengangkat tema “Meluaskan Pandangan serta mempertajam Pikiran.” Sebuah penggalan catatan bapak pendiri Bangsa, Mohammad Hatta.

Kalimat tersebut, katanya, memiliki makna yang sangat luas dan cocok dengan kondisi yang terjadi saat ini. “Fenomena yang terjadi saat ini menuntut kita, kaum muda dan sebagai masyarakat Indonesia, harus membuka wawasan untuk selalu haus belajar,” ujarnya.

Tema ini juga mendorong pola baru untuk tetap mempertajam mata dan pikiran, serta kepekaan kolektif terhadap sesama warga kampung. Kolaborasi dan gotong royong harus tetap dilindungi, dijaga dan diberdayakan sebagai kearifan lokal kampung.

Penasaran kan? Mari menikmati live streaming di channel youtube TIPI KAMPUNG.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini